Mencuci Otak dari Pengalaman “Buka-bukaan Dunia Tambang”

20160428002503

Cover buku Buka-bukaan Dunia Tambang

Judul: Buka-bukaan Dunia Tambang
Penulis: Peserta Sustainable Mining Bootcamp Newmont
Penerbit: Pastel Books (Dist. Mizan Media Utama)
Tebal: 190 halaman
Tahun: 2016

Pagi itu saya sangat bersemangat untuk berangkat ke Batu Hijau, Sumbawa Barat dimana saya akan diperkenalkan dengan dunia tambang. Saya pastikan bahwa segala kebutuhan saat saya di Sumbawa telah masuk ke dalam dua ransel berukuran sedang. Ini akan menjadi perjalanan tak terlupakan, pikir saya. Karena saya sendiri belum tahu sama sekali mengenai tambang secara langsung paling tidak seluruh indera saya belum pernah merasakannya. Yang saya tahu hanya opini-opini yang ada di publik. Tanpa tahu kebenarannya saya pun ikut-ikutan menghakimi tambang.

Sebelum ini, saya hanya berpendapat bahwa tambang itu merusak alam. Bagaimana bisa orang-orang dengan seenaknya menggali perut bumi yang terbentuk dalam proses yang sangat panjang. Pada awalnya berupa gunung-gunung nan indah, kini menjadi lembah. Sebelumnya kaya akan keanekaragaman hayati, kini hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan pun terusir dari habitat aslinya. Selain berdampak kepada lingkungan, aktivitas tambang nantinya juga akan merusak sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Hal pertama yang kedua mata saya lihat ketika memasuki kawasan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) adalah kepedulian terhadap lingkungan yang sangat besar. Segala macam markah yang menandakan pentingnya menjaga lingkungan terpampang di setiap sudut jalan. Ternyata, PTNNT juga memperlakukan kawasan bekas tambang dengan sebaik-baiknya dan mengembalikan segala sesuatunya seperti sebelum ditambang terutama dari segi keanekaragaman hayati.

Tak hanya di kawasan inti pertambangan saja, tetapi di sebagian besar kawasan Sumbawa Barat mendapat perhatian dari PTNNT ini. Seperti yang telah ditulis oleh partisipan-partisipan Newmont Bootcamp dalam buku Buka-bukaan Dunia Tambang. Beberapa dari mereka sangat terkesan akan keindahan alam yang tetap terjaga di kawasan tambang. Primadonanya adalah Pantai Maluk. Di sinilah kali pertama kami diajak ke pantai di kawasan Sumbawa Barat. Seperti yang diulas oleh Barry Kusuma, selain pantainya yang indah dan bersih, ada yang memanjakan lidah kita ketika datang ke Pantai Maluk yaitu dendeng pedas bernama Rarit. Rasanya yang pedas-pedas asam tidak dapat dilupakan oleh pengunjung Pantai Maluk. Selain Pantai Maluk ada pula pantai Rantung, Tropical, Lawar, dan Teluk Benete yang keindahan pantainya yang jarang saya temukan di garis pantai Pulau Jawa.

DSC_9565.JPG

Keindahan alam harus tetap terjaga (difoto oleh Lalu Budi K)

 

Rasa penasaran saya tentang tambang tidak hanya sampai di situ. Saya masih ingin melihat langsung bagaimana isi perut bumi dikeruk, lalu diangkut, diolah, dan yang paling penting adalah bagaimana sampah dari tambang dibuang. Soal sampah ini dibahas oleh Fajri Satria Hidayat yang berkesempatan langsung untuk melihat bagaimana buangan tambang dibuang. Buangan itu bernama tailing yang berasal dari proses ekstraksi mineral berharga dari batuannya. Saya sempat lihat pipa tailing yang besar dengan diameter mencapai 1,12 meter sehingga tubuh saya pun masuk ke dalam pipa yang mengalirkan buangan hingga 120.000 ton/hari. Semua sampah itu dibuang ke laut dengan metode Deep Sea Tailing Placement. Tentunya metode ini diterapkan dengan proses perhitungan yang akurat sehingga air laut di Teluk Senunu tidak tercemar. Pemantauan pun terus dilakukan secara berkala agar tidak terjadi kebocoran yang dapat merusak alam bawah laut.

Menjelajah pertambangan dalam beberapa hari saja sebenarnya tidak cukup, apalagi saya baru pertama kali ke sini. Perlu informasi lebih mendalam mengenai kehidupan di sekitar tambang yang sudah merasakan perubahan yang terjadi dengan kehadiran PTNNT. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi kami terjun langsung ke masyarakat yang disekitar tambang. Seperti yang ditulis Denny Reza Kamarullah dalam Buka-bukaan Dunia Tambang, bahwa masyarakat sekitar tambang terutama Sekongkang, Jereweh, dan Maluk telah mengidap penyakit Dutch Disease. Penyakit ini umumnya terjadi di negara-negara yang memiliki sumberdaya alam dan mineral yang melimpah seperti Indonesia. Karena sangat ketergantungan, maka jika sumber ekonomi mereka hancur, tak ada lagi yang bisa mereka andalkan.

Pada saat di desa Sekongkang, saya sempat bertanya-tanya dengan salah satu penduduk asli Sekongkang yang sedang mengantre membeli minyak tanah. Bapak paruh baya tersebut dengan menggebu-gebu menyalahkan PTNNT kurang “memanjakan”masyarakat sekitar. “Lihatlah anak-anak kami tidak diterima untuk bekerja di sana (Newmont)”. Tetapi, ketika saya bertanya bahwa suatu saat nanti Newmont akan benar-benar tutup, apa yang akan mereka lakukan? Bapak itu hanya diam seribu bahasa menerawang hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Dalam hal ini, kolaborasi antar pemerintah dan PTNNT sangat diperlukan untuk keberlanjutan hidup masyarakat sekitar. Lalu peran pemerintah atau Newmontkah yang belum dijalankan dengan optimal?

20150123_075804

Keberlanjutan kehidupan masyarakat sekitar menjadi taruhannya (dok. Pribadi)

Selepas kami mengelilingi dunia tambang selama seminggu, ternyata banyak orang-orang yang menganggap kita telah dicuci otaknya. Yang baik-baiknya kita bawa pulang, yang jelek-jeleknya kita berikan ke PTNNT untuk perbaikan seperti yang ditulis oleh Dhanang Puspita. Adella Adiningtyas pun harus berdebat sengit tentang tambang dengan kawan-kawan kampusnya. Itu hal yang wajar, karena kita mendapatkan pelajaran yang baru tentang dunia tambang. Mungkin saya juga akan berdebat dengan pandangan negatif jika saya belum pernah melihat, mendengar, dan merasakan dunia tambang itu sendiri. “Biarlah orang-orang berkata kami dicuci otaknya, tapi di sana memang kami mencuci otak kami sendiri-sendiri dari bayang-bayang keburukan dan akhirnya kami menemukan sisi baiknya” kata Dhanang.

Buku yang diterbitkan oleh Pastel Books ini memang dibuat untuk mengumpulkan cerita-cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi peserta kegiatan Newmont Bootcamp. Lebih dari 20 orang penulis dari berbagai latar belakang menuliskan berdasar pemikirannya masing-masing. Ada yang berlatar belakang mahasiswa, blogger, dosen, guru, fotografer, dan lain-lain. Hal ini membuat buku Buka-bukaan Dunia Tambang memiliki warna yang berbeda di setiap tulisannya. Gaya tulisan yang naratif membuat buku ini menjadi ringan untuk dibaca semua kalangan.

_MG_1461.JPG

Merasakan langsung apa yang ada di pertambangan (dok. pribadi)

Sayangnya, buku dengan konten yang bagus ini tidak diimbangi tampilan memanjakan visual yang cukup di setiap tulisan sehingga pembaca dapat merasakan langsung keadaan yang sesungguhnya di kawasan Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat. Padahal, beberapa artikel membeberkan keindahan-keindahan alam yang ada di Batu Hijau. Tulisan ini akan lebih dinikmati pembaca jika terdapat foto dokumentasi yang menyertainya.

Terdapat juga istilah-istilah asing baik itu dalam dunia pertambangan maupun di luar itu yang tidak dijelaskan secara detail misalnya kata floatation dan smelter. Seharusnya diberikan catatan kaki atau glosarium untuk memberikan penjelasan singkat untuk istilah tersebut. Selain itu, untuk melengkapi artikel diberikan deskripsi singkat mengenai penulis sehingga pembaca mengetahui latar belakang penulis yang beragam.

Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca yang belum pernah melihat dan merasakan langsung kawasan pertambangan khususnya di PT Newmont Nusa Tenggara. Pembahasanya lengkap mulai dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial serta pengalaman menarik mulai dari naik haul truck yang tingginya mencapai 7 meter hingga merasakan segarnya air terjun Perpas. Buku ini akan memberikan pandangan baru terhadap dunia tambang berdasarkan pengalaman para peserta Newmont Bootcamp. Yuk, cari tahu selengkapnya dalam buku ini dan rasakan pengalaman menariknya!

DSC_8020

Wawasan baru tentang dunia tambang (difoto oleh Lalu Budi K)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s