Ini Peran Hujan Buatan pada Bencana Asap, Kebakaran Hutan dan Lahan

*cuaca berasap di Pontianak

Musim kemarau tahun ini memang sudah berdampak pada kekeringan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Bukan hanya pasokan air tanah yang berkurang tetapi juga berdampak pada kebakaran hutan, asap kebakaran yang menyebar ke seluruh daerah, asap yang terhirup menyebabkan gangguan pernapasan, visibility yang rendah mengakibatkan beberapa penerbangan terganggu, curah hujan rendah, bahkan menyebabkan menaiknya kurs rupiah. Keparahan ini didukung dengan adanya fenomena alam seperti El nino yang membuat wilayah sekitar Indonesia kering dan wilayah Amerika Selatan basah. BNPB sebagai badan yang berurusan dengan penanggulangan bencana memberikan upaya seperti water bombing dan teknologi modifikasi cuaca.

Water bombing atau bom air merupakan salah satu cara menanggulangi hotspot atau titik api dengan memberikan sejumlah air langsung ke titik api tersebut dengan menggunakan helikopter seperti Kamov (dari Rusia) dan Bolkow (dari Jerman). Cara ini cukup efektif untuk bertindak langsung pada titik api. Heli Kamov dengan membawa tampungan air seperti ember besar berkapasitas 5000 liter diarahkan ke sumber air seperti sungai lalu digiring ke target titik api. Sedangkan heli Bolkow hanya mampu membawa sekitar 450 liter. Hanya saja teknologi ini akan memakan waktu yang lama dan tidak bisa dipungkiri jika air yang dibawa tidak seluruhnya bisa dijatuhkan pada sasaran karena selama perjalanan bisa jadi air tampungan tercecer. Untuk biaya heli kamov sekali operasi mencapai 150 juta rupiah sedangkan Bolkow mencapai 30 juta rupiah. Wow

*pesawat casa A2105 yang digunakan untuk TMC (depan)

Berbeda dengan water bombing, teknologi modifikasi cuaca atau yang lebih dulu dikenal sebagai hujan buatan tidak berurusan dengan “menyiram dengan air”. Teknologi ini memberikan intervensi pada awan agar dapat mempercepat dan memperbanyak jumlah potensi hujan. Banyak orang salah kaprah tentang teknologi modifikasi cuaca. Mereka beranggapan bahwa hujan dapat dibuat. Jika penyemaian NaCl (garam) dilakukan di tempat target maka hujan akan turun. Tidak semudah itu. Banyak faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan seperti analisa kondisi cuaca di wilayah target, analisa keberadaan awan dengan menggunakan radar, dan analisa arah dan kecepatan angin, analisa lainnya yang berhubungan dengan meteorologi.

Jika semua sudah dianalisis, para flight scientist bersama crew pesawat membuat strategi untuk menyemai target, dalam hal ini target berarti awan. Jumlah garam yang ditabur pun harus sesuai dengan kondisi awan. Jika awan terlalu kecil lalu diberi banyak garam, maka akan terjadi kompetisi antar inti kondensasi (garam). Awan bukannya tumbuh malah tak terbentuk. Setelah target telah disemai, apakah langsung terjadi hujan?. Bisa iya bisa tidak. Karena kita berurusan dengan alam, maka banyak ketidakpastian di sana. Yang kita lakukan hanya mempelajari alam lalu dieksekusi.

Efektifkah TMC pada musim kemarau

Teknologi modifikasi cuaca memang memerlukan kondisi cuaca yang mendukung seperti pasokan uap air, kelembaban udara, radiasi yang cukup, suhu udara, dan unsur-unsur meteorologi lainnya. Kondisi-kondisi yang mendukung tersebut biasanya terdapat pada musim hujan, karena unsur-unsur cuaca mampu membuat awan-awan potensial seperti awan cumulus. Satu inti kondensasi yang disemai akan mengikat jutaan droplets sehingga ketika cukup besar dan massanya bertambah akan turun sebagai presipitasi. Namun, bagaimana dengan kegiatan TMC yang dilakukan untuk menanggulangi bencana asap, kebakaran hutan, dan lahan yang umumnya terjadi pada musim kemarau seperti saat-saat ini? Efektifkah?

*briefing pagi yang dihadiri oleh BNPB, BPBD, BPPT, BMKG, Crew Casa, Lanud Supadio, dll.

Memang sulit untuk memanfaatkan TMC pada saat musim kemarau karena kondisi cuaca kering. Inti kondensasi harus memperebutkan air-air yang ada di udara agar dapat membentuk awan. Namun sayang, karena pasokan uap air yang kurang, maka awan yang terbentuk hanya kecil saja atau bahkan clear, tidak terbentuk apa-apa. Begitu juga jika penyemaian dipaksakan di sekitar hotspot, bukannya terbentuk awan, garam-garam yang ditabur malah jatuh kembali. Hal tersebut karena asap yang banyak juga berkompetisi untuk mengikat air di udara, sedangkan udara di sekitar kebakaran kering (tidak ada uap air). Maka garam yang disemai pun tak dapat apa-apa.

Maka, untuk kegiatan TMC mungkin bisa dikatakan kurang tepat untuk mematikan titik-titik api yang ada di suatu wilayah. Tapi cukup efektif untuk membersihkan langit dari pengaruh asap sehingga visibility bertambah, lalu lintas penerbangan tidak terganggu, penyakit gangguan pernapasan seperti ISPA berkurang,  dan lain sebagainya. Namun, tidak menutup kemungkinan jika TMC dilakukan di wilayah yang terdapat hotspot. Jika unsur-unsur cuaca mendukukung, sel-sel awan bisa memungkinkan terbentuk di  wilayah yang terdapat hotspot.

Salah jika pemerintah tidak bekerja

Kemarin pagi ketika akan berangkat menuju posko satgas TMC di Lanud Supadio, Kalbar dalam upaya penanggulangan bencana asap, kebakaran hutan dan lahan, saya mendengar opini dari pemirsa di salah satu televisi swasta bahwa pemerintah tidak bekerja dalam menanggulangi kekeringan, asap, kebakaran hutan dan lahan. Sontak hati saya merasa sakit karena yang sedang saya lakukan sejak sebulan lalu disini seolah-olah tidak ada apa-apanya. Nihil. Kami (BPPT) disini memang diutus oleh BNPB dan BPBD untuk menanggulangi bencana yang sedang terjadi.  Bukan hanya di televisi, tetapi masyarakat sekitar pun mencemooh karena tidak terlihat hasil kerja dari TMC malah bertambah parah. Ya sudah lah, biarlah orang berkata apa karena mereka tidak mengetahui. Yang penting tetap semangat demi kemaslahatan warga sekitar Kalimantan Barat.

Sekitar jam 1 siang saya bersiap untuk naik pesawat Casa A2105, rencana penerbangan heading to six zero until one two zero. Engine on. Sudah 20 menit berlalu namun pesawat belum memasuki runway. Ternyata traffic di Bandara Supadio masih sibuk. Maklum saja sedari pagi visibility mencapai 400 m sedangkan ambang batas yang diperbolehkan 1.2 km. Setelah pesawat dari Lion Air masuk ke taxiway, akhirnya pesawat TNI AU yang saya tumpangi masuk ke runway dan bersiap untuk take off. Pesawat ini memang tidak cepat, tapi masih mampu untuk mengudara di langit Borneo. Tak lupa saya berdoa agar penyemaian ini berhasil dan semua kru pesawat dapat selamat hingga mendarat nanti. Alhasil penyemaian dilakukan di  Kab. Kubu Raya, Kab. Sanggau, dan Kab. Sekadau, Kalbar.

*Para penabur NaCl di ketinggian sekitar 10 ribu feet

Alhamdulillah tadi pagi melihat beberapa bercak berwarna biru dan hijau di profil spasial akumulasi presipitasi dari data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) kemarin hingga tadi pagi di wilayah yang kemarin kami semai. Itu berarti terdapat hujan di sekitar Kab. Kubu Raya, Kab. Sanggau, dan Kab. Sekadau sebesar 0.1-10 mm, atau hujan ringan hingga sedang. Kemarin ada 11 hotspot di Kalbar, hari ini tinggal 7 titik api. Alhamdulillah, semoga usaha kami yang sedikit ini mampu membantu masyarakat Kalbar dari bencana asap, kebakaran hutan dan lahan.

 

Klik video kegiatan TMC di https://www.youtube.com/watch?v=qhD5x7gA3qk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s