Data Iklim; Warisan Tambang Paling Berharga

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Setelah melakukan perjalanan tak terlupakan dalam program Newmont Bootcamp Batch 4 ke Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara, pemikiran saya tentang pertambangan pun berubah dengan cepat seperti membalikan telapak tangan. Pada awalnya, saya agak ragu untuk berangkat ke Sumbawa, karena saya akan pergi ke pertambangan. Ya, pertambangan sangat identik sekali dengan “merusak” lingkungan, yang awalnya kaya akan keanekaragaman hayati, kini mereka terusir dari habitatnya, dan lain sebagainya. Itulah yang membuat saya enggan untuk pergi. Namun, apapun yang ada dalam pikiran, tetap saja takdir telah memilih saya untuk terbang ke Sumbawa menyaksikan dimana perut bumi dikuras dan menjadi bernilai ekonomis.

Sejak pertama kali menginjakan kaki di Dermaga milik PTNNT, pikiran saya tentang pertambangan berubah 180 derajat. Sepanjang dermaga dipampang marka bahwa tidak boleh merusak alam, dilarang keras mencemari lingkungan, apalagi buang sampah sembarangan. Semua ada peraturannya. Kita sebagai visitor tentu saja harus “keep clean”. Tak ada kompromi. Kalau kalian biasa melempar sampah seenaknya, di sini kita dituntut kesiplinan. Sepanjang mata memandang, tak ada sampah anorganik. Paling hanya serasah yang jatuh dari pohom, dan itupun telah disapu dan dibersihkan oleh petugas.

Perjalanan paling berkesan adalah ketika saya berkesempatan berkeliling stasiun cuaca di Batu Hijau, Sumbawa Barat. Sebelumya saya pernah ke stasiun cuaca di bilangan Dramaga, Bogor, dan di AMG Tangerang. Namun, perjalanan kali ini sangat berbeda. Ini membuat saya berpikir bahwa data iklim yang terekam di stasiun-stasiun cuaca yang dibuat oleh PTNNT adalah warisan paling berharga yang harus disimpan.

Terungkapnya Letusan Tambora karena Data Iklim

Gunung Tambora (http://www.gongsol.com)

Gunung Tambora (http://www.gongsol.com)

Gunung Tambora, raksasa yang berdiri tegap nan gagah di pulau Sumbawa. Belum lagi kalau mendengar kisah kemurkaanya pada awal abad 19 dan menjadi letusan gunung berapi terdahsyat sepanjang ingatan manusia. Letusannya terdengar sampai ujung barat Indonesia, kekuatannya empat kali lebih besar dari letusan Krakatau, dan sepertiga kepalanya habis dan membuat kaldera sedalam satu kilometer. Letusan ini pun membuat orang-orang di belahan bumi barat merasakan dampaknya. Gelap, dingin, dan suram. Menjadi tahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika. Dan akibat letusan Tambora lah monster paling ditakuti di dunia — Frankenstain karya Mary “Shelly” — dilahirkan.

Pada awalnya, orang amerika dan eropa tidak mengetahui penyebab terjadinya tahun tanpa musim panas tersebut. Hingga satu abad setelah letusan tersebut, terungkaplah penyebab kegelapan yang menyelimuti bumi pada saat itu. Seorang Meteorologist asal Amerika Serikat, WJ Humphreys menemukan hubungan cuaca buruk tersebut dengan letusan Gunung Tambora! Hal tersebut karena abu yang menghalangi sinar matahari (kemudian diketahui bukan abunya tapi asam sulfat dari Tambora). Kemudian pada tahun 1960 an, ahli meteorologi Hubert Lamb membuat indeks jumlah partikel yang dikeluarkan gunung berapi. Dan hasilnya Tambora berada di indeks tertinggi yaitu 4.200 sedangkan Krakatau 1000.

Dapat kita ketahui, bahwa data iklim dapat mengungkapkan suatu kejadian yang bahkan belum kita ketahui dan pengaruhnya bisa ribuan kilometer jauhnya dari tempat dimana penyebabnya berasal.

Simpan Harta Paling Berharga Ini

Di sela-sela perjalanan menggunakan mobil ford ranger berwarna putih 4×4 dengan nomor identitas PU-382, saya bertanya kepada pak Moyo sebagai pendamping kami menuju stasiun-stasiun cauca di Batu Hijau. “Pak. bolehkah kalau mahasiswa atau siapa pun jika ingin meminta data iklim ini untuk penelitian dan sebagainya?” tanya saya. “Silahkan saja, kenapa tidak? Asalkan mengikuti prosedur yang ada” jawab pak Moyo. “Gratis kah? Atau berbayar?” Beliau pun sempat heran kenapa saya menanyakan hal tersebut. Kemudian saya menjelaskan bagaimana saya dan kawan-kawan merasa sulit untuk meminta data iklim kepada badan yang mengurusi data iklim dan meteorologi karena harus berbayar dan ada tarifnya masing-masing. Seperti yang dulu kami rasakan, hal yang serba berbayar itu sulit bagi mahasiswa. Lagian, mengapa harus berbayar, toh ini untuk penelitian, tugas akhir kami. Yang nantinya mungkin akan bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa kita.

Sejak mulai PTNNT beroperasi penuh pada tahun 2000 hingga kini dan akan terus beroperasi hingga tahun 2025 kemudian dilanjutkan dengan 15 tahun recovery, data iklim yang akan terekam sudah cukup untuk menunjukan karakteristik keadaan iklim di wilayah Batu Hijau serta perubahan iklim yang dialami wilayah tersebut pasca-pertambangan. Seperti halnya pengaruh meletusnya gunung Tambora yang diungkapkan melalui data iklim, mungkin suatu saat data iklim di Batu hijau pun akan mengungkapkan sesuatu. Hal tersebut bisa perubahan iklim, penyebaran wabah penyakit, global warming, kondisi pertanian setempat, perikanannya, record bencana alam yang pernah terjadi, dan masih banyak lagi manfaatnya yang belum kita ketahui.

Harapan saya akan hal ini adalah, stasiun-stasiun cuaca yang ada di kawasan Batu Hijau ataupun di bagian remote areanya, agar tetap dioperasikan (diambil alih oleh pemerintah atau bagaimanapun caranya) agar data yang dihasilkan tetap kontinu. Sangat disayangkan jika data cuaca tersebut terputus dan stasiun cuaca tak beroperasi lagi. Mungkin manfaatnya belum kita rasakan, tapi mungkin sepuluh, dua puluh, atau bahkan ratusan tahun kemudian, data cuaca ini bisa membuka sejarah yang belum pernah terungkap.

3 pemikiran pada “Data Iklim; Warisan Tambang Paling Berharga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s