Luapan Ciliwung

Banjir tahun 2007 merupakan banjir terbesar selama 200 tahun terakhir. Hujan mengguyur kota Jakarta selama 76 jam berturut-turut dalam intensitas lebih dari 100mm per jam. Curah hujan diatas 100mm per jam termasuk hujan yang ekstrem. Jakarta memiliki daerah resapan yang kurang untuk menampung banyaknya air yang jatuh. Seharusnya, air dapat ditahan oleh kanopi tanaman (intersepsi) dan diserap oleh lahan bervegetasi.Banjir bandang ini mengakibatkan kerugian yang mencapai Rp. 9 milyar.
Banjir yang terjadi baru-baru ini, terjadi karena hujan yang terjadi tanggal 18 November 2011 di Bogor mengakibatkan genangan di wilayah kelurahan Bidara Cina dan Kampung Melayu dengan ketinggian air 80-150 cm. Banjir yang diakibatkan oleh luapan Ciliwung ini merendam tak kurang dari 1500 rumah penduduk dikawasan tersebut. Luapan sungai Ciliwung ini tidak semata-mata akibat tingginya curah hujan, tetapi juga akibat sampah yang terkumulasi sepanjang sungai ciliwung. Bahkan ada salah satu TPA di Bojong Gede yang dilalui oleh sungai Ciliwung dan sampah akan terbawa saat air sungai sedang tinggi.

Daerah aliran sungai Ciliwung yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air malah digunakan sebagai daerah pemukiman penduduk yang padat. Alhasil, jika curah hujan di Bogor meningkat pada musim penghujan, sungai Ciliwung tak mampu lagi menahan debit air yang begitu besar dan air tidak bisa diserap oleh DAS Ciliwung. Hilir sungai Ciliwung yang berada di kota Jakarta yang padat penduduk, airnya akan meluap dan menggenangi ibukota.

Puncak musim hujan du daerah Jakarta dan sekitarnya adalah pada bulan Januari dan Februari dengan curah hujan rata-rata 400-500mm per bulan. Drainase hanya mampu menampung hujan sekitar 40 milimeter per jam selama dua jam berturut-turut. Sedangkan kali hanya 70 milimeter per jam selama dua jam berturut-turut dan Kanal Banjir Timur dan Barat hanya mampu menahan hingga 500 milimeter per jam yang biasanya hanya ada pada banjir ratusan tahunan.
sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai besar yang mengirimkan limpasan air hujan dari Bogor ke Jakarta adalah sungai Ciluwung. Bogor yang disebut sebagai kota hujan memiliki curah hujan yang tinggi, apalagi pada puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari. Kota yang terletak di selatan Jakarta ini memiliki curah hujan rata-rata mencapai 3000-4000 mm/tahun. Sungai Cisadane dan Ciliwung hanya mampu menampung limpasan air hujan yang mencapai 400-500 mm/bulan. Nilai tersebut diasumsikan terdapat DAS yang mampu meresap air yang berlebih, sedangkan pada kenyataanya, sekarang di daerah aliran sungai Ciliwung pada tahun 2000 luas tutupan hutannya 4918 hektar (9,43 %) dan berkurang menjadi 4162 hektar (7,98%) pada tahun 2005. Pada tahun 2007 kembali mengalami penurunan yang signifikan, dimana luas tutupan hutannya tinggal 1665 hektar (3,19%) dan terakhir berkurang menjadi 1265 hektar (2,42 %).
Nyayu Fatimah Zahroh
Department of Geophysics and Meteorology
Bogor Agricultural University

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s