Speak up to your baby

Saya bukan tipe orang yang suka ngomong kalau ngga penting-penting amat. Bahkan yang penting pun jarang ngomong. Hehehe. Sebenernya ini ngga baik juga, karena saya sering kali miskom sama suami. Kadang menganggap suami sudah tahu, jadi tidak perlu diberi tahu lagi. Eh, ternyata suami benar-benar tidak tahu, dan saya malah ngomel-ngomel. You know, woman is always right. Padahal yang jelas-jelas salah adalah saya yang tidak mengutarakan apa yang saya maksud agar suami mengerti. Bukannya menganggap suami adalah malaikat yang mengetahui isi hati si istri. Kejadian seperti ini masih terjadi, namun saya harus memperbaiki jangan sampai terulang lagi.

Sejak saya punya Kana, saya berkomitmen untuk mengajarkan apa yang saya tahu kepada Kana. Mulai dari hal-hal kecil seperti pengenalan anggota tubuh, pengenalan benda-benda di sekitar, pengenalan hewan-hewan, pengenalan family member, menyanyikan lagu-lagu, dan lain sebagainya. Saya juga berkomitmen untuk bersikap sopan terhadap Kana. Misalnya, selalu meminta ijin ketika memegang tubuhnya, meminta ijin ketika ibunya akan mandi, makan, pergi kerja, dll, memberitahu kemana kita akan pergi, dan kegiatan-kegiatan lainnya sehingga ia paham dan mengerti.

Menurutku, ini cukup sulit. Mengingat dengan suami saja saya jarang basa-basi. Apalagi ini, sama bayi yang belum tentu ia mendengarkan dan mengerti apa yang kita bicarakan. Tapi dibalik itu semua saya yakin akan berdampak baik untuk Kana jika saya lakukan secara konsisten. Tetap saja, untuk konsisten butuh usaha yang sangat besar. Beberapa kali, atau bahkan sering saya hanya memandikan Kana tanpa banyak bicara. Tapi ketika kana menatap saya, seolah-olah ia berkata. “Ibu, saya sedang apa? Untuk apa saya di sini? Apakah saya bisa bersenang-senang?”. Setelah itu saya mulai memberitahu kana apa yang sedang terjadi. “Kana… sini ibu mandikan ya. Kana mandinya pakai air hangat. Coba rasakan, cukup hangat kan?. Ibu ijin pegang tubuh kana ya… ini tangan kanan, ini tangan kiri. Ini kaki kanan, ini kaki kiri (sambil menyentuh bagian tubuhnya)” Setelah itu biasanya nyanyi-nyanyi. Mungkin itu terlihat mudah, tapi sering lupa juga.

Ternyata manfaatnya kita sering ngobrol sama bayi itu banyak manfaatnya. Salah satunya adalah ketika puting payudara saya digigit oleh Kana. Dari sejak kana bayi, hampir tidak pernah kana gigit-gigit. Eh, pas tumbuh gigi. Beuh… mungkin gatel kali ya. Sakitnya sih ngga sampe ubun-ubun, tapi cukup buat saya trauma. Sampai-sampai setiap kali kana nyusu, dalam pikiran saya adalah “digigit ngga ya?” Sejak itu, saya mulai berkompromi dengan kana. “Sayang, kalau nyusunya sambil gigit-gigit, nanti ibu kesakitan. Yang baik ya nak. Kalau mau gigit-gigit, makanan saja”. Sekali, dua kali dikasih tahu masih gigit. Setelah ketiga kali dan seterusnya, Kana masih juga gigit. (hehehe). Tapi intensitasnya sudah berkurang. Kadang gigit kadang ngga. Kira-kira sampai satu minggu Kana sudah tidak gigit-gigit lagi. Alhamdulillah… yeay…

Contoh lainnya adalah ketika akan berpergian jauh. Karena takut rewel, sejak seminggu sebelum berangkat kana diberi tahu bahwa ia akan pergi jauh ke rumah neneknya. Biasanya saya beri tahu saat menyusui sebelum tidur malam. Memang tidak ada reaksi dari kana, tetapi alhamdulillah kana tidak rewel.

Akhir-akhir ini, karena kana sudah banyak bisanya, kadang jadi bikin kesel. Wajar lah, namanya juga anak-anak. Masalahnya adalah, kalau badan sudah lelah kadang emosi saya ngga ke kontrol (plus PMS). Kana maunya main-main dan ga mau makan atau makanan yang ada ngga dia suka. Biasanya saya biarin aja. Gpp, nutrisi masih bisa diimbangi ASI. Tapi, dari pagi belum makan-makan, ngemil yang biasanya mau juga ogah. Antara kasihan takut kana kelaparan, badan lelah, juga kesal. Rasanya mau teriak. Sedetik kemudian saya menyesal. Kenapa bisa kesal sama kana, namanya juga anak-anak. Akhirnya saya beritahu kana, “Ayo dong nak, makan ya. Biar sehat. Kalau kana lagi ngga mau makan, gpp. Tapi kalau lapar, kasih tau ibu ya…”. Saya cenderung ngga memaksakan anak kalau tidak suka makan makanan tertentu. Saya takut dia trauma dan malah susah makan. #cerita tentang MPASI beda lagi

Intinya adalah, penting banget ngobrol sama bayi, kasih banyak informasi ke bayi karena otaknya sedang berkembang pesatnya. Saya yang ngomongnya irit aja, harus bawel (bawel yang bener ya…) supaya anak kita ngerti kondisi sekelilingnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s