notes

I’m Longing To See My Aunt

Ngga tau harus mulai dari mana untuk menjelaskan kerinduan saya kepada bibi tercinta “bi enur”. Bibi terfavorit sepanjang masa. Jadi ingat, sebelum ia pergi ke Pontianak untuk ikut bersama suaminya, setiap kali saya telepon agar ia membatalkan pernikahannya, air mata ini jatuh sejatuh-jatuhnya. Bukannya saya tidak bahagia, tapi apa jadinya bahagia tanpa dirinya.

Kembali lagi ke kenangan masa kecil dulu. Sejauh ingatan saya bersamanya, saya sering menginap dirumahnya di Cikampak, Bogor. Sendiri tanpa orang tua saya menginap. Umur saya mungkin SD kelas 4. Hal ini karena saya sudah merasa nyaman menginap di rumah bi enur. Sejauh yang saya ingat, ia tidak pernah marah kepada saya. Saya sering diajaknya ke pasar salasa, di sana saya dan anak pertamanya yang terpaut umur 3 tahun lebih muda diajak untuk naik komedi putar. Ia pun tidak pilih kasih kepada saya dan anaknya. Ia sudah menganggap saya sebagai anaknya. Sampai-sampai kalau ada yang menanyakan “ini anaknya?” (sambil menunjuk ke arah saya) tanpa basa-basi ia menjawab “iya”.

“Bi enur juga orang yang hampir selalu bilang “iya” kepada saya.

“Bi aku mau ini ya?” “iya”.

“Bi, boleh ini ya?”, “iya”.

“bi, aku mau mie”, “sini dibuatin”

orangnya langsung gerak cepat, tanpa basa-basi.

Selain itu, ia juga ngga pernah mengeluh. Dengan masalah berat yang ia hadapi, ia tak pernah mengeluh. Jalanin aja. Happy aja. Ngga usah dipikirin.

Sejak saya SMA, ia tinggal bersama saya di rumah nenek. Ini membuat kami menjadi lebih dekat lagi. Mengingat ketika saya beranjak dewasa, saya sudah hampir tidak pernah menginap di rumahnya. Ia selalu menajdi pendengar yang baik ketika saya mendapat kesulitan, baik itu masalah akademik hingga percintaan. Saya nyaman untuk berbagi kisah dengannya.

Beranjak kuliah, kita lebih sering lagi menghabiskan waktu bersama. Pasalnya, saya sering ada waktu kosong. Tidak full time di kampus. Setiap sabtu pagi, kami lari pagi bersama ke Lapangan Sempur. Sepanjang perjalanan kami berbagi kisah. Iya juga sering memberikan nasihat, pikirannya yang positif selalu menginspirasi. Bahkan saya kagum dengannya karena setiap anak kecil yang menangis mampu ia atasi. Pada saat itu saya berharap ketika punya anak nanti saya ingin kasih sayangnya juga dicurahkan kepada anak saya.

Pernah suatu ketika ia menangis untukku. Menangis bahagia. Ketika hasil tes masuk kerja di BPPT diumumkan, orang pertama di keluarga yang saya beri tahu adalah bi enur. Pada pagi itu, ia sedang masak di dapur. “Bi, ima lolos”. Langsung saja ia menangis. bersyukur. Katanya, doanya setiap malam telah dikabulkan. Mendengar itu semua, saya pun ingin menangis. Ko ada orang lain selain orang tua saya yang mau mendoakan saya setiap malam.

Bi enur juga orang yang sering menanyakan kabar kalau saya sedang dinas di luar kota. “teh ima lagi ngapain?” Berharap, hari ini, sekarang bi enur sms seperti itu. Hampir tidak pernah ia menanyakan kabar. Kalau pun menayakan kabar, dijawabnya biasanya lama. Dan akhirnya terputuslah koneksinya. Yang saya dengar, ia sekarang sibuk karena banyak urusannya (anak cucunya).

Bi enur, semoga kita diberi kesempatan sekali lagi untuk bisa seperti dulu. Jalan-jalan bareng, lari pagi bareng, senam bareng, makan-makan bareng,…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s