Anak Berisik Saat Tarawih, Dimarahi?

ilustrasi: fajrifm.com

Bulan ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh setiap umat muslim di seluruh dunia. Jelas saja, Allah telah menjanjikan pahala yang berlipat-lipat, rahmat tercurah bagaikan sinar matahari yang tak kunjung padam menyinari bumi, setiap biji kebaikan akan tumbuh dan berbunga-bunga. Ibadah-ibadah yang biasa dilaksanakan di bulan-bulan biasa, kini semakin digiatkan lagi, ibadah sunah diperbanyak, masjid pun dimakmurkan, berlomba-lomba bak lari maraton dalam memberi kebaikan.

Salah satu ibadah yang hanya dilaksanakan di bulan penuh berkah ini adalah shalat tarawih, yang dilaksanakan selepas salat isya. Orang-orang pun berbondong-bondong datang ke masjid baik orang dewasa maupun anak-anak. Masalahnya adalah seringkali anak-anak mengganggu khusyukan orang-orang yang sedang shalat. Si anak pun dinasehati dan tak jarang cenderung dimarahi. Salahkah?

Di salah satu masjid dekat rumah saya, tempat biasa saya melaksanakan shalat tarawih dan kuliah subuh, disana juga banyak anak kecil, anak yang masih balita bahkan bayi pun diajak ke masjid. Sudah kebayangkan berisiknya seperti apa. Lari sana, lari sini, teriak sana, teriak sini, nangis sana, nangis sini. Tapi di sana ditegaskan oleh sang imam bahwa jangan pernah memarahi anak yang berisik, biarkanlah “namanya juga anak-anak”. Mungkin kata-kata tersebut sudah klasik. Toh anak si anu bisa shalat dengan tenang. Apakah setiap anak sama karakternya?

Dengan memarahi anak yang berisik di masjid akan membunuh karakternya. Bagaimana kalau besoknya ia lebih memilih tidak datang ke masjid karena takut dimarahi? Kemudian kebiasaan itu berlanjut hingga ia dewasa. Makanya di masjid tersebut dilarang memarahi anak yang berisik, justru yang memarahinya akan dimarahi oleh sang imam. Bahkan Rasulullah pun tak pernah mengajarkan untuk memarahi anak jika mereka berisik di dalam masjid.

Dari Syaddan Al-Laitsi radhiyallahuanhu berkata,”Rasulullah SAW keluar untuk shalat di siang hari entah dzhuhur atau ashar, sambil menggendong salah satu cucu beliau, entah Hasan atau Husain. Ketika sujud, beliau melakukannya panjang sekali. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada anak kecil berada di atas punggung beliau SAW. Maka Aku kembali sujud. Ketika Rasulullah SAW telah selesai shalat, orang-orang bertanya,”Ya Rasulullah, Anda sujud lama sekali hingga kami mengira sesuatu telah terjadi atau turun wahyu”. Beliau SAW menjawab,”Semua itu tidak terjadi, tetapi anakku (cucuku) ini menunggangi aku, dan aku tidak ingin terburu-buru agar dia puas bermain. (HR. Ahmad, An-Nasai dan Al-Hakim)

Dari hadits tersebut Rasulullah mencontohkan kepada kita bahwa membiarkan anak yang bermain-main ketika orang dewasa shalat (bahkan menunggu hingga puas bermain) dan tetap khusuk tanpa terganggu. Seiring berjalannya waktu, anak-anakpun akan mengerti bagaimana bersikap di masjid dan orang dewasa bisa memberikan pengertian kepada anak-anak tentunya tidak menjatuhkan dengan kata-kata negatif seperti “jangan!”, “tidak boleh”, “diam!” dan lain sebagainya. Toh mereka nanti yang akan memakmurkan masjid di masa yang akan datang.

Ada lagi satu masjid yang sangat menghargai kehadiran anak-anak. Pernah suatu ketika saya habis makan malam di salah satu foodcourt perumahan di bilangan Serpong yang tak jauh dari masjid tersebut. Kemudian ba’da isya orang-orang keluar dari masjid baik orang dewasa maupun anak-anak. Lalu saya bertanya kepada teman saya, “ada acara apa, kok banyak orang yang keluar masjid?” lalu teman saya pun menjawab “Setiap hari memang seperti ini, ramai. mereka memang memiliki kebiasaan membawa anak-anak ke masjid” Meskipun saya belum pernah shalat disini, tapi teman yang pernah shalat di masjid tersebut menceritakan bagaimana masjid selalu ramai. Ketika matahari terbenam di ufuk barat dan menyisakan refleksi cahaya jingga, adzan magrib pun berkumandang memanggil untuk beribadah. Orang dewasa maupun anak-anak berbondong-bondong untuk shalat di masjid. Selepas maghrib, mereka tidak langsung pulang tapi menunggu (bisa sambil membaca al-quran atau tausiyah) hingga bada isya. Subhanallah…

Kalau bulan ramadhan, biasanya anak-anak dipisahkan tempat shalatnya, khusus. Bahkan ketika tausiyah pun ada penceramah khusus anak-anak sehingga mereka anteng duduk mendengarkan cerita dari pak ustadz. Dengan metode bercerita, anak anak akan dengan mudah menyerap inti dari ceramah dan mengambil maknanya. Dengan begitu, anak-anak menganggap shalat di masjid itu menyenangkan dan mereka akan ketagihan untuk shalat di masjid. Hmm.. mungkin ini menjadi solusi yang keren. Kalau berisik, “sudah biasa, namanya juga anak-anak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s