Menabur Garam di Garis Cakrawala

 

 

“Pesawat hercules jatuh di Medan” begitulah kira-kira isi dari grup Whatsapp ketika baru saja saya sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru sekitar jam 2 siang. Pada awalnya saya tidak terlalu menanggapi, hanya berucap “innalilahi”. Setelah keluar Bandara, pak Aris dan bu Endang ternyata telah menjemput saya. Bu Endang pun menyinggung soal kecelakaan yang terjadi beberapa jam lalu (30/7), dan beliau juga mengatakan bahwa tadi pagi pesawat Hercules sempat parkir di Lanud Roesmin Nurjadin tempat dimana posko kami berada dan sempat menaikan beberapa penumpang. Suasana berduka sangat tersa ketika saya memasuki kawasan Lanud Roesmin Nurjadin. Terlihat beberapa orang menangis tak menyangka bahwa orang-orang yang baru saja mengatakan selamat tinggal akan pergi menggunakan Hercules, ternyata mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya kembali kepada sang Maha Kuasa.

Dua-tiga hari kemudian, jenazah kecelakan Hercules dipulangkan dengan pesawat CN terlihat beberapa peti dijejerkan dan ditutupi dengan sang saka merah putih. Keluarga korban menjemput orang terkasih yang kini sudah tak bernapas di Lanud Roesmin Nurjadin. Menangis tersedu-sedu antara kehilangkan, kerinduan, tak menyangka, pasrah, melebur menjadi satu. Berharap waktu dapat diulang kembali dan dapat menghabiskan waktu lebih lama bersama terkasih.

Seorang bapak mengenakan baju berwarna gading dan berkopiah datang sendiri ke Lanud Roesmin Nurjadin menjemput jenazah sang anak. Itu adalah anak satu satunya. Setelah kecelakaan yang merenggut nyawa anaknya, tak ada lagi harta yang dimiliki bapak ini. Di balik ketegaran yang ia tampilkan dari raut mukanya, terdapat kesedihan mendalam yang tak bisa terobati. Seorang anak yang ia sangat sayangi pergi meninggalkannya yang pada hari mengenaskan itu ia berpamitan ingin berjalan-jalan di haril libur kuliahnya. Tak dapat disangka itulah momen terakhir yang dapat dikenang oleh sang bapak.

Hujan… hujan… turunlah

Masih teringat jelas kabut asap yang menutupi hampir seluruh kota Pekanbaru dan beberapa tempat lainnya di Provinsi Riau pada tahun 2014. Sama halnya dengan bencana banjir di Jakarta. Semua kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekonomi, dan lain sebagainya terpaksa dihentikan karena kabut yang mengganggu. Kondisi udara pun sudah masuk ISPU (indeks standar pencemaran udara) berbahaya. Tak ada yang bisa dilakukan selain berdiam diri di dalam rumah. Segala upaya telah dikerahkan agar kondisi dapat segera diselesaikan. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Riau berusaha agar kejadian serupa di tahun lalu tersebut tidak terjadi lagi di tahun ini.

BNPB, BPPT, BMKG, Kehutanan, Pemprov, BPBD, TNI AU, dan lain-lain mengerahkan segenap kemampuan masing-masing bekerja sama untuk menuntaskan kebakaran hutan yang terjadi di Prov Riau. Kebakaran hutan ini selain karena faktor alam, utamanya adalah akibat kegiatan manusia yang sengaja membakar hutan untuk membuka lahan. Hal tersebut karena membakar hutan adalah hal paling mudah dan murah untuk membuka lahan. Bukan berarti peraturan tidak ada, tapi masyarakat lebih pintar dari peraturan itu. Mereka bisa saja menggunakan tikus yang dibakar ekornya kemudian di lepaskan di hutan sehingga api dengan mudah menyebar. Dan masih banyak lagi cara-cara licik yang mereka lakukan.

Penyemaian awan dengan saudara kecil pesawat Hercules

“Kemungkinan hari ini ada awan potensial, bisa dilakukan seeding” begitulah kata korlap kegiatan TMC

Setiap hari pantauan satelit dan pengukuran cuaca setiap jam dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya perkembangan awan. Ya, kami akan melakukan kegiatan modifikasi cuaca atau banyak orang mengenalnya dengan hujan buatan. Bukan sembarang hujan buatan, menciptakan hujan seperti yang banyak orang awan ketahui, tetapi meningkatkan/mengurangi intensitas hujan. Modifikasi cuaca ini tidak bisa dilakukan jika kondisi perawanan tidak mendukung. Seperti yang saya sebut tadi, adanya awan potensial lah yang menentukan hari ini akan dilakukan seeding atau tidak.

Kami bergerak cepat ketika sudah terlihat pembentukan awan potensial dengan menggunakan radar/satelit. Informasi lansung disambungkan ke penabur yang mengangkut garam khusus dari gudang, kemudian dimasukan ke konsul, lalu dimasukan lagi ke pesawat CN 295. Proses ini cukup memakan waktu, yaitu sekitar dua jam. Lalu dilakukan briefing dengan kru pesawat dan Flight scientist yang bertugas sebagai penunjuk arah dimana awan potensial berada. Briefing dilakukan agar rekomendasi wilayah potensial dari FS dapat disampaikan kepada pilot dan kru pesawat. Dan kami pun siap mengangkasa. Kursi-kursi di dalam CN 295 berjajar tegak lurus dengan kepala pesawat, tipikal pesawat TNI AU seperti Hercules hanya saja ukurannya yang lebih kecil. Hanya beberapa yang terdapat sabuk pengaman, sisa nya tidak ada. Saya yang baru pertama kali mengikuti penerbangan ini, sedikit bingung bercampur ketakutan dengan tidak adanya sabuk pengaman. Apalagi pesawat ini berbeda dengan pesawat lainnya, ketika banyak pesawat yang menghindari keberadaan awan terutama awan tipe cumulus, pesawat ini justru mencari-carinya dan menghampiri awan-awan tersebut. Pikiran negatif pun berusaha saya hapuskan dan digantikan dengan pikiran positif. Oke, kita terbang!

 

Mesin mulai dinyalakan, baling-baling pesawat mulai berputar, perlahan pesawat mengikuti arahan apron yang melambai-lambai. Kecepatan pesawat mulai bertambah, berlari, dan berlari hingga terbang bagaikan burung elang yang mengepakan sayap di angkasa. GPS dalam genggaman saya mulai menunjukan arah, kecepatan, lokasi, dan ketinggian pesawat. Tubuh ini pun memposisikan diri dengan memiringkan badan searah dengan kepala pesawat karena adaya gaya Newton. Sampai tanda sabuk pengaman dilepas (meskipun penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman) tanda penumpang boleh berdiri. Pada sekitar ketinggian 8000-12000 feet lah kami mulai bekerja.

Mata saya pun langsung menuju kumpulan-kumpulan awan yang tersebar. Berarti waktunya dilakukan penyemaian?. Tidak. Bukan sembarang awan yang dapat disemai. Ingat, harus awan potensial seperti tipe cumulus dan stratiform karena awan inilah yang akan menjadi cikal bakal awan yang menurunkan hujan seperti awan cumulonimbus. Jika tidak ada awan potensial, berarti tidak dapat dilakukan penyemaian. Jika dipaksakan, hasilnya akan percuma. Awan-awan kecil tidak mampu berkembang besar dengan cepat jika dilakukan penyemaian. Jadi, memang waktu yang tepat untuk dilakukan penyemaian adalah pada awal atau akhir musim hujan, ketika ada awan potensial.

 

Mungkin ada pertanyaan (dulu juga saya bertanya seperti ini), apakah air hujan akan menjadi asin jika ditaburi garam? Tidak. Garam yang berfungsi sebagai inti kondensasi atau tempat melekatnya butir-butir air di angkasa merupakan inti kondensasi yang alami. Salah satunya berasal dari laut. Garam yang digunakan pun bukan sembarang garam tapi garam yang ukurannya sekitar 30 mikron. Satu butir garam bisa melekatkan hingga jutaan droplets (butir-butir air hujan) yang akan membentuk awan. Jadi, garam yang dimasukan tidak akan membuat air hujan menjadi asin.

“Buka setengah” kata kapten Ari kepada kru pesawat agar membuka setengah dari tabung konsul. Tekanan di kabin pun berkurang. Saya menelan ludah beberapa kali supaya telinga tidak budek. Sepertinya sang pilot sudah mengerti setelah beberapa kali mengikuti kegiatan TMC ini karena sudah tahu tipe-tipe awan yang harus disemai. Tak pernah saya lihat seorang pilot yang senang ketika melihat awan cumulus. Seperti yang kita ketahui, awan cumulus merupakan tipe awan yang sangat dihindari oleh pilot dan tak jarang mengakibatkan kecelakaan karena turbulensi dalam awan tersebut.

 

Tabung konsul habis, saatnya kembali ke PKU. Selesai menabur garam di garis cakrawala, kami hanya berharap penyemaian awan berhasil. Tim-tim kami yang tersebar di Provinsi Riau dengan cepat akan mengabari jika terjadi hujan. Tak lupa dari radar dan setelit pun kami pantau jika terjadi hujan. Data dari pengalaman, kegiatan TMC mampu menaikan curah hujan hingga 30%. Tak hanya meningkatkan curah hujan namun dapat mengurangi curah hujan seperti yang dilakukan untuk mencegah banjir Jakarta.

 

 https://www.youtube.com/watch?v=C9K8-q-BVD0

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s