Mencuci Otak dari Pengalaman “Buka-bukaan Dunia Tambang”

20160428002503

Cover buku Buka-bukaan Dunia Tambang

Judul: Buka-bukaan Dunia Tambang
Penulis: Peserta Sustainable Mining Bootcamp Newmont
Penerbit: Pastel Books (Dist. Mizan Media Utama)
Tebal: 190 halaman
Tahun: 2016

Pagi itu saya sangat bersemangat untuk berangkat ke Batu Hijau, Sumbawa Barat dimana saya akan diperkenalkan dengan dunia tambang. Saya pastikan bahwa segala kebutuhan saat saya di Sumbawa telah masuk ke dalam dua ransel berukuran sedang. Ini akan menjadi perjalanan tak terlupakan, pikir saya. Karena saya sendiri belum tahu sama sekali mengenai tambang secara langsung paling tidak seluruh indera saya belum pernah merasakannya. Yang saya tahu hanya opini-opini yang ada di publik. Tanpa tahu kebenarannya saya pun ikut-ikutan menghakimi tambang.

Sebelum ini, saya hanya berpendapat bahwa tambang itu merusak alam. Bagaimana bisa orang-orang dengan seenaknya menggali perut bumi yang terbentuk dalam proses yang sangat panjang. Pada awalnya berupa gunung-gunung nan indah, kini menjadi lembah. Sebelumnya kaya akan keanekaragaman hayati, kini hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan pun terusir dari habitat aslinya. Selain berdampak kepada lingkungan, aktivitas tambang nantinya juga akan merusak sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Hal pertama yang kedua mata saya lihat ketika memasuki kawasan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) adalah kepedulian terhadap lingkungan yang sangat besar. Segala macam markah yang menandakan pentingnya menjaga lingkungan terpampang di setiap sudut jalan. Ternyata, PTNNT juga memperlakukan kawasan bekas tambang dengan sebaik-baiknya dan mengembalikan segala sesuatunya seperti sebelum ditambang terutama dari segi keanekaragaman hayati.

Tak hanya di kawasan inti pertambangan saja, tetapi di sebagian besar kawasan Sumbawa Barat mendapat perhatian dari PTNNT ini. Seperti yang telah ditulis oleh partisipan-partisipan Newmont Bootcamp dalam buku Buka-bukaan Dunia Tambang. Beberapa dari mereka sangat terkesan akan keindahan alam yang tetap terjaga di kawasan tambang. Primadonanya adalah Pantai Maluk. Di sinilah kali pertama kami diajak ke pantai di kawasan Sumbawa Barat. Seperti yang diulas oleh Barry Kusuma, selain pantainya yang indah dan bersih, ada yang memanjakan lidah kita ketika datang ke Pantai Maluk yaitu dendeng pedas bernama Rarit. Rasanya yang pedas-pedas asam tidak dapat dilupakan oleh pengunjung Pantai Maluk. Selain Pantai Maluk ada pula pantai Rantung, Tropical, Lawar, dan Teluk Benete yang keindahan pantainya yang jarang saya temukan di garis pantai Pulau Jawa.

DSC_9565.JPG

Keindahan alam harus tetap terjaga (difoto oleh Lalu Budi K)

 

Rasa penasaran saya tentang tambang tidak hanya sampai di situ. Saya masih ingin melihat langsung bagaimana isi perut bumi dikeruk, lalu diangkut, diolah, dan yang paling penting adalah bagaimana sampah dari tambang dibuang. Soal sampah ini dibahas oleh Fajri Satria Hidayat yang berkesempatan langsung untuk melihat bagaimana buangan tambang dibuang. Buangan itu bernama tailing yang berasal dari proses ekstraksi mineral berharga dari batuannya. Saya sempat lihat pipa tailing yang besar dengan diameter mencapai 1,12 meter sehingga tubuh saya pun masuk ke dalam pipa yang mengalirkan buangan hingga 120.000 ton/hari. Semua sampah itu dibuang ke laut dengan metode Deep Sea Tailing Placement. Tentunya metode ini diterapkan dengan proses perhitungan yang akurat sehingga air laut di Teluk Senunu tidak tercemar. Pemantauan pun terus dilakukan secara berkala agar tidak terjadi kebocoran yang dapat merusak alam bawah laut.

Menjelajah pertambangan dalam beberapa hari saja sebenarnya tidak cukup, apalagi saya baru pertama kali ke sini. Perlu informasi lebih mendalam mengenai kehidupan di sekitar tambang yang sudah merasakan perubahan yang terjadi dengan kehadiran PTNNT. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi kami terjun langsung ke masyarakat yang disekitar tambang. Seperti yang ditulis Denny Reza Kamarullah dalam Buka-bukaan Dunia Tambang, bahwa masyarakat sekitar tambang terutama Sekongkang, Jereweh, dan Maluk telah mengidap penyakit Dutch Disease. Penyakit ini umumnya terjadi di negara-negara yang memiliki sumberdaya alam dan mineral yang melimpah seperti Indonesia. Karena sangat ketergantungan, maka jika sumber ekonomi mereka hancur, tak ada lagi yang bisa mereka andalkan.

Pada saat di desa Sekongkang, saya sempat bertanya-tanya dengan salah satu penduduk asli Sekongkang yang sedang mengantre membeli minyak tanah. Bapak paruh baya tersebut dengan menggebu-gebu menyalahkan PTNNT kurang “memanjakan”masyarakat sekitar. “Lihatlah anak-anak kami tidak diterima untuk bekerja di sana (Newmont)”. Tetapi, ketika saya bertanya bahwa suatu saat nanti Newmont akan benar-benar tutup, apa yang akan mereka lakukan? Bapak itu hanya diam seribu bahasa menerawang hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Dalam hal ini, kolaborasi antar pemerintah dan PTNNT sangat diperlukan untuk keberlanjutan hidup masyarakat sekitar. Lalu peran pemerintah atau Newmontkah yang belum dijalankan dengan optimal?

20150123_075804

Keberlanjutan kehidupan masyarakat sekitar menjadi taruhannya (dok. Pribadi)

Selepas kami mengelilingi dunia tambang selama seminggu, ternyata banyak orang-orang yang menganggap kita telah dicuci otaknya. Yang baik-baiknya kita bawa pulang, yang jelek-jeleknya kita berikan ke PTNNT untuk perbaikan seperti yang ditulis oleh Dhanang Puspita. Adella Adiningtyas pun harus berdebat sengit tentang tambang dengan kawan-kawan kampusnya. Itu hal yang wajar, karena kita mendapatkan pelajaran yang baru tentang dunia tambang. Mungkin saya juga akan berdebat dengan pandangan negatif jika saya belum pernah melihat, mendengar, dan merasakan dunia tambang itu sendiri. “Biarlah orang-orang berkata kami dicuci otaknya, tapi di sana memang kami mencuci otak kami sendiri-sendiri dari bayang-bayang keburukan dan akhirnya kami menemukan sisi baiknya” kata Dhanang.

Buku yang diterbitkan oleh Pastel Books ini memang dibuat untuk mengumpulkan cerita-cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi peserta kegiatan Newmont Bootcamp. Lebih dari 20 orang penulis dari berbagai latar belakang menuliskan berdasar pemikirannya masing-masing. Ada yang berlatar belakang mahasiswa, blogger, dosen, guru, fotografer, dan lain-lain. Hal ini membuat buku Buka-bukaan Dunia Tambang memiliki warna yang berbeda di setiap tulisannya. Gaya tulisan yang naratif membuat buku ini menjadi ringan untuk dibaca semua kalangan.

_MG_1461.JPG

Merasakan langsung apa yang ada di pertambangan (dok. pribadi)

Sayangnya, buku dengan konten yang bagus ini tidak diimbangi tampilan memanjakan visual yang cukup di setiap tulisan sehingga pembaca dapat merasakan langsung keadaan yang sesungguhnya di kawasan Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat. Padahal, beberapa artikel membeberkan keindahan-keindahan alam yang ada di Batu Hijau. Tulisan ini akan lebih dinikmati pembaca jika terdapat foto dokumentasi yang menyertainya.

Terdapat juga istilah-istilah asing baik itu dalam dunia pertambangan maupun di luar itu yang tidak dijelaskan secara detail misalnya kata floatation dan smelter. Seharusnya diberikan catatan kaki atau glosarium untuk memberikan penjelasan singkat untuk istilah tersebut. Selain itu, untuk melengkapi artikel diberikan deskripsi singkat mengenai penulis sehingga pembaca mengetahui latar belakang penulis yang beragam.

Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca yang belum pernah melihat dan merasakan langsung kawasan pertambangan khususnya di PT Newmont Nusa Tenggara. Pembahasanya lengkap mulai dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial serta pengalaman menarik mulai dari naik haul truck yang tingginya mencapai 7 meter hingga merasakan segarnya air terjun Perpas. Buku ini akan memberikan pandangan baru terhadap dunia tambang berdasarkan pengalaman para peserta Newmont Bootcamp. Yuk, cari tahu selengkapnya dalam buku ini dan rasakan pengalaman menariknya!

DSC_8020

Wawasan baru tentang dunia tambang (difoto oleh Lalu Budi K)

 

Puasa Ketika Hamil, Amankah?

bumil-puasa_20150617_103131(ilustrasi: tribunnews.com)

“Dok, boleh ngga kalau saya puasa?”

Pertanyaan itu sebenarnya sudah terngiang-ngiang di kepala saya sejak beberapa minggu yang lalu. Sejak kontrol kehamilan terakhir, saya memang belum mau menanyakan pertanyaan ini karena saya masih merasa kurang kuat untuk menjalankan puasa. Hal ini tentu saja disebabkan oleh rasa mual yang saya alami di trimester pertama kehamilan.

Agak ragu memang untuk berniat menjalankan puasa karena dalam kondisi tidak puasa saja rasanya perut cepat lapar. Bawaannya ingin ngemil. Gimana bisa massa tubuh ini tidak bertambah? Bobot tubuh saya pada awal kehamilan (mulai sensitif dengan berat badan) sekitar 54 kg. Kata orang, berat badan saya ini masih tergolong normal dengan tinggi badan saya. Seiring berjalannya waktu kehamilan berat badan saya pun meningkat hingga pada minggu ke-24 ini sudah naik 7 kilogram! Padahal bayi dalam kandungan diperkirakan massa tubuhnya sekitar 600 gram (kurang dari sepersepuluh dari kenaikan berat). Dengan mengetahui berat badan yang kian meningkat, bukan berarti saya mengurangi asupan makanan yang biasa saya konsumsi. Hanya saja saya mulai memilih-milih makanan yang tidak terlalu banyak gulanya.

Kenapa saya berkeinginan untuk berpuasa di masa kehamilan saya? Padahal, tidak berpuasa juga tidak apa-apa kan? Toh ini kan bukan bulan Ramadhan yang mewajibkan umat muslim untuk menunaikan ibadah puasa. Alasan yang pertama adalah saya masih punya tunggakan puasa di bulan Ramadhan tahun lalu. Sempat menggantinya sebagian, namun sebagian lagi belum terpenuhi. Karena sudah menjadi kewajiban saya mengganti puasa, maka akan menjadi beban jika tidak disegerakan. Alasan kedua adalah untuk melatih saya berpuasa wajib di bulan Ramadhan yang akan datang.  Bulan Ramadhan ini (insya Allah) jatuh di awal bulan Juni dan berakhir di awal bulan Juli dan diperkirakan pada saat itu saya sedang hamil tua memasuki umur 8 bulan. Tentunya ada beban tersendiri bagi saya yang belum pernah menjalankan puasa di masa kehamilan. Jika saya membiasakan diri di trimester kedua ini untuk menjalankan puasa sunnah senin-kamis, insya Allah di bulan Ramadhan nanti saya sudah terbiasa. Alasan yang ketiga adalah untuk membiasakan kebiasaan baik kepada buah hati saya yang diajarkan sejak masih dalam kandungan. Insya Allah akan memberikan manfaat kebaikan tersendiri.

Kembali lagi ke pertanyaan yang saya ajukan kepada ibu dokter Farah Dina. Dengan gayanya yang murah senyum, bu dokter pun langsung menjawab tanpa basa-basi. Bu dokter membolehkan saya berpuasa senin-kamis di masa kehamilan saya sekarang ini karena sedang berada di masa kehamilan yang aman. Adapun masa kehamilan yang sekiranya diperbolehkan untuk menjalankan puasa adalah sekitar 4-7 bulan atau sekitar trimester kedua. Kondisi kehamilan di trimester pertama dan ketiga tidak dianjurkan berpuasa karena pada trimester pertama si bayi memerlukan nutrisi yang cukup dan kondisi kehamilan yang masih belum kuat. Si ibu pun masih mengalami morning sick, dimana asupan nutrisi sangat dibutuhnya. Sedangkan pada trimester ketiga ditakutkan tubuh si ibu tidak kuat/fit saat proses melahirkan karena nutrisi yang kurang. Namun, bu dokter menambahkan banyak ibu hamil yang tetap melaksanakan puasa di trimester 3, dan dalam kondisi baik-baik saja. Dalam hal ini yang harus diingat adalah kondisi kehamilan setiap orang berbeda-beda, jadi tetap harus konsultasi pada bidan/dokter masing-masing.

Alhamdulillah saya sudah menjalankan puasa sunnah walaupun baru dua kali dan keduanya full sampai adzan maghrib berkumandang. Dalam menjalankan puasa, saya pun tidak memaksakan diri. Dengan niat sepenuh hati, namun jika saya tidak kuat maka saya akan membatalkan puasa saya tersebut.  Saya juga mengajak bicara si bayi, kalau hari ini saya akan berpuasa dan menguatkan si bayi agar kuat hingga waktunya berbuka puasa. Alhamdulillah, selama saya menjalankan puasa saya tidak merasa lapar dan lemas. Padahal di hari-hari yang lain, saya selalu merasa lapar meskipun belum masuk jam makan. Semoga puasa sunnahnya bisa dilanjutkan, Aamiin.

Dalam Islam, ibu hamil dan ibu menyusui diberi keringanan dalam menjalankan puasa yaitu boleh tidak puasa atau membatalkan puasa dan menggantinya dengan puasa di bulan-bulan lain baik disertai dengan fidyah maupun tidak. Tentu saja dengan alasan si ibu merasa tidak mampu menjalankannya, atau demi kesehatan dan keselamatan janin. Dikutip dari bidanku.com ada beberapa kasus dimana si ibu tidak diperkenankan untuk menjalankan puasa yaitu, menderita kencing manis/diabetes, hipertensi, pendarahan, dehidrasi, gangguan pencernaan, dan gangguan lainnya yang dapat memperburuk kondisi ibu hamil.

Ada beberapa tips untuk ibu hamil yang merasa kondisi badannya fit dan mampu menjalankan puasa. Ketika sahur diperbanyak minum air putih, minum susu ibu hamil, makan buah-buahan, dan makanan yang bernutrisi. Ketika berbuka dianjurkan dengan yang manis (dengan batasan tentunya) untuk meningkatkan gula darah, tidak langsung makan berat (bertahap), dan tetap dengan makanan yang bernutrisi (sumber kutipan). Komposisi makanan seimbang adalah 50% karbohidrat (nasi, gandum, singkong, dll), 30% protein (daging ayam, daging sapi, tahu, tempe, dll) dan 10-20% lemak (minyak, kacang-kacangan, dll) dan sayur-sayuran (sumber kutipan). Semoga bermanfaat…


Update:

Setelah mencoba puasa selama bulan Ramadhan full, dengan niat penuh untuk menunaikan kewajiban, ada manfaat lain yang saya dapatkan ketika menjalani puasa wajib di kehamilan bulan ke 8. Ketika kondisi bayi sedang naik berat badannya secara pesat, justru bobot badan saya tidak naik sama sekali selama sebulan. Sempat ada kekhawatiran jika berat badan bayi juga tidak naik. Ternyata, berat badan bayi cenderung naik (dengan bobot normal sesuai dengan umur kehamilan) dan alhamdulillah dalam kondisi sehat. Yang terpenting adalah ibu tetap mengatur pola makan dengan makanan yang sehat dan tidak mengurangi asupan makanan seperti sebelum puasa. Jangan lupa selalu diminum vitaminnya dan juga susu kehamilannya.

Trimester 2: Saya Mengalami Pregnancy Blues

When-were-pregnant-we-regress-childlike-behavior-too.jpg

ilustrasi gambar: popsugar.com

Akhirnya sudah masuk trimester dua, selamat ya dek. Karena perut yang memang sudah buncit sebelum hamil, kadang saya masih tidak percaya ada segumpal daging yang bernyawa dalam perut saya. Hal ini membuat perasaan aneh antara bahagia dan misterius karena saya merasakan kebahagiaan tanpa pernah melihat, menyentuh, mendengar secara langsung sosok bayi mungil ini. Aneh juga ketika saya mulai berbicara sendiri sambil mengelus-ngelus perut…

Masuk ke trimester ke dua ini membuat saya sedikit bernapas nega, karena di trimester sebelumnya saya merasakan yang namanya morning sickness, atau mungkin bisa dibilang whole day sickness karena tidak mengenal waktu. Penyebab morning sickness ini bisa bermacam-macam terutama karena perubahan hormon progesteron yang dialami ibu hamil. Perasaan mual ini sering datang pada saat-saat tertentu. Yang pertama adalah pada pagi hari, mungkin disebabkan oleh kondisi lambung yang masih kosong dan asam lambung tinggi. Sering saya merasakan mual dan ingin muntah ketika kondisi perut kosong atau belum di isi makanan. Yang kedua adalah pada jam 10-12 siang ketika menunggu makan siang. Alasannya sama yaitu karena perasaan lapar tersebut.

Yang ketiga adalah ketika memasuki rumah. Ini sebenarnya agak aneh karena setiap pulang kerja, tepat di depan rumah saya mulai merasakan mual, lalu cepat-cepat membuka daun pintu dan berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut yang tadi siang sudah diisi oleh makanan. Itu berulang terus menurus paling tidak selama sebulan lamanya. Kondisi mual yang terakhir adalah ketika mencium aroma makanan tajam seperti nasi goreng, pecel lele (karena aroma minyak gorengnya), aroma msg (monosodium glutamat, biasanya ada di makanan seperti bakso), bau tumisan, dan lain sebagainya. Kondisi ini juga dialami oleh sebagian bumil lainnya.

Dari kondisi tersebut, saya perlu menyiasati kondisi yang tidak nyaman ini. Beberapa trik yang saya lakukan cukup berhasil untuk mengurangi mual. Yang pertama adalah selalu sedia cemilan di dalam tas, karena kalau perut sudah mulai lapar sedikit, senjata langsung dikeluarkan yaitu cemilan. Pemilihan cemilan sesuai dengan selera saya, karena ada beberapa cemilan yang tidak saya suka dan kalau dipaksakan malah menimbulkan rasa mual lagi. Tetap saja hidari cemilan yang kurang baik dan berbahaya bagi bayi, lebih baik cemilan berupa buah-buahan atau bisa juga biscuit, wafer, cookies, dll. Waktu memakannya juga disesuaikan dengan waktu rawan mual, misalnya sebelum bangun dari tempat tidur di pagi hari, sediakan sedikit cemilan untuk mengisi perut.

Pregnancy blues…
Di trimester kedua ini, saya sering tiba-tiba merasa blues, perasaan depresi, galau, sedih, dan ingin menangis. Perasaan ini timbul karena tiba-tiba saya dipikiran saya terlintas tentang pemikiran-pemikiran yang membuat saya sedih. Misalkan, tiba-tiba saja saya memikirkan bagaimana nanti jika bayi saya ketika sudah lahir menangis tengah malam? Bagaimana jika saya tidak bisa meredakan tangisannya? Bagaimana jika tidak ada dukungan dari suami dan orang-orang terdekat? Dan tak tahu kenapa semua pertanyaan itu membuat saya sedih.

Kondisi ini mirip dengan sindrom yang banyak orang kenal yaitu baby blues. Seperti yang diketahui, baby blues merupakan sindrom yang dialami oleh ibu yang baru saja melahirkan bukan pada ibu hamil dan biasanya terjadi hingga 2 minggu setelah melahirkan. Jika kondisi diperparah dengan terus terjadi hingga lebih dari 2 minggu, maka ibu tersebut mengalami post partum depression (PPD) dan bisa memberikan dampak negatif yang berlanjut kepada ibu dan bayinya.

Jika dikutip dari http://www.babycenter.in/ depresi yang terjadi selama kehamilan itu bisa terjadi pada 10% lebih ibu hamil. Penyebabnya bisa karena depresi masa lalu, stress, kesepian, masalah kesuburan di masa lalu, masalah kehamilan yang sedang dialami (seperti morning sickness), dan penyiksaan yang pernah dialami.

Apa pun jenis depresi yang saya alami tersebut, saya harus sadar bahwa itu tidak baik bagi kesehatan lahir dan batin saya maupun bayi yang sedang dikandung. Oleh karena itu, saya mulai mencari-cari kegiatan yang dapat (setidaknya) membuat saya merasa happy. Berikut adalah pengalaman saya yang cukup ampuh untuk mengurangi depresi yang saya alami.

1. Memasak dan mencari menu baru. Di trimester pertama, saya hampir tidak pernah menyentuh kompor untuk memasak karena rasa mual yang saya alami jika mencium bau-bau masakan. Mulai masuk ke trimester kedua, saya mulai mau memasak walaupun masih ada bahan makanan tertentu yang membuat saya agak mual. Kegitan masak-memasak ini membuat mood saya kembali normal, apalagi tadi siang saya melihat video masak terbaru yang kelihatannya mudah dan enak untuk dicoba. Hmmm…

2. Mengobrol dengan kawan lama. Depresi yang saya alami biasanya muncul ketika saya mulai terdiam, ketika tidak ada yang saya kerjakan. Disanalah pemikiran-pemikan aneh yang membuat saya depresi muncul. Pada suatu saat ketika saya berbincang-bincang dengan kawan lama (tak sengaja bertemu dan akhirnya ngobrol panjang) saya justru lupa dengan depresi yang saya alami. Hati saya juga menjadi happy. Pada hari lain ketika depresi mulai memasuki pikiran saya lagi, saya coba mengirimkan pesan singkat ke kawan lama yang jarang saya sapa. Ternyata ampuh untuk menghilangkan depresi walau tak menjamin depresi itu akan datang lagi.

3. Membuat buku diary. Kadang kita tidak tahu kemana akan mencurahkan hati ketika depresi. Depresi itu sering datang ketika kita tidak sedang bersama suami. Akhirnya saya mencoba untuk menuliskan keluahan-keluahan yang saya alami di buku diary. Buku diary yang saya tulis pun saya berikan sedikit sentuhan warna-warna dan gambar-gambar menggunakan pensil warna agar mengembalikan mood happy.

4. Menonton film. Menonton film terbaru maupun yang sudah lawas menjadi salah satu kegiatan saya untuk menghilangkan depresi yang saya alami. Kemarin suami mengajak saya nonton film terbaru seperti kungfu panda dan superman vs batman.

5. Jalan-jalan bersama keluarga. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa berkumpul bersama keluarga. Dengan duduk bersama orang-orang tercinta, dukungan pun mengalir tiada hentinya. Mereka akan membantu menguatkan kita dari depresi ketika hamil. Apalagi jika mengajak mereka sambil jalan-jalan, kebetulan ada libur panjang. Aahh… tidak ada yang saya ucapkan selain syukur karena memiliki keluarga yang menyenangkan

6. Berenang sepertinya oke. Karena kehamilan saya sudah memasuki 5 bulan maka saya sudah diperbolehkan beraktifitas olahraga ringan seperti berjalan kaki, berenang, senam ibu hamil dan lain sebagainya. Saya senang sekali berenang. Walaupun belum dicoba, tapi pasti menyenangkan.

7. Yang satu ini adalah kegiatan yang sangat ampuh untuk menghilangkan depresi saya yaitu shalat. Selain menjalankan kewajiban shalat 5 waktu, saya juga menambah intensitas shalat sunnahnya. Selain itu, membaca kitab suci Al-Quran juga membuat mood normal kembali. Tentu saja dengan menyucikan diri dengan berwudhu, memfokuskan niat shalat hanya karna Allah SWT, memanjatkan doa-doa, bersyukur, memohon ampun, dan meminta petunjuk akan membuat hati kita lebih tenang dan insya Allah memberikan manfaat yang luar biasa bagi ibu dan bayinya. Aamiin

Sekarang, saya sudah setengah perjalanan menuju dunia baru menjadi ibu. Tentunya masa-masa kehamilan ini saya manfaatkan untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat. Masa kehamilan ini juga saya manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta karena atas karunianya bayi ini dapat tumbuh dengan sehat. Dan tak lupa untuk selalu happy… Semoga pengalaman ini bermafaat…

Antara Menikah, Belum Menikah, dan Tidak Menikah

IMG_2140.JPG

Tiba-tiba merasa tersentak dengan sebuah artikel yang dishare oleh salah satu teman facebook saya. Inti dari status tersebut adalah “Kenapa sih kalian kebelet sekali menikah?”. Dari judul artikelnya saja saya langsung tersentak. Kenapa? Karena saya sudah menikah. Langsung saja saya buka tautan tersebut. Benar saja isinya berupa alasan-alasan dengan sedikit pembelaan bahwa menikah itu tidak wajib. Memang tidak wajib kalau menurut hukum dari kepercayaan yang saya anut, tetapi itu sunnah. Sunnah adalah yang paling dekat dengan wajib. Bahkan sedari kecil, baik dari pengajaran orang tua hingga guru agama di sekolah menasehati agar kita selalu menjalankan kewajiban kita sebagai muslim dan menjalankan sunnah dari Rasulullah SAW.

Saya dan suami memutuskan untuk menikah karena kami tidak memiliki alasan lagi untuk tidak menikah. Perjalanan pendekatan selama 2 tahun bukanlah waktu yang sebentar dan bukan juga waktu yang terlalu lama. Alhamdulillah kami sudah bekerja dan sama-sama sudah cukup umur. Suami (dulu calon) adalah orang yang baik di mata saya dan keluarga juga taat beragama. Saya juga sudah cukup mengenal keluarga suami, keluarganya baik-baik. Dan yang terakhir adalah, calon suami saya kala itu cukup ganteng dan menyejukan hati, tentunya sampai sekarang. Suitswiww.

Pertimbangan saya tersebut, insya Allah sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”. Tentunya yang utama itu karena agamanya.

Skip dulu cerita alasan saya untuk menikah. Sekarang saya ingin menceritakan cerita orang-orang terdekat saya yang belum menikah. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang belum menemukan yang pas, ingin melanjutkan sekolah, ingin meniti karir, masih trauma, orang tua belum setuju, ingin sendiri dulu, senang-senang dulu, dan lain sebagainya. Bahkan diantaranya, maaf, diumurnya seharusnya sudah bisa menimang cucu. Tanggapan saya tentang cerita orang-orang tersebut adalah mungkin belum jodohnya, mungkin Allah sedang mencarikan yang terbaik, terus berusaha insya Allah dipertemukan dengan yang cocok… Dan saya tahu banget kalau memilih atau bahkan menemukan jodoh itu tidak mudah. Malah, Gajah di depan mata aja kadang tidak terlihat, yang terlihat malah semut di ujung samudera sana.

Menurut sebagian orang saya sok bijak karena saya sudah menikah. Tapi bener deh, kalau pun ada orang yang ingin menikah, saya akan menceritakan yang enak-enaknya saja. Manfaatnya, suka citanya, rasa galau, stres pun menjadi nikmat. Alhamdulillah. Karena semua itu nikmat dari Allah. Percaya deh, Allah itu sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan, pria dan wanita, pria yang baik untuk wanita yang baik, begitu pula sebaliknya. Jadi tetaplah berusaha juga berdoa. Berusaha memperbaiki diri agar dipantaskan untuk bersanding dengan pasangan yang baik. Juga berdoa  bahwa semua keputusan terbaik diserahkan kepada Allah dan tetap bersyukur. Insya Allah

Bagaimana kalau orang yang tidak mau menikah? Saya saja masih bingung kenapa ada orang yang tidak mau menikah padahal Allah sudah menjanjikan yang baik-baik bagi orang yang ingin berniat baik untuk menikah. Rejeki ditambah, nikmat ditambah, insya Allah menambah pundi-pundi pahala, dan masih banyak lagi (googling aja, pasti banyak dapet infonya).

Bagi yang belum menikah namun merasa terganggu dengan bully dari orang-orang sekitar “Kapan nikah? Ko belum nikah? Inget umur loh!” Tidak semua orang tahu apa yang sedang kita lakukan bahkan apa yang sedang kita pikirkan. Begitu pula kita pun tidak tahu apa yang orang lain lakukan maupun apa yang mereka pikirkan. Kalau memang kita sedang berusaha, yaa sudah katakan saja saya sedang berusaha. Tak perlu kita mencemooh, “kenapa sih tanya-tanya, urusin aja urusan lo!”. Insya Allah, in the right time we will find the right person”

Saya memang bukan ahlinya dalam urusan pernikahan (mungkin bisa ditanyakan ke ahlinya pak Cahyadi Takariawan), tapi sejauh ini yang saya rasakan meskipun belum satu tahun menikah, janji Allah itu pasti.