Jokowi Masih Saja Berevolusi Mental

Pada jumat siang (11/12) saya sedang berada di perpustakaan BPPT Gedung 2 lantai 4, berniat ingin menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan. Tiba-tiba saja di tengah keheningan perpustakaan, handphone saya bergetar. Nomor yang terhubung sepertinya nomor kantor karena diawali dengan +62 21… Langsung saja saya angkat telepon tersebut. Pikir saya, kalau bukan dari urusan kantor atau urusan penting, maka yang menelpon adalah dari pihak bank atau asuransi yang sedang menawarkan produk-produknya. Gampang saja, jika itu dari bank maka saya langsung jawab “Maaf saya sedang sibuk”.

Terdengar suara seorang pria berumuran 20 tahunan menyapa saya di ujung sambungan telepon disana. Halo… Sambil memastikan keterangan nama saya, pria muda yang mengaku bernama Ardhi dari Kompasiana tersebut mengundang saya untuk makan siang di Istana Negara bersama Presiden Indonesia Joko Widodo. Senyum pun tersungging di pipiku. Mimpi apa aku semalam. Rasanya saya tidak pernah bermimpi bertemu pak presiden tetapi ini merupakan hal yang luar biasa. Ardhi menjelaskan tentang acara tersebut yang merupakan bagian dari rangkaian acara Kompasianival yang diadakan esok hari.

Pakai baju apa? Batik. Boleh pakai jeans? Tidak boleh. Oiya, boleh bawa suami? Kalau suaminya tidak diundang maka tidak boleh. Apa alasannya? Jam 9 harus sudah ada di gandaria city yaa.

Tak sempat saya memikirkan baju apa yang mau dipakai. Apa harus beli malam ini? Namanya juga perempuan. Tapi saya memutuskan untuk mengenakan baju yang sudah ada saja. Asalkan rapi.

Saya dan suami memang merencanakan untuk menghadiri acara kopdar terbesar Kompasianer. Saya sudah mendaftarkan diri via online dan email balasanpun saya terima yang berupa QR Code untuk registrasi saat di TKP. Rasanya tanggal 12 Desember itu lama sekali sejak saya mendaftar di bulan Oktober. Acara ini saya tunggu-tunggu karena tahun kemarin yang tidak sempat hadir karena sedang sakit. Rencana ini sempat dibatalkan karena ada acara mendadak yang memang tidak bisa gantikan. Tetapi Allah memang berkata lain, saya tetap diijinkan untuk mengikuti Kompasianival dan bonusnya adalah makan siang bersama dengan bapak no 1 di Indonesia.

Sesekali saya melirik jam tangan dan melihat jarum panjang berada di angka 4 dan jarum pendeknya di angka 9 lewat. Saya sudah terlambat. Bagaimana kalau tertinggal? Ngga jadi dong ke istananya makan bareng presiden? Ah.. mungkin mereka ngaret. Kesempatan ini kan belum tentu datang dua kali. Tapi saya harus berpikir positif. Kalau memang jodoh bertemu presiden, semesta akan mendukung.

Benar saja, pas saya dan suami sampai di Gandaria City tepat di lokasi Kompasianival di langsungkan, MC sedang membagi-bagikan undangan resmi yang diberikan oleh Sekretaris Negara dalam rangka undangan makan siang. Mereka belum berangkat. Di depan pintu masuk, saya sempat berbincang dengan mas is (atau orang-orang lebih mengenalnya isjet), seputar pekerjaan yang kini saya sedang saya jalani. Bincang-bincang kami harus terpotong karena nama saya dipanggil oleh MC untuk menerima undangan tersebut.

Memang tidak bisa disalahkan atas penentuan 100 orang yang terpilih untuk mengikuti makan siang bersama pak Presiden karena penentuan ini benar-benar mendadak. Orang-orang yang dipilih pun bisa jadi cenderung subjektif. Tetapi saya sangat menghargai kepada pihak Kompasiana yang memilih karena saya tahu hal ini sangatlah tidak mudah. Di rencana awal, pak presiden akan membuka langsung acara Kompasianival 2015 di Gandaria city. Apa daya jika Pak presiden berhalangan untuk menghadiri acara tersebut secara mendadak. Dan saya pun yakin, pihak Kompasiana tidak bermaksud pilih kasih kepada Kompasianer-kompasianer setianya.

Para undangan hadir di acara makan siang bersama Pak Presiden dengan menganakan Batik. Saya pikir tak sedikit orang yang memilih batik-batik terbaiknya untuk dikenakan saat makan bersama pak Presiden. Semua berusaha tampil serapih mungkin dihadapan Pak Presiden. Ketika masuk ke ruang pertemuan sudah ada beberapa meja bundar yang di tata rapi yang akan digunakan untuk makan siang. Saya memilih tempat duduk yang berada di tengah ruangan bersama wanita-wanita Kompasianer. Di meja bundar tersebut sudah tersaji 3 sendok sup, satu sendok makan, dan satu garpu ditemani dengan serveit yang dihias cantik serupa dengan kipas.

20 menit kemudian pak presiden masuk ke ruangan. Kami hampir serentak berdiri dan langsung menghampiri pak Presiden. Saya yang berada di tengah ruangan tidak perlu lagi mengambil posisi yang tepat agar pak presiden menerima salam saya. Dari pandangan pertama saya, tak menyangka, pak presiden justru masih setia mengenakan baju putih hitamnya. Yang saya ingat betul adalah ujung bajunya tidak dimasukan ke dalam celana hitamya. Sambil menebar senyum, pak presiden menikmati saja bersalaman dengan 100 orang Kompasianer ini. Mungkin sudah terbiasa blusukan.

Sesampainya di ujung jalan, pak Presiden meraih mic yang berdiri di sebelah kanan panggung yang berlatarkan peta Indonesia. Kami yang sudah haus mendengarkan wejangannya bersiap untuk mendengarkan. “Serius amat, makan dulu yuk!” kata beliau yang langsung disambut tawa para hadirin.

Saya tidak begitu hafal dengan makanannya karena saya tidak menikmati semua jenis makanan tersebut. Bukan karena makanannya tidak enak, tetapi saya sedang tidak enak badan. Saya ambil sedikit nasi kemudian saya isi mangkuk dengan sop buntut yang segar. Ada pula sate sapi, udang apa…, martabak apa… Beginilah kalau sedang tidak menikmati makanan. Lupa dengan apa yang dimakan. Tapi, ada satu yang diingat yaitu es buahnya yang segar, terdiri dari pepaya dan beberapa buah lainnya, ada cingcau, dan selasih. Yang jelas, makanan yang tersedia hampir sebagian besar berasal dari Asia terutama Indonesia karena di meja makan tidak disediakan pisau.

Beberapa Kompasianer dipersilahkan oleh Mas Isjet untuk memberikan uneg-unegnya di hadapan pak Presiden. Ada yang berkisah tentang pekerjaannya di Hongkong, kondisi kehidupannya di Bali, semangat para Ambonia, kisah ibu yang memperjuangkan hak-hak anaknya, dan masih banyak lagi. Beberapa hal penting yang diungkapkan oleh Kompasianer di catat oleh Pak Presiden dalam catatan kecilnya. Semua ini tetantang mengubah sistem dan hal tersebut tidak semudah membalikan telapak tangan. Tidak banyak orang yang mau turut dalam perubahan sistem tersebut. Pasti ada halangan dan tantangan. Seperti yang ia ceritakan ketika menjadi walikota, tahun pertama dan kedua, masyarakat masih enggan bergerak. Baru di tahun ketiga masyarakat mulai bergerak, itupun masih sebagiannya. Diperlukan kekonsistenan dalam menjalankan suatu sistem baru ini.

Satu hal yang menyangkut dipikiran saya ketika pak Jokowi berpidato yaitu “Revolusi Mental”. Poin ini memang tidak dikatakan langsung tetapi memang revolusi mental ini diperlukan oleh bangsa kita yang mentalnya sudah hampir hancur, budaya ketimuran sudah luntur, tidak semangat, tidak percaya diri, dan lain sebagainya. Jangan takut menghadapi pasar bebas, lihat lah anak-anak muda kita ini sudah mulai membuka lapaknya di media online, produk Indonesia yang memiliki kualitas mendunia, dan SDM yang mumpuni.  Justru negara-negara tetangga lah yang takut terhadap negara kita. Kita harus percaya diri dengan apa yang kita miliki. Janganlah memisahkan-misahkan diri. Lovers or haters. Kita satu Indonesia. Ayo, mulai dari sekarang kita bangkit dan bersatu (udah kaya kampanye aja, hehehe). Ini bukan ungkapan rasa bangga saya terhadap pak Presiden tetapi rasa kecintaan saya terhadap negeri tercinta.

“Kalau kamu ingin menjelek-jelekan saya, silahkan. Tapi jangan coba-coba menjelek-jelekan Indonesia” Jokowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s