Makan Apa Kita Hari Ini?

Setiap orang mungkin setiap hari mengatakan, makan apa kita hari ini?. Itu merupakan pertanyaan yang sangat wajar. Tapi, tahu kah kamu bahwa pertanyaan tersebut memiliki persepsi lain bagi beberapa orang tua yang pernah mengalami masa jajahan perang?. Hari ini saya mendengar cerita dari nenek saya, kalau pada jamannya, pertanyaan “makan apa kita hari ini ?” merupakan pertanyaan yang tidak sopan. Mungkin ia bisa dimarahi oleh orang tuanya karena menanyakan hal tersebut. Mereka memakan apa yang ada, tidak memilih-milih makanan seperti yang kita lakukan sekarang.

Ada tiga pertannyaan mengenai makan untuk hari ini. Pertama adalah “makan apa kita hari ini?”. Pertanyaan tersebut termasuk wajar bagi kita yang hidup pas-pasan (pas mau pas ada). Untuk saya sebagai mahasiswa biasa menanyakan hal tersebut, karena kita tidak dimasakkan makanannya oleh orang rumah. Pertanyaan tersebut masih menimbang soal jenis dan harga makanan tersebut.

Pertanyaan yang lain adalah “makan dimana kita hari ini?”. Pertanyaan tersebut jelas- jelas menyatakan tempat dimana kita akan makan. Pertanyaan tersebut lebih mementingkan kelas atau strata. Orang yang makan disuatu tempat makan yang bagus dan terlihat memiliki harga makanan yang lumayan akan membuat orang tersebut merasa berkelas. Kadang rasa makanan di restoran tersebut di nomor duakan dibandingkan dengan gengsi yang diperolehnya.

Pertanyaan terakhir adalah “kapan kita makan hari ini?”. Mungkin terdengarnya sangat miris, tapi hal tersebut masih benar-benar terjadi di dunia yang serba modern ini. Beberapa negara di Afrika seperti Somalia dan Ethiopia serta negara-negara miskin lainnya masih kesulitan dalam mencari makan. Bahkan, banyak anak-anak yang terkena busung lapar, diare, dan penyakit lainnya akibat kekurangan makan dan kurangnya kebersihan. Saya pernah membaca buku kedua Totto Chan yang menceritakan tentang perjalannya sebagai duta UNICEF ke negara-negara miskin, bahkan bantuan makanan tidak cukup untuk diberrikan oleh seluruh anak-anak disana, sehingga perlu diseleksi menurut berat badan. Jika masih 30% dari berat tubuh normal maka tidak boleh mendapat makanan, tetapi jika dibawah itu, maka ia boleh mendapatkan makanan yaitu terigu yang diberi air.

So, kita yang masih hidup berkecukupan seharusnya lebih menghargai makanan. Habiskan makananmu!. Jangan sisakan banyak makanan dipiring. Hitung saja apabila setiap orang menyisakan sesendok nasi, untuk 15 orang sudah dapat satu piring.  Satu Indonesia bisa sepuluh juta piring nasi lebih. Bahkan satu butir nasi pun bisa sangat berharga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s