Mahasiswa Jangan Asal Magang

sumber ilustrasi Magang: http://www.andersonpestsolutions.com

Pada saat menjadi mahasiswa, kita sedang-sedangnya mencari jati diri. Ikut kegiatan inilah, ikut kegiatan itulah, aksi sana, aksi sini, ikut seminar sana, ikut pelatihan sini, oraganisasi ini, itu dan lain sebagainya. Memang bagus memperbanyak kegiatan saat menjadi mahasiswa. Lebih baik jika dibandingkan dengan hanya menjadi mahasiswa tok, study oriented katanya. Kalau saya flash back kembali ke jaman mahasiswa, tentunya waktu senggang yang dimiliki jauh lebih banyak dibandingkan pada saat masuk ke dunia kerja. Apalagi kerjaan yang memang jam pulang pergi kantornya sudah ditentukan. Nine to five, eight to four, or all night long…  Jadi, manfaatkanlah waktumu wahai mahasiswa.

Kemarin siang ada seorang mahasiswa yang datang ke kantor saya di bilangan Jakarta Pusat untuk mengutarakan niatnya magang di sini selama tiga minggu. Mahasiswi yang ternyata memiliki almamater yang sama dengan saya ini langsung menemui atasan saya yang sebelumnya sudah ada appointment. Tak berapa lama kemudian, atasan tersebut langsung menemui saya dan meminta petunjuk untuk mahasiswi ini tentang apa yang akan/bisa ia kerjakan selama hampir satu bulan tersebut. Katanya sih karena masih satu almamater, jadi mungkin tahu apa yang bisa ia kerjakan

Pikiran saya langsung saja melayang ke tiga tahun silam ketika saya masih semester 6 dan akan mendekati ujuan akhir semester. Di departemen kami memang tidak mewajibkan mahasiswanya untuk magang, sehingga  kalau kami ingin berinisiatif mengisi waktu liburan kami untuk magang, maka kami sendiri yang harus mencari instansi-instansi mana saja yang kiranya pas untuk kami tuju. Karena tidak mau sampai keluar kota, kami cari saja instansi yang terdekat dan masih berkaitan. Setelah memutuskan, tanpa basa basi langsung didatangi oleh saya dan 5 teman saya yang lain.

Di sana, kami sempat ditanyai oleh sang direktur “Mau magang tentang apa?”. Kami yang tidak memiliki persiapan hanya bengong melongo. Kemudian si direktur memberikan opsi. Ia mengatakan bahwa bulan ini ada proyek yang mengharuskan dinas luar kota ke Kalimantan. Jika kami ingin diikutsertakan, kami diharuskan bisa berbahasa inggris karena juga menemani klien dari luar negeri. Kami menyenggupinya. Pikiran kami sudah melayang-layang berada di Kalimantan sambil melakukan proyek dengan para ilmuan dari luar negeri. Saya pun membayangkan pengalaman-pengalaman baru yang akan saya hadapi disana. Ahh so excited.

Pada hari H ketika kami baru pertama kali magang, kami hanya disuruh untuk mengimput data. Karena proyek belum dimulai. Hari kedua juga begitu. Seminggu ke depan juga masih sama, duduk depan leptop selama berjam-jam. Dan sampai masa magang kami berakhir pun begitu. Awalnya kami pikir memang projek dibatalkan atau ditunda. Tapi pada kenyataanya, sebenarnya proyek tengah berlangsung hanya saja kami para magangers tidak mengetahuinya atau lebih tepatnya tidak diberi tahu. Memang ada rasa kecewa, tapi mau bagaimana lagi.

Yang salah siapa?

Memang kita tidak bisa menyalahkan pihak instansi karena sebenarnya mereka juga bingung harus memberikan tugas apa. Kalau memang mereka punya ide yang menarik dalam memberikan tugas kepada kita, itu akan jadi menguntungkan. Tapi kalau tidak? Toh mereka yang punya wewenang. Kita hanya tinggal ikut apa yang diperintahkan. Seharusnya kami mempunyai rencana melakukan proyek kami sendiri, dan merangkumnya dalam sebuah proposal. Mereka pasti bantu. Seharusnya dulu kami menganggap magang ini sebagai latihan kami untuk membuat tugas akhir, atau bahkan bisa saja hasil dari magang dibuat sebagai tugas akhir. Data, alat, para ahli, pustaka, dan lain sebagainnya yang diperlukan sebenarnya sudah tersedia di instansi tersebut. Ini semua karena kami tidak dibekali bagaimana cara mengajukan magang, ketidaktahuan kami, dan karena memang tidak wajib juga.

Berbeda dengan beberapa jurusan/departemen lain yang memang para mahasiswanya diwajibkan untuk magang. Mereka difasilitasi dan dibekali oleh para dosen. Jadi enak kan, mereka jelas mengerjakan apa dan tentunya bermanfaat. Tapi, kalau kita sudah tahu bagaimana cara mengajukan magang agar tidak salah-salah seperti apa yang pernah saya alami (ujung-ujungnya input data), magang akan menjadi hal yang menyenangkan dan tentunya hal baru bagi kita.

Kembali ke jaman sekarang. Karena teringat akan hal-hal yang pernah saya alami, saya pun berusaha agar “adik” kelas saya ini tidak mengalami hal-hal yang sama. Seperti yang saya duga, ia pun tidak mempersiapkan apa-apa. Jadi, saya harus tanya-tanya tentang rencana tugas akhirnya (dan ternyata belum tau) dan bidang-bidang apa saja yang ia minati. Untuk itu, ada beberapa hal yang setidaknya perlu dipersiapkan oleh para magangers mahasiswa.

Magangers harus tahu apa yang harus dilakukan saat magang nanti. Apakah itu melakukan penelitian atau boleh-boleh saja sih kalau memang mau cuma input data tapi pasti merugi.

Tentukan instansi yang sesuai dengan keinginan/tujuan penelitian kita

Kamu bisa diskusikan dengan dosen pembimbing atau kenalan yang bekerja di instansi tersebut

Jika sudah mantap, bisa langsung membuat proposal atau datang langsung ke instansi tersebut. Jangan lupa kalau harus ada surat dari departemen.

Utarakan maksud kamu atau kegiatan yang kira-kira ingin dilakukan, atau kalau kamu masih bingung bisa menanyakan tentang project atau kegiatan yang tengah berlangsung

Pastikan kamu akan mendapatkan hasil berupa paper atau tulisan setelah masa magang selesai agar kamu tahu seberapa jauh kamu sudah melangkah ketika magang. Dan dari hasil tersebut bisa dibuat juga untuk jurnal atau tugas akhir.

3 pemikiran pada “Mahasiswa Jangan Asal Magang

  1. Hmmm, kalau saya berpendapat bahwasanya mahasiswa yang magang itu kurang kritis salah atau tidak ya?

    Di tempat saya kerja juga beberapa kali ada anak magang dan juga anak PKL (Praktek Kerja Lapangan). Mereka ya umumnya dipasrahkan tugas-tugas yang sifatnya “kuli”, hahaha, seperti input data yang dirimu ceritakan itu.

    Susah memang ngajak anak magang untuk terlibat langsung dalam proyek. Karena kan ya pemahaman mereka dan pola kerja di tempat mereka magang itu harus dibangun dulu. Kecuali kalau memang benar-benar ada staff yang berkenan membimbing hingga sedetil-detilnya.

    Kalau menurut saya sih, mahasiswa ketika magang harus bisa mengambil pelajaran dari suasana kerja di tempat magang mereka. Mahasiswa juga harus kritis, kalau penasaran ya bertanya, jangan tunggu disuruh-suruh. Toh, yang butuh ilmu dari magang kan mereka. Juga jangan sampai bikin repot staff. Sebenernya sih dari input data saja seorang mahasiswa bisa mengambil banyak ilmu terkait dengan data-data yang ia inputkan itu.

    Weh, komentarku panjang banget >.<

    • makanya, kalau magang harus di persiapkan, jadi kalau dari pihak kantor ngga tau harus mau ngapain, kita sudah punya kerangka kerjanya.

      kalau disuruh input data, kalau bisa inisiatif data tersebut di olah. kan bisa dibuat paper, jurnal, atau tugas akhir.

      tengkyu yaa komentarnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s