Balon Ini Dapat Meramal Cuaca!

Terlihat karet berwarna putih mulai mengembang setelah diisi dengan gas hidrogen. Dari yang tak kasatmata bentuknya hingga membentuk bola berdiameter lebih dari satu meter. Melayang-layang di udara diikat dengan seutas tali yang panjangnya mencapai lebih dari 10 meter. Setelah balon cukup besar dengan tekanan tertentu, bola  besar tersebut kemudian digiring oleh Pak Kadarsah dari BMKG yang bertugas untuk membawa balon ke tempat dimana ia akan diluncurkan.

Sang balon sepertinya sudah tak sabar ingin diluncurkan, namun ternyata balon belum sempurna untuk dibiarkan berlari-lari ke angkasa. Balon ini harus disisipkan sebuah box dan sebuah parasut kecil di ekornya. Inilah yang membuat balon ini tak biasa yaitu terdapat alat yang berbentuk balok ringan dengan panjang sekitar 25 cm yang disisipkan pada tali yang mengikat balon. Alat tersebut dinamakan Radiosonde. Balon ini bisa meramal cuaca karena terdapat instrumen cuaca dan radio transmiter guna merekam apa yang terjadi di atas sana. Parameter-parameter tersebut terdiri dari tekanan, suhu, dan kelembaban. Juga ditambah parameter arah dan kecepatan angin (dinamakan rawinsonde). Kemudian data tersebut akan langsung diterima oleh pengamat yang meluncurkan tadi.

Sebelum diikatkan, radiosonde sebelumnya diatur terlebih dahulu dengan menggunakan seperangkat komputer dan alat khusus agar radiosonde dapat bekerja dengan baik. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah persiapan, sonde check, dan peluncuran. Karena kehebatannya, tak salah jika sekali peluncuran menghabiskan biaya hampir 5 juta rupiah dan biasanya dilakukan dua kali sehari. Wow.

Seberapa penting peluncuran radiosonde sehingga mengharuskan kita mengeluarkan uang hampir 10 juta dalam sehari?. Peluncuran radiosonde di Indonesia biasanya dilakukan di bandara-bandara untuk mengetahui profil vertikal dari distribusi temperatur, tekanan, kelembaban, dan kecepatan serta arah angin. Tentunya dalam penerbangan sangat penting menyangkut keselamatan dalam penerbangan. Waktu diluncurkannya pun disesuaikan dengan waktu internasional yaitu jam 00 UTC (jam 7.00 WIB) dan 12 UTC (jam 19.00 WIB). Untuk keperluan tertentu, jam terbang radiosonde bisa ditambah menjadi 4 kali dalam sehari yaitu jam 00, 06, 16, dan 18 UTC.

“Siap… luncurkan” seru mbak Wiwid yang bertugas dalam pengoperasian komputer untuk peluncuran radiosonde. Pak Samsudin dan Pak Kadarsah pun melepaskan tali balon dari penahannya dan membiarkannya mengudara. Gas hidrogen merupakan unsur teringan yang berada di semesta ini sehingga ia akan mudah untuk terbang ke langit. Lama kelamaan ukuran balon mulai mengecil dari pengelihatan, membayangkan bagaimana ia menjelajah lapisan troposfer, membaca satu persatu parameter per lapisan ketinggian. Dari komputer pemantau dapat dilihat kemana balon itu menari-nari, berjingkat-jingkat, dan berlari di cakrawala. Luasan permukaan balon kian melebar seiring bertambahnya ketinggian karena tekanan udara yang semakin berkurang. Hingga pada suatu titik, balon tersebut tak mampu menahan tekanan yang ia terima dan meletus pada ketinggian tertentu. Radiosonde pun mulai terjun bebas menggunakan parasut yang sudah disisipkan pada tali balon dan membiarkan angin membawanya ke tempat ia akan mendarat dan sampai di bumi. Jika sampai ada orang yang menemukannya, maka ia akan membaca tulisan pada badan radiosonde “Alat ini tidak berbahaya”.

Dalam perjalanannya di angkasa selama lebih dari satu jam, radiosonde sudah cukup untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Data yang diperoleh dari pengukuran radiosonde kemudian diplotkan menjadi profil vertikal menggunakan sebuah software bernama Rawinsonde Observation (RAOB) yang kemudian dapat digunakan sebagai analisis prediksi cuaca, peringatan dini cuaca ekstrem, atau untuk penelitian mengenai atmosfer.

 

Kebenaran Berita Se-ember Air Garam

Ketika perwakilan DPD RI menyinggahi kami di Posko TMC (teknologi modifikasi cuaca) Supadio, Kalbar, langsung saja Bapak yang berbadan tambun ini menanyakan tentang kebenaran sebuah isu yang kini tengah menyebar di kalangan masyarakat terutama yang sedang dilanda bencana asap, kebakaran hutan dan lahan. Awalnya saya hanya senyam-senyum saja, ternyata isu tersebut tidak main-main. Rekan-rekan TMC kami yang berada di Jambi melaporkan isu tersebut, nyatanya banyak telepon dari berbagai media menanyakan kejelasan isu ini. Berikut kira-kira broadcast di medsos.

Tolong bantu saudara kita di Jambi. Di sana hanya tersisa 5%udara yang layak. Haya dengan langkah kecil. Darurat asap! Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakan diluar, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11 hingga 13, dengan semakin banyak uap air di udara akan semakin mempercepat kondensasi menjadi butir air pada suhu yang semakin dingin di udara. Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan semakin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini dimasing-masing rumah ratusan ribu rumah akan menciptakan jutaan kubik uap air di udara. Lakukan ini satu rumah cukup satu ember air garam. Besok Sabtu tanggal 12 jam 10 pagi serempak. Mari kita sama-sama berusaha menghadapi kabut asap yang semakin parah ini. Mohon diteruskan. Terima Kasih. Salam Greenpeace Youth Indonesia.

Rekan-rekan saya dalam grup whatsapp pun bereaksi. Ternyata isu ini menyebar begitu cepat. Mari kita bermain logika untuk menemukan apakah berita tersebut masuk akal atau tidak. Berikut isi pernyataan Dr. Tri Handoko Seto seorang peneliti Meteorologi Tropis di Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) dan beberapa rekan-rekan lain di TMC.

  1. Jika kita berasumsi satu ember air yang sediakan oleh setiap rumah dengan volume kira-kira 10 liter air, maka jika seratus rumah melakukan hal tersebut, ada satuย meter kubik air yang akan menguap. Itu pun jika semua air menguap. Apakah pernah kita mengisi satu ember penuh di jemur seharian lalu air dalam ember habis total. Hampir tidak mungkin. Butuh ratusan juta ember air untuk mendapatkan jutaan meter kubik di udara.
  2. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya hujan, selain penguapan, pola aingin, kelembaban udara, tekanan udara, dan masih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi dalam skala yang lebih luas. Proses pembentukan awan pun beragam ada yang terbentuk karena orografis (dipaksa naik karena topografi seperti gunung), konveksi (pengangkatan massa udara), front, dan lain-lain. Tidak hanya sesimpel menguapkan air dalam ember.
  3. Jutaan ember tidak bisa dibandingkan dengan ember besar lautan yang mengisi sekitar 70% isi bumi. Meskipun musim kemarau, air laut tetap mengalami penguapan dan menjadi penyuplai massa udara yang besar.
  4. Garam sebagai inti kondensasi, tidak bisa disamakan dengan garam yang dilarutkan dalam air sebaskom. Garam-garam yang berada di atas laut berasal dari percikan ombak yang bertabrakan. Karena ukurannya yang sangat kecil sehingga mampu terbawa secara vertikal dan kemudian menjadi inti kondensasi (tempat menempelnya butir-butir air). Jika garam yang terlarut dalam sebaskom air mampu terbawa ke udara melalui proses penguapan, maka dari mana petani garam mendapatkan garamnya?

Tim TMC kami telah berusaha dan bekerja sebaik mungkin dengan memanfaatkan potensi awan dan cuaca yang ada untuk menghasilkan hujan di wilayah sekitar bencana asap, kebakaran hutan dan lahan. Dengan kegiatan ini, NaCl yang kami semai akan membantu awan-awan yang sedang tumbuh (awan cumulus) agar dapat menghasilkan hujan dan mengurangi dampak bencana tersebut.

Kepala Bidang kami ini sangat mengapresiasi atas partisipasi masyarakat dan kepeduliannya yang begitu besar. Namun, lebih baik jika masyarakat (1) tidak membakar hutan dan lahan pada saat musim kemarau karena dampaknya bisa sangat besar. Tidak hanya api yang dapat membesar dan merambah kemana-mana, tetapi asap yang dihasilkan tidak dapat dikendalikan. (2) Jadilah pengawas kebakaran hutan dan lahan. Laporkan jika ada yang membakar hutan dan lahan. (3) Ikut aktif dalam gerakan pemadaman hutan dan lahan di wilayah sekitar. (4) dan yang terakhir adalah berdoa kepada Tuhan YME agar bencana ini cepat berakhir.

Ilustrasi (http://www.hdifoundation.org/)

Ini Peran Hujan Buatan pada Bencana Asap, Kebakaran Hutan dan Lahan

*cuaca berasap di Pontianak

Musim kemarau tahun ini memang sudah berdampak pada kekeringan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Bukan hanya pasokan air tanah yang berkurang tetapi juga berdampak pada kebakaran hutan, asap kebakaran yang menyebar ke seluruh daerah, asap yang terhirup menyebabkan gangguan pernapasan, visibility yang rendah mengakibatkan beberapa penerbangan terganggu, curah hujan rendah, bahkan menyebabkan menaiknya kurs rupiah. Keparahan ini didukung dengan adanya fenomena alam seperti El nino yang membuat wilayah sekitar Indonesia kering dan wilayah Amerika Selatan basah. BNPB sebagai badan yang berurusan dengan penanggulangan bencana memberikan upaya seperti water bombing dan teknologi modifikasi cuaca.

Water bombing atau bom air merupakan salah satu cara menanggulangi hotspot atau titik api dengan memberikan sejumlah air langsung ke titik api tersebut dengan menggunakan helikopter seperti Kamov (dari Rusia) dan Bolkow (dari Jerman). Cara ini cukup efektif untuk bertindak langsung pada titik api. Heli Kamov dengan membawa tampungan air seperti ember besar berkapasitas 5000 liter diarahkan ke sumber air seperti sungai lalu digiring ke target titik api. Sedangkan heli Bolkow hanya mampu membawa sekitar 450 liter. Hanya saja teknologi ini akan memakan waktu yang lama dan tidak bisa dipungkiri jika air yang dibawa tidak seluruhnya bisa dijatuhkan pada sasaran karena selama perjalanan bisa jadi air tampungan tercecer. Untuk biaya heli kamov sekali operasi mencapai 150 juta rupiah sedangkan Bolkow mencapai 30 juta rupiah. Wow

*pesawat casa A2105 yang digunakan untuk TMC (depan)

Berbeda dengan water bombing, teknologi modifikasi cuaca atau yang lebih dulu dikenal sebagai hujan buatan tidak berurusan dengan “menyiram dengan air”. Teknologi ini memberikan intervensi pada awan agar dapat mempercepat dan memperbanyak jumlah potensi hujan. Banyak orang salah kaprah tentang teknologi modifikasi cuaca. Mereka beranggapan bahwa hujan dapat dibuat. Jika penyemaian NaCl (garam) dilakukan di tempat target maka hujan akan turun. Tidak semudah itu. Banyak faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan seperti analisa kondisi cuaca di wilayah target, analisa keberadaan awan dengan menggunakan radar, dan analisa arah dan kecepatan angin, analisa lainnya yang berhubungan dengan meteorologi.

Jika semua sudah dianalisis, para flight scientist bersama crew pesawat membuat strategi untuk menyemai target, dalam hal ini target berarti awan. Jumlah garam yang ditabur pun harus sesuai dengan kondisi awan. Jika awan terlalu kecil lalu diberi banyak garam, maka akan terjadi kompetisi antar inti kondensasi (garam). Awan bukannya tumbuh malah tak terbentuk. Setelah target telah disemai, apakah langsung terjadi hujan?. Bisa iya bisa tidak. Karena kita berurusan dengan alam, maka banyak ketidakpastian di sana. Yang kita lakukan hanya mempelajari alam lalu dieksekusi.

Efektifkah TMC pada musim kemarau

Teknologi modifikasi cuaca memang memerlukan kondisi cuaca yang mendukung seperti pasokan uap air, kelembaban udara, radiasi yang cukup, suhu udara, dan unsur-unsur meteorologi lainnya. Kondisi-kondisi yang mendukung tersebut biasanya terdapat pada musim hujan, karena unsur-unsur cuaca mampu membuat awan-awan potensial seperti awan cumulus. Satu inti kondensasi yang disemai akan mengikat jutaan droplets sehingga ketika cukup besar dan massanya bertambah akan turun sebagai presipitasi. Namun, bagaimana dengan kegiatan TMC yang dilakukan untuk menanggulangi bencana asap, kebakaran hutan, dan lahan yang umumnya terjadi pada musim kemarau seperti saat-saat ini? Efektifkah?

*briefing pagi yang dihadiri oleh BNPB, BPBD, BPPT, BMKG, Crew Casa, Lanud Supadio, dll.

Memang sulit untuk memanfaatkan TMC pada saat musim kemarau karena kondisi cuaca kering. Inti kondensasi harus memperebutkan air-air yang ada di udara agar dapat membentuk awan. Namun sayang, karena pasokan uap air yang kurang, maka awan yang terbentuk hanya kecil saja atau bahkan clear, tidak terbentuk apa-apa. Begitu juga jika penyemaian dipaksakan di sekitar hotspot, bukannya terbentuk awan, garam-garam yang ditabur malah jatuh kembali. Hal tersebut karena asap yang banyak juga berkompetisi untuk mengikat air di udara, sedangkan udara di sekitar kebakaran kering (tidak ada uap air). Maka garam yang disemai pun tak dapat apa-apa.

Maka, untuk kegiatan TMC mungkin bisa dikatakan kurang tepat untuk mematikan titik-titik api yang ada di suatu wilayah. Tapi cukup efektif untuk membersihkan langit dari pengaruh asap sehingga visibility bertambah, lalu lintas penerbangan tidak terganggu, penyakit gangguan pernapasan seperti ISPA berkurang,  dan lain sebagainya. Namun, tidak menutup kemungkinan jika TMC dilakukan di wilayah yang terdapat hotspot. Jika unsur-unsur cuaca mendukukung, sel-sel awan bisa memungkinkan terbentuk di  wilayah yang terdapat hotspot.

Salah jika pemerintah tidak bekerja

Kemarin pagi ketika akan berangkat menuju posko satgas TMC di Lanud Supadio, Kalbar dalam upaya penanggulangan bencana asap, kebakaran hutan dan lahan, saya mendengar opini dari pemirsa di salah satu televisi swasta bahwa pemerintah tidak bekerja dalam menanggulangi kekeringan, asap, kebakaran hutan dan lahan. Sontak hati saya merasa sakit karena yang sedang saya lakukan sejak sebulan lalu disini seolah-olah tidak ada apa-apanya. Nihil. Kami (BPPT) disini memang diutus oleh BNPB dan BPBD untuk menanggulangi bencana yang sedang terjadi.  Bukan hanya di televisi, tetapi masyarakat sekitar pun mencemooh karena tidak terlihat hasil kerja dari TMC malah bertambah parah. Ya sudah lah, biarlah orang berkata apa karena mereka tidak mengetahui. Yang penting tetap semangat demi kemaslahatan warga sekitar Kalimantan Barat.

Sekitar jam 1 siang saya bersiap untuk naik pesawat Casa A2105, rencana penerbangan heading to six zero until one two zero. Engine on. Sudah 20 menit berlalu namun pesawat belum memasuki runway. Ternyata traffic di Bandara Supadio masih sibuk. Maklum saja sedari pagi visibility mencapai 400 m sedangkan ambang batas yang diperbolehkan 1.2 km. Setelah pesawat dari Lion Air masuk ke taxiway, akhirnya pesawat TNI AU yang saya tumpangi masuk ke runway dan bersiap untuk take off. Pesawat ini memang tidak cepat, tapi masih mampu untuk mengudara di langit Borneo. Tak lupa saya berdoa agar penyemaian ini berhasil dan semua kru pesawat dapat selamat hingga mendarat nanti. Alhasil penyemaian dilakukan di  Kab. Kubu Raya, Kab. Sanggau, dan Kab. Sekadau, Kalbar.

*Para penabur NaCl di ketinggian sekitar 10 ribu feet

Alhamdulillah tadi pagi melihat beberapa bercak berwarna biru dan hijau di profil spasial akumulasi presipitasi dari data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) kemarin hingga tadi pagi di wilayah yang kemarin kami semai. Itu berarti terdapat hujan di sekitar Kab. Kubu Raya, Kab. Sanggau, dan Kab. Sekadau sebesar 0.1-10 mm, atau hujan ringan hingga sedang. Kemarin ada 11 hotspot di Kalbar, hari ini tinggal 7 titik api. Alhamdulillah, semoga usaha kami yang sedikit ini mampu membantu masyarakat Kalbar dari bencana asap, kebakaran hutan dan lahan.

 

Klik video kegiatan TMC di https://www.youtube.com/watch?v=qhD5x7gA3qk

Hujan, Tak Berarti Karena Hujan Buatan

“Hujan pak, tadi seeding disini ya?” kata pak asep yang sedang menyetir membawa kami menuju hotel di Jalan Jend. Basuki Rahmat, Palembang. Lalu saya, teman flight scientist, beserta koordinator lapangan dalam mobil hanya diam membisu…

Pertanyaan ini sebenarnya bukan pertanyaan pertama yang kami dengar. Paling tidak saya yang masih personel baru saja sudah beberapa kali mendengar pertanyaan itu dari orang-orang yang mengetahui kegiatan kami seperti supir, tukang bersih-bersih, tukang es, tukang angkut, dan tukang-tukang lainnya. Pertanyaan ini juga bukan pertanyaan yang sulit, hanya saja kami merasa sulit untuk menjelaskannya.

Saya langsung teringat dengan kejadian tadi siang di atas pesawat casa PK-PCT di ketinggian 9000 feet. Ketika itu, saya dan rekan flight scientist saya melihat awan yang lumayan besar walaupun ditemani oleh awan-awan stratus. Kami katakan lumayan karena hari ini air dalam awan masih bermalas-malasan untuk bertumbukan satu sama lain sehingga awan lama tumbuh besar. Jadi, kami putuskanlah awan “lumayan” tersebut untuk disemai. Jaraknya sekitar 10 nautical mile, namun setelah jarak kami dengan awan berkurang, kumpulan awan itu seperti disapu angin, menyebar dan menipis. Capten Adjie dan Co-pilot Wisnu dibuat bingung oleh awan tersebut. Kemana awan itu pergi?. Garam pun tak jadi dijatuhkan karena awan tak bisa disemai.

Beruntuntunglah, awan hilang satu, tumbuh beberapa gundukan awan. Casa Blanca pun meliuk-liuk diantara tumpukan awan untuk menebar butiran-butiran NaCl yang akan membantu proses penumbukan air di udara. Dibantu dengan angin dari tenggara yang akan meneruskan garam ke dalam awan. Segala potensi telah kita usahakan setelah itu, biarlah alam yang bekerja.

para penabur garam sedang menaburkan garam

Kembali lagi pada pertanyaan Pak Asep, setelah diam beberapa detik akhirnya koordinator lapangan kami angkat bicara. “Susah untuk menjelaskan apakah lokasi awan yang kami seeding akan sama dengan lokasi dimana hujan turun. Karena kita bekerja pada alam, dimana banyak ketidakpastian di sana” Banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan kami, apakah angin membawa awan tersebut ke tempat lain, atau memang awannya kurang potensial, atau Tuhan memang belum berkehendak.

Alhamdulillah akhir-akhir ini beberapa daerah di Sumatera Selatan diguyur hujan. Tadi pagi Pak Beny dari BMKG Palembang mengatakan adanya perbedaan arah angin dari lapisan 5000 feet dari arah tenggara dan 10 ribu feet dari arah barat sehingga terjadi “koyakan” massa udara di atas Provinsi Sumsel. Dengan kondisi tersebut, terdapat kemungkinan terbentuk awan-awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan. Kita tinggal lihat bagaimana awan-awan terbentuk nanti. Semakin siang, kumpulan awan pun mulai terbentuk, berharap di ketinggian 8000 feet nanti kami dapat melihat awan-awan potensial. Jika berhasil, dampak kemarau dapat berkurang, air mulai memasuki sungai-sungai, danau, embung-embung, tanah yang kering sehingga dapat diserap oleh tanaman-tanaman, titik api dapat dipadamkan, dan asap kebakaran hutan dapat dihindari. Ayo kita terbang!

Ketika Kota Hujan “Tidak Hujan”

Musim kemarau tahun ini begitu terasa kering, panas menyengat, air sungai menyurut, rerumputan hijau menguning, kelembaban tanah berkurang sehingga membentuk retakan-retakan di permukaan tanah, pohon-pohon menggugurkan daunnya, dan tentunya kita malas sekali untuk keluar ruangan di tengah hari bolong. Setidaknya ini yang saya rasakan di kota Bogor. Memang terasa aneh sekali ketika kota yang dijuluki kota hujan tetapi selama hampir sebulan ini hujan hanya numpang lewat saja. Dan miris sekali melihat rumput-rumputan di pinggir jalan berwarna kuning keemasan karena kering di kota yang memiliki rata-rata hari hujan lebih dari 320 hari dalam setahun tersebut.

Kekeringan terjadi ketika radiasi matahari meningkat, evapotranspirasi meningkat, suhu udara meningkat, curah hujan menurun, dan kelembaban udara berkurang. Dalam istilah ilmiahnya disebut kekeringan meteorologi, dimana hanya unsur-unsur cuaca yang dipengaruhi. Kemudian, jika kejadian kekeringan tersebut berlanjut lebih lama sehingga membuat stres tanaman dan kelembaban tanah berkurang, maka disebut kekeringan pertanian atau kekeringan kelembaban tanah. Lalu, jika kekeringan terus berlanjut hingga air sungai, air danau, dan badan air lainnya menyurut maka sudah masuk ke kekeringan hidrologi. Bahkan kekeringan hidrologi ini bisa mempengaruhi groundwater dalam bumi. Karena begitu kompleksnya kejadian kekeringan, maka banyak para ilmuan yang menganggap kekeringan itu tidak diketahui pasti awal dan akhirnya serta luasan yang terkena dampaknya.

Kembali lagi kepada kondisi cuaca yang terjadi akhir-akhir ini. Alhamdulillah, kamarin sore (26/7) Bogor dan sekitarnya diguyur hujan walaupun dengan intensitas ringan hingga sedang. Perlu kita syukuri dengan kehadiran hujan ini, karena belum tentu besok atau lusa hujan kembali turun di wilayah Bogor dan sekitarnya. Jika dilihat dari pantawan radar BMKG pada jam 2 siang tadi (27/7), keberadaan awan di pulau Jawa sangat sedikit apalagi awan yang berpotensi hujan seperti awan cumulus. Dari gambar di bawah dapat dilihat bahwa di wilayah Jabodetabek tidak terlihat adanya awan penghasil hujan dan langit cenderung clear. Namun, kondisi di utara Indonesia terlihat lebih baik walaupun hanya berupa titik-titik awan potensial.

 

Jika dilihat pada peta prediksi akumulasi curah hujan untuk hari ini, memang hanya terdapat hujan ringan di selatan Jakarta sekitar 0-5 mm. Selebihnya untuk pulau Jawa, Bali, dan NTB masih cenderung kering tanpa hujan hingga hujan ringan. Seperti yang pantauan radar sebelumnya, wilayah utara Indonesia memang masih lebih baik seperti Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, hingga ke Papua dengan intensitas tertinggi mencapai100 mm. Kondisi kering juga bisa disebabkan oleh hembusan angin monsoonal yang berasal dari Australia (tenggara) sehingga awan sulit terbentuk (Detik.com). Dengan kondisi kering seperti ini, maka tidak mungkin dilakukan penyemaian awan dengan menggunakan teknologi modifikasi cuaca karena tidak terdapat awan potensial. Penyemaian baru dapat dilakukan jika awan –awan potensial mulai tumbuh di wilayah tersebut. Kemungkinan terdapat pertumbuhan awan pada musim transisi dari musim kemarau ke musim hujan, yaitu pada bulan September dan Oktober.

Beberapa wilayah di Indonesia yang mengalami kekeringan (terutama pulau jawa dan sekitarnya) kondisi air sumur, sungai, dan lahan pertanian sudah mulai mengering. Tentu saja hal tersebut dapat berakibat fatal jika kekeringan ini terus terjadi karena dampak yang diberikan akan semakin besar. Dari Oceanic Niño Index (ONI), nilainya terus naik sejak periode FMA (februari maret april) hingga data terakhir mencapai 0.9. Hal tersebut juga menunjukan semakin besar anomali cuaca yang terjadi.Karena kondisi kekeringan yang tak tahu kapan awal dan akhirnya, maka sudah seharusnya kita lebih menghargai air agar tidak terbuang dengan sia-sia dan dimanfaatkan sebaik mungkin.

Menabur Garam di Garis Cakrawala

 

 

“Pesawat hercules jatuh di Medan” begitulah kira-kira isi dari grup Whatsapp ketika baru saja saya sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru sekitar jam 2 siang. Pada awalnya saya tidak terlalu menanggapi, hanya berucap “innalilahi”. Setelah keluar Bandara, pak Aris dan bu Endang ternyata telah menjemput saya. Bu Endang pun menyinggung soal kecelakaan yang terjadi beberapa jam lalu (30/7), dan beliau juga mengatakan bahwa tadi pagi pesawat Hercules sempat parkir di Lanud Roesmin Nurjadin tempat dimana posko kami berada dan sempat menaikan beberapa penumpang. Suasana berduka sangat tersa ketika saya memasuki kawasan Lanud Roesmin Nurjadin. Terlihat beberapa orang menangis tak menyangka bahwa orang-orang yang baru saja mengatakan selamat tinggal akan pergi menggunakan Hercules, ternyata mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya kembali kepada sang Maha Kuasa.

Dua-tiga hari kemudian, jenazah kecelakan Hercules dipulangkan dengan pesawat CN terlihat beberapa peti dijejerkan dan ditutupi dengan sang saka merah putih. Keluarga korban menjemput orang terkasih yang kini sudah tak bernapas di Lanud Roesmin Nurjadin. Menangis tersedu-sedu antara kehilangkan, kerinduan, tak menyangka, pasrah, melebur menjadi satu. Berharap waktu dapat diulang kembali dan dapat menghabiskan waktu lebih lama bersama terkasih.

Seorang bapak mengenakan baju berwarna gading dan berkopiah datang sendiri ke Lanud Roesmin Nurjadin menjemput jenazah sang anak. Itu adalah anak satu satunya. Setelah kecelakaan yang merenggut nyawa anaknya, tak ada lagi harta yang dimiliki bapak ini. Di balik ketegaran yang ia tampilkan dari raut mukanya, terdapat kesedihan mendalam yang tak bisa terobati. Seorang anak yang ia sangat sayangi pergi meninggalkannya yang pada hari mengenaskan itu ia berpamitan ingin berjalan-jalan di haril libur kuliahnya. Tak dapat disangka itulah momen terakhir yang dapat dikenang oleh sang bapak.

Hujan… hujan… turunlah

Masih teringat jelas kabut asap yang menutupi hampir seluruh kota Pekanbaru dan beberapa tempat lainnya di Provinsi Riau pada tahun 2014. Sama halnya dengan bencana banjir di Jakarta. Semua kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekonomi, dan lain sebagainya terpaksa dihentikan karena kabut yang mengganggu. Kondisi udara pun sudah masuk ISPU (indeks standar pencemaran udara) berbahaya. Tak ada yang bisa dilakukan selain berdiam diri di dalam rumah. Segala upaya telah dikerahkan agar kondisi dapat segera diselesaikan. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Riau berusaha agar kejadian serupa di tahun lalu tersebut tidak terjadi lagi di tahun ini.

BNPB, BPPT, BMKG, Kehutanan, Pemprov, BPBD, TNI AU, dan lain-lain mengerahkan segenap kemampuan masing-masing bekerja sama untuk menuntaskan kebakaran hutan yang terjadi di Prov Riau. Kebakaran hutan ini selain karena faktor alam, utamanya adalah akibat kegiatan manusia yang sengaja membakar hutan untuk membuka lahan. Hal tersebut karena membakar hutan adalah hal paling mudah dan murah untuk membuka lahan. Bukan berarti peraturan tidak ada, tapi masyarakat lebih pintar dari peraturan itu. Mereka bisa saja menggunakan tikus yang dibakar ekornya kemudian di lepaskan di hutan sehingga api dengan mudah menyebar. Dan masih banyak lagi cara-cara licik yang mereka lakukan.

Penyemaian awan dengan saudara kecil pesawat Hercules

“Kemungkinan hari ini ada awan potensial, bisa dilakukan seeding” begitulah kata korlap kegiatan TMC

Setiap hari pantauan satelit dan pengukuran cuaca setiap jam dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya perkembangan awan. Ya, kami akan melakukan kegiatan modifikasi cuaca atau banyak orang mengenalnya dengan hujan buatan. Bukan sembarang hujan buatan, menciptakan hujan seperti yang banyak orang awan ketahui, tetapi meningkatkan/mengurangi intensitas hujan. Modifikasi cuaca ini tidak bisa dilakukan jika kondisi perawanan tidak mendukung. Seperti yang saya sebut tadi, adanya awan potensial lah yang menentukan hari ini akan dilakukan seeding atau tidak.

Kami bergerak cepat ketika sudah terlihat pembentukan awan potensial dengan menggunakan radar/satelit. Informasi lansung disambungkan ke penabur yang mengangkut garam khusus dari gudang, kemudian dimasukan ke konsul, lalu dimasukan lagi ke pesawat CN 295. Proses ini cukup memakan waktu, yaitu sekitar dua jam. Lalu dilakukan briefing dengan kru pesawat dan Flight scientist yang bertugas sebagai penunjuk arah dimana awan potensial berada. Briefing dilakukan agar rekomendasi wilayah potensial dari FS dapat disampaikan kepada pilot dan kru pesawat. Dan kami pun siap mengangkasa. Kursi-kursi di dalam CN 295 berjajar tegak lurus dengan kepala pesawat, tipikal pesawat TNI AU seperti Hercules hanya saja ukurannya yang lebih kecil. Hanya beberapa yang terdapat sabuk pengaman, sisa nya tidak ada. Saya yang baru pertama kali mengikuti penerbangan ini, sedikit bingung bercampur ketakutan dengan tidak adanya sabuk pengaman. Apalagi pesawat ini berbeda dengan pesawat lainnya, ketika banyak pesawat yang menghindari keberadaan awan terutama awan tipe cumulus, pesawat ini justru mencari-carinya dan menghampiri awan-awan tersebut. Pikiran negatif pun berusaha saya hapuskan dan digantikan dengan pikiran positif. Oke, kita terbang!

 

Mesin mulai dinyalakan, baling-baling pesawat mulai berputar, perlahan pesawat mengikuti arahan apron yang melambai-lambai. Kecepatan pesawat mulai bertambah, berlari, dan berlari hingga terbang bagaikan burung elang yang mengepakan sayap di angkasa. GPS dalam genggaman saya mulai menunjukan arah, kecepatan, lokasi, dan ketinggian pesawat. Tubuh ini pun memposisikan diri dengan memiringkan badan searah dengan kepala pesawat karena adaya gaya Newton. Sampai tanda sabuk pengaman dilepas (meskipun penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman) tanda penumpang boleh berdiri. Pada sekitar ketinggian 8000-12000 feet lah kami mulai bekerja.

Mata saya pun langsung menuju kumpulan-kumpulan awan yang tersebar. Berarti waktunya dilakukan penyemaian?. Tidak. Bukan sembarang awan yang dapat disemai. Ingat, harus awan potensial seperti tipe cumulus dan stratiform karena awan inilah yang akan menjadi cikal bakal awan yang menurunkan hujan seperti awan cumulonimbus. Jika tidak ada awan potensial, berarti tidak dapat dilakukan penyemaian. Jika dipaksakan, hasilnya akan percuma. Awan-awan kecil tidak mampu berkembang besar dengan cepat jika dilakukan penyemaian. Jadi, memang waktu yang tepat untuk dilakukan penyemaian adalah pada awal atau akhir musim hujan, ketika ada awan potensial.

 

Mungkin ada pertanyaan (dulu juga saya bertanya seperti ini), apakah air hujan akan menjadi asin jika ditaburi garam? Tidak. Garam yang berfungsi sebagai inti kondensasi atau tempat melekatnya butir-butir air di angkasa merupakan inti kondensasi yang alami. Salah satunya berasal dari laut. Garam yang digunakan pun bukan sembarang garam tapi garam yang ukurannya sekitar 30 mikron. Satu butir garam bisa melekatkan hingga jutaan droplets (butir-butir air hujan) yang akan membentuk awan. Jadi, garam yang dimasukan tidak akan membuat air hujan menjadi asin.

“Buka setengah” kata kapten Ari kepada kru pesawat agar membuka setengah dari tabung konsul. Tekanan di kabin pun berkurang. Saya menelan ludah beberapa kali supaya telinga tidak budek. Sepertinya sang pilot sudah mengerti setelah beberapa kali mengikuti kegiatan TMC ini karena sudah tahu tipe-tipe awan yang harus disemai. Tak pernah saya lihat seorang pilot yang senang ketika melihat awan cumulus. Seperti yang kita ketahui, awan cumulus merupakan tipe awan yang sangat dihindari oleh pilot dan tak jarang mengakibatkan kecelakaan karena turbulensi dalam awan tersebut.

 

Tabung konsul habis, saatnya kembali ke PKU. Selesai menabur garam di garis cakrawala, kami hanya berharap penyemaian awan berhasil. Tim-tim kami yang tersebar di Provinsi Riau dengan cepat akan mengabari jika terjadi hujan. Tak lupa dari radar dan setelit pun kami pantau jika terjadi hujan. Data dari pengalaman, kegiatan TMC mampu menaikan curah hujan hingga 30%. Tak hanya meningkatkan curah hujan namun dapat mengurangi curah hujan seperti yang dilakukan untuk mencegah banjir Jakarta.

 

 https://www.youtube.com/watch?v=C9K8-q-BVD0

 

Keindahan Meteorologi Melalui Foto

Seperti yang sudah pernah saya katakan (artikel terkait sebelumnya), bahwa meteorologi itu tidak terkenal atau lebih tepatnya banyak orang yang tidak mengetahui apa itu meteorologi. Begitu pun dengan saya 6 tahun lalu. Bercita-cita ingin masuk ke fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, tapi bingung ingin memilih yang mana. Ada Fisika, Kimia, Matematika, Biokimia, Ilmu Komputer, biologi, dan lain-lain. Dan yang paling menarik saya adalah jurusan urutan nomor dua setelah statistik, yaitu Meteorologi Terapan. Jujur saya pun tak tahu apa meteorologi itu. Mungkin sama dengan kebanyakan orang awam, meteorologi itu adalah ilmu yang mempelajari tentang meteor?!. Tapi, selama itu belum saya ketahui dan hal baru, malah menarik perhatian saya.

Sayangnya, pada tanggal 23 maret kemarin, dimana tercatat sebagai hari meteorologi sedunia, justru banyak orang yang tidak mengetahuinya. Ketenarannya kalah jauh jika dibandingkan dengan hari air sedunia. Mungkin hal tersebut karena air merupakan kebutuhan esensial setiap makhluk hidup. Lalu ada apa dengan meteorologi? Apakah penting?

Jika dicari padanan kata atau teman-temannya, meteorologi itu sama atau masih ada kaitannya dengan cuaca, iklim, udara, polusi, awan, hujan, terik, salju, angin, penguapan, dan lain sebagainya. Betul sekali. Meteorologi ada di sekitar kita. Namun masih banyak orang yang belum mengetahui apalagi di negara tropis dimana pertanyaan “bagaimana cuaca hari ini?” belum menjadi awal percakapan.

Belajar dari foto-foto

Saya bukanlah fotografer, bukan. Saya adalah orang yang mengabadikan momen dengan kamera yang saya punya. Karena ketertarikan saya terhadap dunia meteorologi, kadang awan pun menjadi menarik untuk di foto. Ya, saya sering mengoleksi foto bentuk-bentuk awan yang saya lihat. Memang jauh dari kata “artistik”, “indah”, atau bahkan membuat orang berdecak kagum saat melihat foto. Tapi ada kesenangan sediri. Bahkan tak sedikit orang-orang tanpa sadar telah memotret obyek fenomena meteorologi.

Sunset berwarna kemerah-merahan (dok FB Bereau of Meteorology)

Sunset berwarna kemerah-merahan (dok FB Bereau of Meteorology)

Sunset atau sunrise menimbulkan warna-warna yang indah terutama jingga, kuning, atau bahkan merah. Hal tersebut karena cahaya matahari yang datang mengenai molekul yang ada di udara kemudian disebarkan menjadi spekturm warna. Karena matahari saat sunset atau saat sunrise berada jauh dari mata kita, maka spekturm warna yang diterima oleh mata kita adalah sinar tampak dengan gelombang panjang yaitu berwarna merah, jingga, hingga kuning. Sedangkan saat siang atau tengah hari dimana matahari berada dijarak yang dekat dengan mata kita, maka langit akan terlihat warna biru (gelombang pendek).

Pelagi, fenomena meteorologi paling indah

Pelagi, fenomena meteorologi paling indah (FB Bereau of Meteorology)

Siapa yang belum pernah melihat pelangi? Berarti belum pernah melihat lukisan Tuhan sang maha pencipta. Yaa, itu kata lagu anak-anak sepanjang masa karya AT Mahmud. Pelangi memang sering muncul pada saat setelah hujan. Dengan lengkungannya yang indah, seluruh deretan sinar tampak menyentuh mata, bahkan banyak mitos yang mengibaratkan ada sesuatu yang luar biasa di ujung pelangi. Sebenarnya, proses terbetuknya pelangi adalah cahaya sinar matahari yang mengenai sisa-sisa tetesan air kemudian menyebarkan spekturm warna yang dapat terlihat oleh mata kita.

Aurora di ujung bumi (FB Bereau of Meteorology)

Aurora di ujung bumi (FB Bereau of Meteorology)

Sudah pernah lihat aurora? bukan… bukan aurora anak pak RT. hehehe. Beruntung sekali bagi orang tropis seperti orang Indonesia bisa melihat aurora karena aurora ini berada di ujung bumi, yaitu di kutub — dimana muncul garis-garis medan magnet bumi. Beruntung lah negara-negara yang dekat dengan kutub seperti Eropa, Australia, dan negara-negara lainnya karena bisa melihat pertunjukan aurora yang menari-nari di setiap tahunnya. Ada dua macam aurora yaitu, aurora borealis yang berada di belahan kutub utara dan aurora australis yang berada di kutub selatan.

Aurora adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari (angin surya) source: wikipedia

Hujan salah satu fenomena meteorologi (http://www.vemale.com)

Hujan salah satu fenomena meteorologi (http://www.vemale.com)

Hujan merupakan salah satu fenomena meteorologi yang sering kita jumpai. Karena merupakan siklus hidrologi, maka tidak ada awal dan akhir dari proses tersebut. Hujan (presipitasi) yang turun kemudian jatuh pada DAS, kemudian mengalami infiltrasi, runoff (limpasan), evaporasi, transpirasi, kondensasi, hingga akhirnya jatuh ke bumi lagi sebagai presipitasi. Siklus hidrologi ini terjasi secara alami. Namun, jika ada salah satu bagian dari siklus hidrologi ini yang terganggu atau berubah dari normalnya, maka akan terjadi suatu bencana hidrometeorologi. Misalnya curah hujan semakin meningkat, jika resapannya tidak mampu menampung air hujan tersebut maka limpasan semakin banyak dan terakumulasi menjadi banjir. Begitu pula, dengan fenomena kekeringan karena radiasi matahari meningkat, evapotraspirasi juga meningkat, dan curah hujan menurun.

Banyak orang yang tidak mengenal meteorologi walaupun banyak contohnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimana kita masih hidup di lingkup atmosfer, berarti disana ada meteorologi. ๐Ÿ™‚

Characteristic of Hydrological Drought in Java River Basins

ABSTRAK

NYAYU FATIMAH ZAHROH. Karakteristik Kekeringan Hidrologi di Beberapa Daerah Aliran Sungai di Pulau Jawa. Dibimbing oleh MUH TAUFIK.

Kekeringan hidrologi merupakan keadaan ketersediaan air di bawah normal dan merupakan propagasi dari kekeringan meteorologi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ambang batas, menganalisis karaktersitik kekeringan, dan menganalisis frekuensi kejadian kekeringan hidrologi di DAS Ciujung, Brantas, dan Bengawan Solo. Dalam penelitian ini, kekeringan hidrologi diidentifikasi dengan menggunakan metode ambang batas (Q0, threshold level method). Dengan menggunakan ambang batas persentil 80 (Q80) dari kurva durasi aliran, diperoleh nilai Q0 untuk DAS Ciujung, Brantas, Bengawan Solo secara berturut-turut sebesar 17.6 m3s-1, 73.1 m3s-1, dan 46 m3s-1. Durasi minimum (dmin) 10 hari digunakan sebagai kriteria untuk kejadian kekeringan hidrologi. Durasi kekeringan maksimum yang terjadi di DAS Ciujung, Brantas, dan Bengawan Solo berturut-turut adalah 134 hari, 150 hari, dan 167 hari dan volume defisit maksimum di DAS tersebut berturut-turut 153.789 x 106 m3, 501.824 x 106 m3, 495.853 x 106 m3. DAS Bengawan Solo memiliki frekuensi jumlah kejadian dengan durasi di atas 100 hari paling tinggi dibandingkan kedua DAS lain.

Kata kunci: ambang batas, durasi, FDC, kekeringan hidrologi, volume defisit

ABSTRACT

NYAYU FATIMAH ZAHROH. Characteristic of Hydrological Drought in Java River Basins.Supervised by MUH TAUFIK.

Hydrological drought is a condition of water below normal and also a propagation of meteorological drought. The objectives of this study are to determine the thresholds level, to analyse drought characteristics, and to analyse frequency of hydrological drought in Ciujung, Brantas, and Bengawan Solo River basins. In this study, the hydrological droughts were identified by threshold level method. The 80-percentile (Q80) from flow duration curve was used to determined the threshold (Q0). The study reveals that the threshold of Ciujung, Brantas, and Bengawan Solo River basins 17.6 m3s-1, 73.1 m3s-1, dan 46 m3s-1, respectively. Minimum duration (dmin) amounting to 10 days was the criterion of hydrological drought events. Maximum durations of each river basin amounting to 134 days, 150 days, and 167 days, respectively, and maximum deficit volumes amounting to 153.789 x 106 m3, 501.824 x 106 m3, 495.853 x 106 m3, respectively. Bengawan Solo has the highest frequency of number of droughts which have duration more above 100 days than another.

Keywords: deficit volume, duration, FDC, hydrological drought, threshold

Download skripsi

Kurva Hidrograf

Limpasan permukaan (surface runoff) merupakan suatu aliran yang mengalir di atas permukaan menuju sungai, danau, dan laut akibat curah hujan melebihi laju infiltrasi. Aliran sungai dibagi menjadi dua bagian yaitu limpasan langsung (direct runoff) dan aliran dasar Curah hujan yang terinfiltrasi mencapai groundwater table kemudian setelah beberapa lama akan menuju aliran sungai yang disebut base flow (aliran dasar) atau limpasan air bumi (groundwater runoff) (Rakhecha dan Singh 2009).
2.1. Hidrograf
Hidrograf merupakan suatu gambaran aliran sungai dimana waktu diplotkan di sumbu x dan debit di sumbu y atau respon dari suatu DAS terhadap curah hujan yang jatuh di DAS tersebut (Rakhecha dan Singh 2009). Hidrograf juga disebut sebagai rekaman kontinu dari debit (Davie 2008). Hidrograf memiliki tiga bagian utama yaitu rising limb, crest segment, dan recession limb/falling limb (Rakhecha dan Singh 2009). Menurut Viessman dan Lewis (1989) hidrograf dibagi menjadi 4 komponen yaitu direct surface runoff, interflow, baseflow, dan precipitation channel.

Gambar 1. Contoh bentuk hidrograf (Rakhecha dan Singh 2009)

Baseflow atau aliran dasar merupakan komponen penting dalam hidrograf yang berasal dari groundwater dan/atau penyimpanan subsurface yang merembes ke saluran sungai, tanpa melihat variabilitas curah hujan. Jika pada musim kering, aliran sungai hanya terdiri atas aliran dasar (Smakhtin 2001; Schilling 2001; McCuen 1998).

Bentuk hidrograf dipengaruhi oleh faktor morfometri DAS (luas, bentuk, kelerengan DAS, pola jaringan sungai, kerapatan drainase dan landaian sungai utama) dan faktor tidak tetap (curah hujan, laju infiltrasi, evapotranspirasi dan tata guna lahan) (Suyono 1986).
Rising limb menggambarkan karakteristik DAS terhadap hujan badai. Karena laju infiltrasi masih tinggi pada saat awal hujan, menyebabkan debit naik agak lambat. Semakin lama hujan terjadi, maka laju infiltrasi pun mulai berkurang, dan runoff bertambah (Rakhecha dan Singh 2009). Air yang berkontribusi terhadap jumlah debit pada tahap ini adalah precipitation channel (hujan yang langsung jatuh diatas permukaan air dan mekanisme limpasan cepat (Davie 2008)
Crest segment atau bagian puncak terjadi setelah hujan berhenti dan runoff dari wilayah lain pada DAS tersebut menambah jumlah debit di tempat pengukuran. Dua atau lebih puncak dapat terjadi apabila terjadi hujan lagi. Bentuk puncak dipengaruhi oleh karakteristik hujan seperti durasi dan intensitas hujan) (Davie 2008)
Falling limb/ recession limb menggambarkan adanya aliran subsurface dan penarikan air dari penyimpanan yang ada di DAS. Falling limb dimulai dari titik belok crest segment yang menandai waktu berhentinya aliran masuk ke sungai. Ada dua faktor yang mempengaruhi pengurangan debit pada recession limb yaitu sampainya air hujan dari bagian terjauh DAS hingga di mulut DAS, dan sampainya air sebagai aliran bawah tanah yang lajunya lebih rendah dari aliran sungai (Davie 2008). Bentuk dari falling limb tergantung pada karakteristik hujan (Rakhecha dan Singh 2009) dan sifat basin (Viessman dan Lewis 1989).

Reference

Davie Tim. 2008. Fundamental of Hydrology, 2nd ed. New York: Routledge.

Rakhecha Pukh Raj dan Singh Vijay P. 2009. Applied Hydrometeorology. New Delhi: Springer

Suyono. 1986. Analisis Hidrograf Aliran Sungai Cimanuk di Atas Leuwigoong Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tesis. Bogor: IPB, Fakultas Pascasarjana

Viessman Warren Jr dan Gary L. Lewis. 1989. Introduction to Hydrology. New York : Harper & Row

Evapotranspirasi

Evapotranspirasi adalah transpor air ke atmosfer dari permukaan termasuk tanah(evaporasi tanah) dan vegetasi (transpirasi) (Burba et. al. 2011). ETo (evaporasi standar) merupakan kemampuan atmosfer agar terjadi proses evapotranspirasi dari permukaan rumput standar pada lokasi dan waktu yang spesifik tanpa pengaruh dari faktor tanah (Allen et al. 1998). Hal yang mempengaruhi evapotranspirasi adalah parameter cuaca, faktor tanaman, dan kondisi manajemen dan lingkungan (Allen et. al.1998), ketersediaan energi, ketersediaan air, dan albedo (Burba, et al. 2011).
Evapotranspirasi (ETc) adalah proses dimana air berpindah dari permukaan bumi ke atmosfer termasuk evaporasi air dari tanah dan transpirasi dari tanaman melalui jaringan tanaman melalui transfer panas laten persatuan area (Hillel, 1983).Ada beberapa faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi yaitu faktor iklim mikro, mencakup radiasi netto, suhu, kelembaban dan angin, faktor tanaman, mencakup jenis tanaman, derajat penutupannya, struktur tanaman, stadia perkembangan sampai masak, keteraturan dan banyaknya stomata, menutup dan membukanya stomata, faktor tanah, mencakup kondisi tanah, aerasi tanah, potensial air tanah dan kecepatan air tanah bergerak ke akar tanaman (Linsley dkk., 1979).
Crop coefficient (Kc) merupakan perbandingan antara besarnya evapotranspirasi potensial dengan evapotranspirasi tanaman (Etc) pada kondisi pertumbuhan tanaman yang tidak terganggu. Nilai Kc yang nilainya tergantung pada musim, serta tingkat pertumbuhan tanaman (Allen, et al., 1998).
Salah satu metode untuk menduga evapotranspirasi adalah metode yang dikembangkan oleh Thornthwaite (1948). Metode ini sangat sederhana karena hanya memerlukan data suhu udara dan lintang. Karena sangat sederhana, maka hanya beberapa wilayah saja yang cocok menggunakan metode ini untuk pendugaan Etc. Wilayah yang kurang cocok menggunakan metode Thornthwaite adalah daerah teririgasi beriklim arid dan semi-arid (Jensen 1973).

Reference
Allen RG, Pereira LS, Raes D, Smith M. 1998. Crop Evapotranspiration; Guidelines for Computing Crop Water Requirements. FAO Irrigation and Drainage Paper 56. FAO. Rome
Burba G, et. al. 2011. Evapotranspiration. [terhubung berkala] http://www.eoearth.org/article/Evapotranspiration (8 November 2012).
Jensen ME, ed. 1973. Consumptive Use Of Water And Irrigation Water Requirements. New York: American Society of Civil Engineers
Linsley Ray K., Joseph B. Franzini. 1985. Teknik Sumber Daya Air. Jakarta: Erlangga.
Thornthwaite CW. 1948. An approach toward a rational classification of climate. Geogr Rev 38:55โ€“94