Saga no Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)

Kemiskinan tidak menjadikan ia malu ataupun sedih. Itulah yang menjadi prinsip nenek Osano. Menurutnya, ada dua jalan dalam menjalani kemiskinan, yaitu miskin dengan muram atau miskin dengan ceria. “Kita ini miskin yang ceria” begitulah katanya.

Akihiro Tokunaga yang merupakan anak dari ibu dan ayah yang sederhana. Mereka tinggal di Hiroshima. Keluarganya harus mengungsi ke Saga dimana nenek tinggal karena situasi perang yang sedang berlangsung hingga bom atom jatuh di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Bom ini pula yang menyebabkan ayah Akihiro meninggal karena radiasi yang kuat yang diakibatkan oleh bom tersebut.

Akihiro tinggal di Hiroshima bersama ibunya. Karena ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ibunya berinisiatif untuk menitipkan anaknya di Saga bersama neneknya. Kepindahan Akihiro ke Saga tidak diketahui oleh dirinya, secara diam-diam bibi dan ibunya mengatur rencana sedemikian hingga Akihiro sampai di Saga.

Pertama kali melihat rumah nenek saja sudah enggan untuk tinggal disana. Rumahnya sungguh sangat bobrok, bahkan ia belum pernah melihat neneknya sekalipun. Namun, saat melihat neneknya ia langsung kaget karena tidak seperti dugaannya, neneknya sangat cantik seperti ibunya. Tak ada basa basi, nenek pun langsung mengajarkan Akihiro bagaimana caranya menanak nasi dengan kayu bakar, karena nenek harus bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah dan harus berangkat pagi-pagi sekali.

Tak sampai disitu saja, Akihiro pun dikagetkan dengan kebiasaan-kebiasaan nenek yang tidak biasa. Pertama, rumah nenek yang terletak di pinggir sungai memberikan berkah tersendiri. Nenek menaruh galah di pinggir sungai sehingga berbagai sayuran dan buah buahan menyangkut disana. Kenapa? Karena di hulu sungai terdapat pasar, biasanya mereka mencuci sayur dan buah disana, sehingga pasti ada buah atau sayur yang terhanyut kemudian dimanfaatkan oleh nenek. Ia menyebut sungai itu sebagai supermarket pribadi yang langsung diantar. “Timun yang bengkok pun, kalau dipotong-potong lalu diberi garam, namanya tetap timun”

Kemudian, ada beberapa kisah lucu lainnya, seperti saat Akihiro masuk sekolah dasar, ia ingin megikuti latihan bela diri kendo (jenis beladiri dari Jepang yang menggunakan pedang kayu)

“Nek, hari ini aku melihat latihan kendo”

“Hmm”

“Keren sekali deh”

“oh, bagus itu”

“aku juga mau ikut latihan kendo”

“ya sudah lakukan saja”

“sungguh, kalau kau mau kenapa tidak?”

Lalu Akihiro menjelaskan bahwa ia harus membeli macam-macam alat dan biaya pendaftaran

“Butuh uang ya?”

“ya butuh dong”

“kalau begitu batalkan saja”

Keesokan harinya ia meminta ijin juga untuk mengikuti yudo, namun karena masih membutuhkan uang, nenek bilang “Lupakan saja”. Dan nenek menyarankan agar Akihiro lari saja

“yaa karena lari tidak membutuhkan peralatan dan tempatnya gratis” begitu katanya. Tetapi, dengan kesungguhannya dalam berlari, Akihiro sering menjuarai lomba lari di sekolahnya, ia yang tercepat.

Pernah suatu hari di musim dingin, Akihiro merasa sangat lapar. Lalu ia bilang kepada nenek tentang rasa laparnya itu, dan nenek menjawab “itu hanya perasaan mu saja”. Akihiro mengangguk. Kemudian jam 11 malam ia harus bangun dan membangunkan nenek. “kayak nya aku benar-benar lapar deh” lalu nenek menjawab “ahh, itu hanya mimpi, kau sedang bermimpi”. Akihiro mengangguk dan melanjutkan tidurnya.

Akihiro tidak mempunyai uang untuk jajan, kadang ia sangat iri terhadap temannya yang suka membeli permen di sana. Karena ingin mencicipi, lantas ia berkata pada temannya

“bagaimana rasanya?”

Lalu temannya memberikannya pada Akihiro, tak lama kemudian

“kembalikan”

Lalu Akihiro memberikannya, lalu berkata lagi

“bagaimana rasanya?”

“kan tadi sudah kau coba”

“aku lupa bagaimana rasanya”

Tanpa berkata lagi, temannya pun memberikanya. Hal tersebut berlangsung berulang-ulang sehingga kedua belah pihak setuju akan bergantian selama sepuluh detik sekali. Namun, Akihiro menghitungnya lebih cepat dari temannya.

“Tokunaga-san, kok menghitungnya cepat sekali”

“Ah, biasa saja ko”

Meskipun mereka miskin, namun nenek pernah membelikan sepatu spike seharga 10.000 yen. Karena pada saat itu Akihiro sebagai kapten baseball yang baru akan bertanding. Pada malam hari, akihiro memberitahukan bahwa ia akan bertanding esok hari,lalu nenek langsung saja mengambil uang simpanannya lalu berkata

“Akihiro, nenek beli sepatu atletik dulu ya”

“Nenek, walaupun pergi sekarang juga, tokonya sudah tutup bukan?”

“Tidak, kapten harus punya sepatu Spike”

Sesampainya di toko, benar saja tokonya sudah mau tutup. Penjual di toko sepatu tersebut sedang memasukkan sepatu-sepatunya ke dalam.

“Sepatu Spike paling mahal satu” kata nenek,

Lalu dengan kaget, penjual toko pun mengambilkan sepatu spike yang paling mahal

“Nah, sepatu ini harganya 2.250 yen” kata penjual,

“Saya mohon, harganya 10.000 yen saja ya” kata nenek

“Mana bisa begitu”

Kemiskinan yang dialami oleh nenek tidak menjadikannya jadi meminta-minta. Segala peluang ia manfaatkan agar dapat makan. Bahkan ia harus menyangkutkan magnet dengan tali di pinggangnya agar besi-besi kecil menyangkut di magnet tersebut kemudian dapat dijual. Dan hasilnya lumayan.

Berikut beberapa kutipan tips hidup ala nenek Osano

  • Saat kita dibenci, berarti kita menonjol diantara yang lain
  • Nilai rapor apapun, asal bukan nol tidak masalah, kalau dijumlahkan pun hasilnya akan sempurna
  • Kebaikan sejati dantulus adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui oleh orang yang menerima kebaikan
  • Pelit itu payah! Hemat itu jenius!
  • Berhentilah mengeluh “panas” atau “dingin”. Musim panas berhutang pada musim dingin, begitu pula sebaliknya
  • Saat jam dinding berputar ke kiri, orang akan menganggapnya rusak dan membuangnya. Manusia pun tidak boleh menengok ke belakang, teruslah maju dan maju, melangkah ke depan
  • Hiduplah miskin mulai dari sekarang! Bila sudah kaya kita jadi berplesir, jadi makan sushi, jadi buat kimono,. Hidup jadi kelewat sibuk.
  • Jangan terlalu rajin belajar. Bisa-bisa nanti jadi kebiasaan
  • Sampai mati, manusia harus punya mimpi! Kalaupun tidak terkabul, bagaimanapun itu kan cuma mimpi
  • Orang pintar maupun orang bodoh, orang kaya maupun orang miskin, lima puluh tahun ke depan akan sama-sama tua.

Image

Keterangan buku

Judul: Saga no Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)

Pengarang: Yoshichi Shimada

Tahun: 2001

Penerjemah: Indah S. Pratidina

Penerbit: Kansha books

Harga: Rp. 48.000,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s