PENGARUH IKLIM TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura Fabricius) PADA TANAMAN KACANG KEDELAI (Glycine max (L.) Merill)

PENGARUH IKLIM TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura Fabricius) PADA TANAMAN KACANG KEDELAI (Glycine max (L.) Merill)

 

Oleh: Nyayu Fatimah Zahroh

G24090048

Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, IPB

  1. I.              Pendahuluan

Hama dan penyakit merupakan sesuatu yang tidak bisa lepas dari tanaman. Jumlah hama dan penyakit yang tak terkendali dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman yang menjadi inang bagi hama dan penyakit tersebut, oleh karena itu sering disebut organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT dapat menyerang organ tanaman yang mengakibatkan kerusakan fisik, menimbulkan gangguan fisiologi dan biokimia, serta kompetisi dalam memperebutkan unsur hara atau makanan. Dampak yang ditimbulkan dari kerusakan tanaman ini yang paling utama adalah penurunan hasil produksi dari tanaman tersebut yang juga merugikan manusia yang mengambil manfaat atau hasil dari tanaman.

Wilayah serangan dari hama dan penyakit juga beragam, mulai dari skala mikro hingga skala makro. Persebaran dari hama dan penyakit salah satunya dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim seperti suhu udara, kelembaban, radiasi, dan curah hujan.

  1. II.           Hama ulat grayak (Spodoptera litura)

Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan hama yang sering dijumpai pada tanaman pertanian seperti cabai, bawang merah, dan kedelai. Hama ini dapat menyerang suatu tanaman dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak. Organisme pengganggu tanaman (OPT) ini menggrogoti bagian daun mulai dari tepi hingga bagian atas atau bawahnya bahkan hingga tersisa epidermisnya saja. Jika daun suatu tanaman rusak, maka tanaman tidak dapat fotosintesis dan tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman tersebut.

Bentuk dari ngengat ini adalah berwarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depannya, telur diletakan berkelompok, berbulu halus seperti disaluti kain laken, dalam 1 kelompok telur terdapat sekitar 350 butir. Warna larva bervariasi, mempunyai kalung hitam pada segmen abdomen yang keempat dan kesepuluh, pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Ulat menyerang daun dan bila populasi ulat lebih banyak dapat menyerang umbi. Pupa berwarna coklat gelap dan terbentuk dipermukaan tanah.

Ulat grayak mempunyai banyak tanaman inang (host) seperti tanaman tomat, kentang, bawang, kubis, terung, dan kacang-kacangan. Gejala yang ditimbulkan dari ulat grayak adalah daun tampak berupa bercak berwarna putih transparan. Ulat masuk ke dalam daun dengan jalan melubangi ujung daun pada saat stadia larva, kemudian menggerek permukaan bagian dalam daun, bagian epidermis luar daun ditinggalkan, akibatnya daun mengering.

Serangan hama ulat grayak datang secara mendadak secara serempak dalam jumlah yang besar dan berkelompok, bermula dari kupu-kupu berwarna ke abu-abuaan, panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan berat pada umumnya terjadi pada musim kemarau, dan menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat. (Marwoto dan Suharsono 2008).

  1. III.        Tanaman kacang kedelai (Glycine max (L.) Merill)

Kedelai merupakan komoditas yang penting di Indonesia karena sering dikonsumsi berupa makanan dan minuman dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah masih mengimpor kebutuhan kedelai karena petani kedelai tidak mampu memproduksi kedelai untuk memenuhi kebutuhan per kapita. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Pertanian Haryanto mengatakan, impor kedelai Indonesia mencapai 60 persen. Apalagi jika hama dan penyakit menggangu perkembangan tanaman tersebut yang juga mempengaruhi produksi kedelai. Salah satu jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menyerang tanaman kedelai adalah ulat grayak.

Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan panjang hari karena kedelai termasuk tanaman hari pendek. Artinya, tanaman kedelai tidak akan berbunga bila panjang hari melebihi batas kritis, yaitu 15 jam perhari. Oleh karena itu, bila varietas yang berproduksi tinggi dari daerah subtropik dengan panjanghari 14 – 16 jam ditanam di daerah tropik dengan rata-rata panjang hari 12 jam maka varietas tersebut akan mengalami penurunan produksi karena masa bunganya menjadi pendek, yaitu dari umur 50 -60 hari menjadi 35 – 40 hari setelah tanam.

Pengaruh suhu terhadap tanaman kedelai mempengaruhi tanaman tersebut dalam pembungaan dan pembentukan polong. Suhu yang optimum untuk kedelai adalah 20°C-30°C, apabila pada fase pembungaan adalah 24°C-25°C. Polong kedelai terbentuk optimal pada suhu 26,6°C – 32°C, pada suhu yang tinggi dapat mengganggu kelembaban tanah akibat meningkatnya laju evapotranspirasi dan proses metabolisme yang terjadi akan lebih tinggi (Lamina 1989). Kelembaban udara yang optimal untuk pertumbuhan tanaman kedelai berkisar antara 75%– 90% (Adisarwanto 2008). Tanaman kedelai sebenarnya cukup toleran terhadap cekaman kekeringan karena dapat bertahan dan berproduksi bila kondisi cekaman kekeringan maksimal 50% dari kapasitas lapang atau kondisi tanah yang optimal (Adisarwanto 2005).

Suhu optimal pada fase perkecambahan adalah 30°C sehingga dapat berkecambah dalam waktu 4 hari setelah tanam (HST). Apabila suhu tanah rendah (kurang dari 15°C) maka munculnya kecambah akan lama setar 2 minggu. Apabila suhu tanah tinggi yaitu diatas 30°C maka banyak biji yang mati karena respirasi dalam biji tinggi.  Suhu tanah optimum untuk perkecambahan tanaman kedelai adalah 30°C.

Kebutuhan air untuk tanaman kedelai juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar dapat tumbuh optimum. Kebutuhan air tanaman kedelai selama masa pertumbuhan kedelai adalah 350-450 mm. Kebutuhan radiasi untuk tanaman kedelai lebih tinggi dari kebutuan radiasi untuk padi dan singkong. Minimum intensitas radiasi surya untuk tanaman kedelai adalah 216 sampai 576 cal.  (Kassam 1978, Sakamoto dan Shaw 1967, Rose 1969).

  1. IV.        Pengaruh iklim terhadap perkembangan hama ulat grayak pada tanaman kedelai

Kondisi iklim disuatu wilayah mempengaruhi perkembangan telur, larva,dan imago ulat grayak. Musim kemarau merupakan musim dimana ulat grayak dapat berkembang dengan pesat dibandingkan pada musim hujan. Hal tersebut karena pada musim hujan, telur-telur ulat grayak akan terbawa air hujan dan akan mengalami pembusukan sehingga tidak bisa menetas. Sedangkan pada musim kemarau, suhu cukup mendukung untuk perkembangan telur menjadi larva dan kelembaban umumnya rendah pada musim, kemarau. Jika suhu dan kelembaban tidak mendukung, maka larva tidak akan berkembang.

Kondisi iklim untuk pertumbuhan pada tanaman kedelai adalah cukup tinggi yaitu 75%-90% tetapi tanaman ini mampu bertahan hingga kelembaban mencapai 38% – 45%.  Saat tanaman masih dapat bertahan dalam kelembaban yang rendah (musim kemarau), maka ulat grayak mulai menyerang. Hal tersebut karena hama ulat grayak sangat baik berkembang saat kondisi kelembaban kering.

Hama ulat grayak menyerang dengan cara merusak daun sehingga mengganggu proses fotosintesis untuk pembentukan polong. Pengisian polong pada kedelai membutuhkan energi yang besar. Untuk mendapatkan radiasi yang besar, perlu dilakukan penamanan pada musim kering atau kemarau agar kebutuhan radiasi dapat terpenuhi (radiasi yang dibutuhkan tanaman kedelai adalah 216 sampai 576 cal ) . Radiasi pada musim kemarau berkisar pada 325 – 454 cal. .

Jika tanaman kedelai ditanam pada musim kemarau kemungkinan akan terserang hama ulat grayak akan besar dibandingkan dengan penanaman pada musim hujan, karena hama ulat grayak dapat berkembang pada kondisi kemarau. Namun, jika tanaman kedelai ditanam pada musim hujan, kebutuhan akan radiasi untuk fotosintesis tidak akan cukup untuk pengisian polong tetapi ulat grayak akan terbawa air hujan.

Salah satu kasus serangan hama ulat grayak terhadap tanaman kedelai adalah yang terjadi di Gresik, Jawa Timur pada bulan Agustus 2010 (Kompas 30 Agustus 2010). Serangan hama tersebut terjadi pada musim kemarau dimana curah hujan pada bulan tersebut adalah 12,6 mm (Dephut 2002). Hama tersebut menyebabkan warna kekuning-kuningan pada daun tanaman kedelai.

  1. V.           Pengandalian hama ulat grayak

Pengendalian hama ulat grayak dapat dibagi menjadi empat macam yaitu, kultur teknis, fisik dan mekanis, secara biologi, serta kimiawi. Kultur secara teknis dilakukan dengan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman yang bukan inang, penanaman bibit tanaman yang toleran atau resisten terhadap serangan ulat grayak, dan penanaman secara serempak dalam satuan kawasan/sentra.

Ulat Grayak Pada Tanaman Kedelai

Sedangkan secara mekanis, persebaran ulat bulu dapat dicegah dengan  sanitasi/menjaga kebersihan kebun dari serasah dan gulma terutama disekitar tanaman dan mengumpulkan kelompok telur dan ulat grayak bawang sejak tingkat serangan dini/ringan dengan memasukan kedalam kantung plastik untuk dimusnahkan. Secara biologis, biasanya memanfaatkan musuh alami parasitoid, seperti Pollites sp., lalat Tritaxys braueri, Cuposera varia dan labah Telenomus sp, predator seperti capung, dan memanfaatkan aneka tanaman biopestisida selektif. Apabila cara pengendalian lainnya tidakdapat menekan populasi serangan ulat, apabila populasi kelompok telur (musim kemarau) telah mencapai 1 kelompok/10 rumpun atau 5 persen daun terserang/rumpun atau (musim hujan) telah mencapai 3 kelompok/10 rumpun atau 10 persen daun terserang/rumpun aplikasi insektisida selektif dan efektif sesuai dosis/konsentrasi yang direkomendasi.

Pemberian insektisida pada tanaman kedelai harus diberikan sebelum ulat memasiki instar 4 dan 5 karena jika sudah masuk instar tersebut maka hama ulat grayak akan cukup sulit untuk dibasmi dengan insektisida (Arifin 1986). Jadi, pengendalian hama ulat grayak harus cepat, yaitu pada instar ke satu hingga ketiga karena pada instar tersebut, hama ulat grayak masih rentan terhadap insektisida (Laba dan Soekarna 1986).

  1. VI.        Kesimpulan

Hama ulat grayak merupakan salah satu organisme pengganggu pada tanaman kedelai. Hama ulat grayak dapat berkembang dengan baik pada kelembaban yang kering, sedangkan tanaman kedelai dapat tumbuh pada kelembaban yang tinggi namun masih bisa bertahan pada kelembaban yang redah. Suhu yang optimal untuk perkecambahan kacang kedelai cukup tinggi yaitu 30°C dan dalam pembentukan polong diperlukan suhu 26,6°C hingga 32°C, pada suhu tersebut hama mulai berkembang (kelembaban rendah). Jika penanaman dilakukan pada musim hujan, kebutuhan air terpenuhi, hama ulat grayak dapat tercuci atau terbawa air. Tetapi pada musim hujan, kebutuhan radiasi untuk tanaman tidak tercukupi. Apabila ditanam pada musim kemarau, hama akan berkembang dengan pesat walaupun kebutuhan radiasi tanaman terpenuhi, tetapi kebutuhan akan air tanaman tidak tercukupi.

Daftar pustaka

Arifin, M., F. Djapri dan I M. Samudra. 1986. Kematian, perkembangan dan daya rusak ulat grayak, Spodoptera litura F. akibat residu monokrotofos pada kedelai. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan. 1 (Palawija): 69-73.

Fattah Abdul dan Hamka. 2011. Tingkat serangan hama utama padi pada dua musim yang berbeda di Sulawesi Selatan. Makalah. Komda Sulawesi Selatan dan Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan

Laba I. W. dan D. Soekarna. 1986. Mortalitas larva ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada berbagai instar dan perlakuan insektisida pada kedelai. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan. 1 (Palawija): 64-8.

Lamina, 1989. Kedelai dan Pengolahannya. Simpleks, Jakarta.

Marwoto dan Suharsono. 2008. Strategi dan komponen teknologi Pengendalian ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius) pada tanaman kedelai. Jurnal Litbang Pertanian, 27(4),

Purnomo Eddy. 2011. Pengendalian dampak perubahan iklim terhadap perkemangan organisme pengganggu tanaman (OPT) serta pengendaliannya. BBPP Ketindan.

Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan. 2002. Data dan informasi kehutanan propinsi Jawa Timur. Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan

Satu pemikiran pada “PENGARUH IKLIM TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura Fabricius) PADA TANAMAN KACANG KEDELAI (Glycine max (L.) Merill)

  1. Ping balik: PENGELOLAAN HAMA ULAT GRAYAK | PERHIMPUNAN ENTOMOLOGI INDONESIA – PERHIMPUNAN FITOPATOLOGI INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s