Resensi Sebuah Novel “Ayah”

 

Ayah, seseorang yang setiap orang memilikinya namun tak semuanya memiliki sifat yang sama. Setiap orang juga memiliki pandangan yang berbeda tentang Ayah atau bahkan tak punya pandangan sama sekali karena tak sempat mengenal pribadinya. Ayah, Bapak, Apa, Babeh, Abi, Baba, dan apapun panggilannya memang sudah menjadi goresan takdir yang tidak dapat kita tolak keberadaannya. Bahkan Ayah menjadi garis kuat dalam meneruskan identitas keluarga kepada anak-anaknya. Oleh karena itu nama ayah sering disisipkan dalam nama anaknya baik itu hanya nama belakang, nama keluarga, atau disambung dengan bin atau binti. Itulah pentingnya ayah.

“Ayah” itulah judul sebuah novel dari Andrea Hirata. Entah novelnya yang keberapa tapi inilah novel ke 5 karya putra Belitong ini yang telah saya baca setelah sebelumnya tetralogi Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Jujur, saya memang tak memburu karya Andrea Hirata, tapi nama Andrea Hirata-lah yang pertama kali saya sebut jika ditanya penulis novel Indonesia favorit saya. Saya senang dengan tutur kata melayu yang ia rangkai dalam setiap baris kalimat dalam novelnya. Karya seni seperti puisi, pantun, sajak, dan karya seni tulis lainnya melantun indah setiap bab dalam lebaran-lembaran kertas yang ia tulis. Pokoknya enak dibaca.

Mungkin saya tidak membahas diksi yang digunakan, susunan kalimat, induksi, deduksi, atau yang lainnya yang saya tidak mengerti dan tidak memiliki pengetahuan di dalamnya. Tapi saya akan cerita sekilas tentang isi cerita, kekurangan dan kelebihan dari novel ini. Tentu saja dengan sudut pandang saya, tidak mesti semua orang menganggapnya sama.

Dari sampul bergambar siluet seorang ayah yang sedang menunjuk arah dengan seoran anak memegang gulali berlatar keramaian dominan berwarna jingga seolah-olah sedang berada di tengah keramaian pasar malam. Di sampingnya terdapat sepeda dan sepasang balon. Tak tahu apa makna yang ingin disampaikan oleh sang ilustrator sampul, namun memberikan kesan hubungan ayah dan anak yang penuh misteri namun membahagiakan. Hehehe

Tidak seperti novel Andrea yang saya baca sebelumnya, pada awalnya Andrea memaparkan dua cerita di bab-bab pertama secara bergantian yang satu tentang kisah cinta seorang pemuda dan yang satunya tentang hubungan ayah dan anak. Di bab-bab selanjutnya, Andrea mulai memusatkan pada satu alur cerita kemudian memunculkan cerita baru lagi yang nantinya akan saling menyambung. Cerita cinta seorang pemuda kemudian berkembang dan menjadi alur utama cerita dan ternyata masih berhubungan dengan cerita hubungan ayah dan anak. Pokoknya seperti itu…

Dalam novel ini diceritakan tentang rasa kasih sayang seorang anak kepada ayahnya, dan rasa cinta ayah kepada anaknya. Meskipun Zorro (si anak) bukan anak kandung Sabari (ayah), tapi Sabari sangat mencintainya. Hingga suatu ketika Ayah dan anak tersebut harus dipisahkan ketika Zorro masih sangat kecil, paling tidak ketika ia belum bisa menyimpan memorinya lebih lama tentang Ayahnya. Sabaripun sangat kacau dan bisa dibilang hampir gila. Bayangkan saja, ia telah menunggu selama 8 tahun lebih hanya untuk meninabobokan Zorro, mengajaknya bermain, mendongeng, dan kegiatan menyenangkan lainnya yang pernah mereka lalui. Sabari mau melakukan apa saja asalkan anaknya dapat kembali.

Beruntunglah Sabari memiliki sahabat yang care dengan dirinya. Ukun dan Tamat pun mencari Zorro beserta ibunya ke seantero Sumatera, mulai dari Aceh, Riau, Bengkulu, Lampung, pokonya keliling pulau Sumatera. Apakah Ukun dan Tamat berhasil? Apakah Sabari dan Zorro akan kembali bersama? Bagaimana usaha Sabari demi bertemu kembali dengan anaknya? Bagaimana dengan kisah cinta Sabari dan Marlena, apakah mereka akan disatukan? Yuk, tinggal beli novelnya di toko buku. Hehehe

Ada beberapa kalimat dalam novel yang membuat saya agak risih membacanya, yaitu banyak kalimat yang copy-paste meskipun kalimat tersebut dimaksudkan sebagai lelucon. Selain itu, ada pula penjelasan yang berliku-liku misalnya seperti si A tahu dari si B yang punya kakak si C, bersepupu dengan si D dan seterusnya…. meskipun dimaksudnkan untuk lelucon. Cukup lucu namun terlalu berlebihan menurut saya karena full satu lembar bolak balik bahkan lebih. Saya saja tidak sanggup membaca paragraf tersebut sampai habis. Biasanya saya lewatkan bagian berlika-liku tersebut.

Kelebihan dari novel ini adalah karakteristik Andrea Hirata sebagai penulis yang senang dengan karya seni puisi. Diceritakan pula bahwa tokoh dalam novel memang senang membuat puisi. Tentunya sangat menyenangkan membaca setiap bait puisi yang ditulisnya. Ah… saya pernah mendengar kutipan dalam sebuah film hollywood kalau puisi tidak pernah gagal dalam merayu wanita. Dan salah satu contoh kisahnya pun ada di dalam novel ini. Selamat membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s