The Boy in The Striped Pyjamas

Pertama kali malihat buku ini, saya langsung pengen beli. Tapi, karena lagi ngga punya duit jadi, saya suruh temen ku aja yang beli, nanti saya pinjem. Hehehe. Yang penting kan kita tau isi ceritanya. Buku ini dikarang oleh John Boyne pada tahun 2006 dan merupakan novel dewasa. Kalo kita beli buku pasti lihat sampul belakangnya dulu supaya tau ringkasan ceritanya. Tapi, ngga di buku ini. So, mari kita lihat ringkasan cerita yang saya buat.
Dalam buku ini menceritakan tentang kehidupan pada masa penguasaan Adolf Hitler. Seorang anak kecil bernama Bruno ialah anak seorang komandan pada masa itu. Ia tinggal di Berlin, Jerman bersama ayah, ibu, dan kakak perempuannya Gretel. Bruno sangat senang tinggal di rumahnya di Berlin yang memiliki llima lantai dan dapat melihat pemandangan yang indah di loteng atas. Ia pun memiliki sahabat bernama Martin, Daniel, dan Karl. Hingga suatu saat ayahnya mengajak makan malam The Fury (sebutan untuk Hitler dari kata Der Führer yaitu pemimpin yang memegang kekuasaan penuh, sedangkan The Fury adalah kemurkaan) di rumahnya. Dan ia ditugaskan di suatu tempat yang jauh.
Bruno tidak menyukai tempat barunya. Rumahnya kini hanya memiliki tiga lantai dan ukurannya lebih kecil. Yang lebih parah lagi, ia tidak memiliki teman main yang dulu ia punya di rumahnya yang lama. Bruno tidak mungkin mengajak bermain Gretel, karena menurutnya, kakaknya tersebut sangat payah, selalu mengganggu Bruno, serta mengejeknya. Tak ada yang menarik dari rumah tersebut, sama sekali. Di kamarnya ia bisa melihat pagar kawat yang sangat tinggi dan di seberangnya banyak anak laki-laki, bapak-bapak, dan kakek-kakek yang berkeliaran disana memakai piyama bergaris. Ada beberapa pondok kecil yang mereka tinggali.
Ia memiliki pengasuh bernama Maria yang dibawa dari rumahnya dulu di Berlin. Maria sangat baik terhadap Bruno meskipun sangat pendiam. Di rumahnya yang baru ini, Bruno memiliki juru masak bernamam Pavel. Ia menolong Bruno saat jatuh dari ayunan yang ia buat sendiri dari ban bekas. Ternyata, Pavel itu seorang dokter, atau bisa dibilang bekas dokter. Ia terjebak dalam dunia di balik pagar dengan orang berpiyama.
Sampai pada titik kebosanannya yang paling tinggi, Bruno memutuskan untuk berpetualang. Ia menyusuri jalan depan rumahnya, taman, dan akhirnya sampai di depan pagar kawat. Disana ia menemukan seorang anak kecil yang kurus dan kotor yang memakai baju piyama bernama Shmuel. Shmuel dan Bruno memiliki tanggal lahir yang sama, yaitu 15 April 1934. Sejak saat itu, Brumo selalu mengunjungi Shmuel pada sore hari dan memutuskan untuk membawa sedikit makanan untuk Shmuel, dan sejak saat itu pula Bruno mulai melupakan kehidupannya di Berlin.
Ia sudah berinteraksi bersama Shmuel selama kurang lebih setahun, mereka saling bertukar cerita. Karena Shmuel, sekarang ia tahu bahwa sekarang ia tinggal di Polandia, bukan di Jerman.
Hingga pada suatu saat, ibu Bruno memutuskan untuk mengajak kembali anaknya ke Berlin. Sebetulnya Bruno sangat sedih karena harus meninggalkan Shmuel. Tetapi ia tidak bisa menolak ajakan ibunya itu. Ada sedikit hasrat untuk kembali ke kehidupan lamanya. Pada pertemuan sore yang sudah beratus-ratus kali sejak bertemu Shmuel, Bruno memiliki ide untuk memasuki wilayah bagian seberang pagar. Sepertinya itu bukan ide yang bagus, tapi apa salahnya ia bermain bersama sahabat yang sudah ia kenal setahun terakhir ini.
Tiba saatnya pada sore terakhir ia bertemu Shmuel, ia dipinjami baju piyama bergaris oleh Shmuel. Bruno merangkak lewat bawah pagar kawat, dan ia tidak menyangka akan seperti ini. Sersan-sersan berkata-kata kasar dan semua orang berpiyama menunduk dengan dalam dan tampak sedih. Awalnya Bruno ingin berbalik tetapi Shmuel menagih janjinya untuk membantunya mencari Papa nya yang hilang beberapa hari lalu. Jadi, Bruno pun harus menepatinya. Setelah setengah jam mencari, para serdadu meniupkan peluit dan menyuruh agar para tahanan berbaris. Hujan turun begitu lebat. Bruno terjebak dalam barisan dan saat ia akan kembali, ia terdorong oleh orang-orang berpiyama itu, kedalam sebuah ruangan yang lebih hangat dari suhu di luar. Keadaan menjadi gelap saat terdengar suara pintu tertutup. Bruno saling berpegangan tangan dengan Shmuel.

Cover Buku

Setelah kejadian tersebut, ayah<ibu, termasuk Gretel mencari Bruno. Hingga akhirnya mereka menemukan pakaian Bruno tergeletak di dekat pagar. Ayahnya membayangkan apa yang terjadi pada adaknya setahun yang lalu, tepat saat Bruno menghilang. Dan ia jatuh berlutut di tanah dengan membayangkan apa yang terjadi.
Yang terjadi adalah NAZI melakukan pembantaian massal dengan memasukkan mereka ke dalam sebuah ruangan yang diisi dengan gas beracun agar mereka tidak merasa iba saat melakukan pembantaian tersebut. klik link ini http://www.ushmm.org/wlc/id/article.php?ModuleId=10005144
Jadi, yang terjadi pada Bruno, Shmuel, dan orang-orang berpiyama lainnya adalah, mereka telah terbunuh pada saat pembantaian massal di Auschwitz.

2 pemikiran pada “The Boy in The Striped Pyjamas

  1. aku udah nonton filmnya, tapi belum pernah baca bukunya. padahal penasaran terus setiap liat di toko buku, tapi nggak pernah jadi kebeli.😦
    filmnya memang suram, apalagi ujung-ujungnya.
    itu gas beracun toh. aku kira mereka dibakar. :S
    tapi aku selalu suka film-film yang setingnya jaman dulu kayak gini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s