Pentingnya ASI bagi Bayi Baru Lahir

Memiliki seorang bayi merupakan anugerah terindah dalam hidup. Saking berharganya, banyak orang tua yang rela mengorbankan waktu dan materinya hanya untuk kesehatan dan kesejahteraan anak-anaknya. Semuanya diberikan secara eksklusif dan terbaik. Salah satunya adalah pemberian ASI eksklusif di awal-awal kehidupannya.

Saya mendengar sebuah pengalaman dari seorang ibu yang baru saja melahirkan. Bayi yang dilahirkan melalui proses sectio caesaria (SC) harus menerima susu formula di awal kehidupannya, padahal si bayi bisa mendapatkan ASI dari ibunya. Ibu tersebut mengaku kalau perawat di salah satu klinik bersalin memberitahu agar keluarga dari si bayi membelikan susu formula untuk bayi karena bayi demam. Padahal jika bayi demam, obatnya adalah ASI. Karena pengetahuan keluarga yang kurang tentang pentingnya ASI dan kondisi ibu yang masih labil (karena habis melahirkan), akhirnya keluarga si bayi membelikan susu formula dan diberikan kepada perawat.

Beberapa saat setelah bayi dilahirkan pun tidak dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD) yang dapat mencegah kematian pada bayi. Padahal, meskipun melalui proses SC, ibu tetap bisa melaksanakan IMD sesuai dengan kondisi ibu. Jika memungkinkan, IMD dapat dilaksanakan ketika perut ibu sedang dijahit (bius setengah badan) karena operasi SC. Jika ibu dibius total, maka IMD dapat dilaksanakan setelah kondisi ibu membaik.

Dari cerita tersebut, sangat disayangkan jika waktu yang hanya terjadi seumur hidup pada bayi terlewat begitu saja. Padahal waktu-waktu tersebut merupakan periode emas bagi si bayi dan akan menentukan kondisi tubuhnya di masa yang akan datang.  Dalam analisis saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan serupa. Yang pertama adalah kurangnya pengetahuan mengenai ASI apalagi oleh keluarga baru/kehamilan pertama karena belum memiliki pengalaman (termasuk saya). Sudah seharusnya keluarga baru mencari-cari tahu tentang ASI dan perkembangan pengetahuannya. Pengetahuan juga bisa didapatkan dari orangtua kita. Tetapi ingat, belum tentu apa yang dilakukan oleh orangtua kita dulu adalah cara yang benar. Misalnya dulu sering dipakaikan empeng atau dot padahal dot sudah tidak dianjurkan lagi digunakan walaupun untuk ASI perah. Yang kedua adalah membagikan pengetahuan tersebut kepada orang-orang terdekat karena pada saat menyusui nanti kita akan dibantu oleh orang-orang terdekat sehingga tidak ada kesalahan dalam manajemen laktasi.

ASI yang merupakan seingkatan dari Air Susu Ibu adalah makanan pertama yang wajib diberikan kepada bayi sejak ia lahir ke dunia hingga paling tidak 2 tahun ke depan. Bahkan hingga umurnya mencapai 6 bulan, bayi tidak dianjurkan untuk diberi asupan makanan/minuman selain ASI termasuk susu formula. Hal tersebut karena dalam ASI terdapat sejuta manfaat bagi bayi dibandingkan dengan susu formula. Berikut adalah beberapa manfaat dari ASI bagi bayi:

  1. Kolostrum (ASI pertama yang keluar berwarna kuning/jingga) merupakan pelindung bagi bayi yang baru lahir karena mengandung antibodi yang memberikan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit
  2. Mengurangi risiko terkena penyakit diabetes, sepsis, asma, alergi, gangguan saluran pernapasan, diare, kanker, kekurangan gizi, dan berbagai penyakit lainnya
  3. Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi yang tidak didapatkan dari makanan/minuman manapun
  4. Mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi
  5. Mendekatkan ikatan batin dengan ibu karena ada kontak antara kulit dan kulit
  6. Selalu tersedia dan tidak mengeluarkan biaya
  7. Dan lain-lain

Menyusun Birth Plan

Di Indonesia sendiri, birth plan atau surat permohonan pelaksanaan kelahiran belum populer seperti di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Namun, hal ini penting untuk diketahui dan didiskusikan calon ibu, keluarga, dan tim medis yang akan menangani proses kelahiran. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang bisa diajukan

  1. Apakah tipe persalinan yang akan dilaksanakan, normal atau SC? Jika SC apa penyebabnya?
  2. Tipe bius apa yang akan diterima? Apa saja pilihan pengurang rasa sakit?
  3. Utarakan suasana melahirkan yang diinginkan, misalnya didampingi oleh suami atau keluarga lainnya serta posisi melahirkan yang nyaman dan aman
  4. Diskusikan tentang penundaan pemotongan tali pusat, pelaksanaan IMD, pemberian vit K dan salep mata profilaksis, imunisasi hepatitis B (dalam 12 jam kelahiran) dan BCG serta polio sebelum pulang, rawat gabung bayi dan ibu, ASI eksklusif (tanpa asupan lain), tidak diberi empeng/dot, dan dibantu dalam pelaksanaan menyusui.
  5. Pemeriksaan bilirubin dilakukan jika bayi kuning pada usia 24 jam pertama, bayi sangat kuning, kecurigaan hemolisis, dan bayi diduga sepsis
  6. Pemeriksaan lain pada bayi meliputi tes pendengaran OAE, tes glukosa, tes TSH, tes G6PD, dan pengukuran penimbangan.
  7. Tim medis diharuskan menjelaskan rencana serta tidakan yang dilakukan dan melalui persetujuan keluarga bayi

Pentingnya pengetahuan tentang ASI dapat mengurangi angka kematian pada bayi dan mendukung kesehatan bayi yang berkelanjutan hingga ia besar nanti. Jadi, ayo dukung ASI ekslusif pada bayi!

Sumber: Monika, FB. 2014. Buku Pintar ASI dan Menyusui. Jakarta: Penerbit Noura Books

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s