Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi merupakan proses daur atau siklus dalam berbagai macam bentuk melalui proses evaporasi dari lautan dan badan-badan air yang ada di daratan (danau, sungai, dan lain-lain) dan transpirasi dari vegetasi, ke udara sebagai reservoir uap air, proses kondensasi kedalam bentuk awan ataupun ke dalam bentuk-bentuk pengembunana yang lain (embun, kabut, dan frost) lalu kembali lagi ke daratan dan lautan dalam bentuk presipitasi (Hidayati 1994).
Gambar 1. Siklus hidrologi adalah tahap-tahap yang dilalui oleh air dalam berbagai bentuk, dari atmosfer, ke bumi dan kembali ke atmosfer (Wilson, 1969; Seyhan, 1977).

Evaporasi dan transpirasi menambah uap air ke atmosfer, kemudian terjadi kondensasi (dalam bentuk embun, embun beku tetes awan, dan tetes hujan) dan pembentukan awan. Lalu terjadi presipitasi yang jatuh dalam bentuk salju atau hujan (Tjasyono 2000). Presipitasi jatuh ke bumi (ground), permukaan air (water surface) atau ke permukaan vegetasi (vegetation surface). Presipitasi yang mencapai vegetasi, beberapa tertahan di canopy dan akhirnya menguap lagi dan yang lainnya jatuh melalui batang vegetasi, menetes dari canopy, atau tergoyangkan oleh angin dan mencapai bumi (ground).
Setelah sampai bumi, air akan mengalami infiltrasi ke dalam permukaan. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis tanah (soil type), kondisi dan kandungan air (condition and moisture content) (Barry dan Chorley 1977). Pengaruh infiltrasi sangat luas terhadap permukaan buatan manusia seperti jalan besar (roads), jalan kecil (paths), ataupun gedung bangunan (buildings). Jika intensitas hujan lebih besar dari laju infiltrasi maka air akan menimbun di depresi permukaan (surface depressions). Ketika penekanan penuh, air mulai begerak melalui permukaan, biasanya ke arah saluran air. Ketika semua air tersalurkan, sheet flow terjadi, terutama pada area yang memiliki vegetasi yang sangat sedikit. Kemiringan dan penutupan vegetasi mempengaruhi laju pergerakan air yang melalui permukaan dan mulai dari sini waktu tersedia untuk infiltrasi. Beberapa air tersimpan di depresi akan menguap dan beberapa akhirnya akan meresap ke dalam tanah.

Air yang memasuki tanah akan mengalami penguapan kembali ke atmosfer, dan juga dari vegetasi (transpirasi). Di lapisan atas tanah, pergerakan lateral sub-permukaan air (through-flow) mungkin luas dan mencapai sungai dan danau. Beberapa air bisa menyerap hingga lapisan yang lebih dalam untuk menjadi air bumi (ground water) yang akan tersimpan dalam periode yang sangat panjang. Air bumi dapat naik melebihi batas kedalaman oleh gaya kapiler (capillary action) dimana bisa berevaporasi ataupun melalui tanaman (transpirasi). Beberapa air bumi, oleh gerakan lateral, akhirnya dapat menyerap ke dalam aliran sungai, danau, laut, atau samudera. Semua air tawar (fresh water) di bumi berasal dari air hujan. Air yang mencapai permukaan air terbuka, baik langsung dari presipitasi maupun tidak langsung, sebagian akan menguap dan yang lainnya meresap ke dalam air bumi.
Siklus hidrologi terjadi secara aktif di daerah tropika basah karena presipitasi dalam bentuk curah hujan lebih besar daripada evaporasinya. Sebaliknya di daerah gurun, siklus hidrologinya pasif karena evaporasi terjadi setiap ada ketersediaan air, tetapi di daerah ini presipitasi sangat kurang. Oleh karena itu ada transfer air atau uap air agar ada keseimbangan yaitu meliputi siklus meridional yang memindahkan uap air antara sbuk lintang yang berbeda dan siklus yang meliputi pertukaran lengas antara daratan dan lautan. Pertukaran ini terjadi antara daratan ke lautan dan juga sebaliknya.

Transfer uap air antara daratan dan lautan terjadi bersama-sama dengan angin darat dan angin laut. Biasanya, air laut lebih lembab daripada angin darat. Transfer laut juga terjadi melalui limpasan. Sebesar 20% presipitasi dikembalikan kelautan, dan sebesar 80% kembali ke atmosfer melalui penguapan dan transpirasi (Hidayati 1994).

Barry, RG, R J Chorley. 1968. Atmostphere, Weather, and Climate. London: Methuen
Hidayati, Rini. 1994. Klimatologi Dasar. Bogor: Pustaka Jaya
Tjasyono, Bayong. 2000. Pengantar Geosains. Bandung: Penerbit ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s