Antara Menikah, Belum Menikah, dan Tidak Menikah

IMG_2140.JPG

Tiba-tiba merasa tersentak dengan sebuah artikel yang dishare oleh salah satu teman facebook saya. Inti dari status tersebut adalah “Kenapa sih kalian kebelet sekali menikah?”. Dari judul artikelnya saja saya langsung tersentak. Kenapa? Karena saya sudah menikah. Langsung saja saya buka tautan tersebut. Benar saja isinya berupa alasan-alasan dengan sedikit pembelaan bahwa menikah itu tidak wajib. Memang tidak wajib kalau menurut hukum dari kepercayaan yang saya anut, tetapi itu sunnah. Sunnah adalah yang paling dekat dengan wajib. Bahkan sedari kecil, baik dari pengajaran orang tua hingga guru agama di sekolah menasehati agar kita selalu menjalankan kewajiban kita sebagai muslim dan menjalankan sunnah dari Rasulullah SAW.

Saya dan suami memutuskan untuk menikah karena kami tidak memiliki alasan lagi untuk tidak menikah. Perjalanan pendekatan selama 2 tahun bukanlah waktu yang sebentar dan bukan juga waktu yang terlalu lama. Alhamdulillah kami sudah bekerja dan sama-sama sudah cukup umur. Suami (dulu calon) adalah orang yang baik di mata saya dan keluarga juga taat beragama. Saya juga sudah cukup mengenal keluarga suami, keluarganya baik-baik. Dan yang terakhir adalah, calon suami saya kala itu cukup ganteng dan menyejukan hati, tentunya sampai sekarang. Suitswiww.

Pertimbangan saya tersebut, insya Allah sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”. Tentunya yang utama itu karena agamanya.

Skip dulu cerita alasan saya untuk menikah. Sekarang saya ingin menceritakan cerita orang-orang terdekat saya yang belum menikah. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang belum menemukan yang pas, ingin melanjutkan sekolah, ingin meniti karir, masih trauma, orang tua belum setuju, ingin sendiri dulu, senang-senang dulu, dan lain sebagainya. Bahkan diantaranya, maaf, diumurnya seharusnya sudah bisa menimang cucu. Tanggapan saya tentang cerita orang-orang tersebut adalah mungkin belum jodohnya, mungkin Allah sedang mencarikan yang terbaik, terus berusaha insya Allah dipertemukan dengan yang cocok… Dan saya tahu banget kalau memilih atau bahkan menemukan jodoh itu tidak mudah. Malah, Gajah di depan mata aja kadang tidak terlihat, yang terlihat malah semut di ujung samudera sana.

Menurut sebagian orang saya sok bijak karena saya sudah menikah. Tapi bener deh, kalau pun ada orang yang ingin menikah, saya akan menceritakan yang enak-enaknya saja. Manfaatnya, suka citanya, rasa galau, stres pun menjadi nikmat. Alhamdulillah. Karena semua itu nikmat dari Allah. Percaya deh, Allah itu sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan, pria dan wanita, pria yang baik untuk wanita yang baik, begitu pula sebaliknya. Jadi tetaplah berusaha juga berdoa. Berusaha memperbaiki diri agar dipantaskan untuk bersanding dengan pasangan yang baik. Juga berdoa  bahwa semua keputusan terbaik diserahkan kepada Allah dan tetap bersyukur. Insya Allah

Bagaimana kalau orang yang tidak mau menikah? Saya saja masih bingung kenapa ada orang yang tidak mau menikah padahal Allah sudah menjanjikan yang baik-baik bagi orang yang ingin berniat baik untuk menikah. Rejeki ditambah, nikmat ditambah, insya Allah menambah pundi-pundi pahala, dan masih banyak lagi (googling aja, pasti banyak dapet infonya).

Bagi yang belum menikah namun merasa terganggu dengan bully dari orang-orang sekitar “Kapan nikah? Ko belum nikah? Inget umur loh!” Tidak semua orang tahu apa yang sedang kita lakukan bahkan apa yang sedang kita pikirkan. Begitu pula kita pun tidak tahu apa yang orang lain lakukan maupun apa yang mereka pikirkan. Kalau memang kita sedang berusaha, yaa sudah katakan saja saya sedang berusaha. Tak perlu kita mencemooh, “kenapa sih tanya-tanya, urusin aja urusan lo!”. Insya Allah, in the right time we will find the right person”

Saya memang bukan ahlinya dalam urusan pernikahan (mungkin bisa ditanyakan ke ahlinya pak Cahyadi Takariawan), tapi sejauh ini yang saya rasakan meskipun belum satu tahun menikah, janji Allah itu pasti.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s