Melakukan Penerbangan Ekstrem Ketika Hamil

copil

Tepat pada malam senin tanggal 15 November 2015 di hotel Aston Palembang saya terbangun dari tidur yang terbilang terlalu awal. Saya teringat saya belum menunaikan shalat isya, langsung saja saya bangun. Namun saya merasakan perut saya yang sangat kram dan belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sampai-sampai perut saya tidak bisa di tekuk. Saya tahan rasa sakit itu demi menjalankan kewajiban saya sebagai umat muslim. Rasa sakit mulai bertambah ketika saya kembali ke tempat tidur single bed yang saya tiduri. Berharap dapat tidur lebih cepat agar dapat menahan rasa sakit, nyatanya belum bisa juga mata ini menutup. Melihat ke samping kiri ranjang saya, ada teman sekamar yang sudah terlelap tidur. Terpaksa saya bangunkan karena rasa nyeri yang tak terperi. “Mbak, ada minyak angin?”. Karena saya pikir ini masuk angin. Teman kamar saya pun menjawab seadanya dengan menggeleng-geleng karena masih mengantuk mungkin.

Alhamdulillah, besoknya dengan ajaib masalah perut sudah selesai. Seperti biasa, saya pun melaksanakan penerbangan siang nanti. Namun rasanya ada yang aneh dari tubuh saya ini. Sempat berpikir bahwa saya akan mengalami siklus bulanan wanita. Tapi, jika saya menandakan tanggal terakhir saya haid, maka itu akan terjadi minggu depannya. Lalu saya berasumsi, how if i am pregnant? Dalam sekejap, saya menghapus asumsi itu dari pikiran. Karena saya tidak ingin berasumsi dulu sebelum saya benar-benar telat datang bulan.

Cuaca kala itu di wilayah Sumatera Selatan memang sepertinya sudah memasuki musim penghujan. Tetapi kegiatan teknologi modifikasi cuaca yang sedang saya jalani belum bisa berhenti begitu saja karena belum ada suruhan langsung dari sang pemegang kewenangan. Hal ini karena masih terdeteksi titik-titik api yang terlihat di citra satelit di wilayah OKI, Sumsel. Alhasil, tim kami pun sempat melakukan beberapa penerbangan di sisa-sisa kontrak kami. Karena awan-awan penghujan telah masuk ke wilayah Sumsel, tak jarang kami terjebak di antara awa-awan dan mengalami turbulensi pesawat yang cukup besar. Rasanya seperti naik kora-kora yang ada di Dunia Fantasi. Saya pun merasakan rasa pusing dan mual, walaupun tidak sampai mengeluarkan isi lambung. Beberapa kali kejadian itu saya alami. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.

Tepat pada tanggal 28 Oktober 2015, saya melakukan test pack. Beberapa hari sebelumnya saya meminta suami untuk membelikan beberapa test pack dengan merek berbeda-beda. Pada dini hari saya tampung urin pertama di gelas plastik PET dan saya celupkan test pack tersebut. Muncullah satu garis merah, dan saya menunggu yang kedua. Karena tidak sabar saya langsung mencoba kedua test pack lainnya. Yang ini jauh lebih lama. Ketika saja jejerkan ketiga test pack tersebut, ternyata garis kedua muncul dengan sempurna. Dua garis merah. Kebahagiaan ini pun langsung saya laporkan kepada suami tercinta dan langsung saya peluk. Alhamdulillah

Sempat ketika keraguan saya dengan kehamilan ini muncul (sebelum melakukan test pack), saya yakinkan kepada diri saya dan janin saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saya meminta kekuatan kepada Tuhan, mohon kekuatan jika rahim saya telah dibuahi. “Dek, kamu harus kuat ya”. Alhamdulillah. Allah memang Maha Mendengar. Jika saya mengetahui lebih awal tentang kehamilan ini mungkin saya tidak akan pernah melakukan penerbangan ekstrem tersebut dan jika saya terpaksa melakukannya, saya tidak bisa menjamin bayi dalam kandungan saya masih ada.

Balon Ini Dapat Meramal Cuaca!

Terlihat karet berwarna putih mulai mengembang setelah diisi dengan gas hidrogen. Dari yang tak kasatmata bentuknya hingga membentuk bola berdiameter lebih dari satu meter. Melayang-layang di udara diikat dengan seutas tali yang panjangnya mencapai lebih dari 10 meter. Setelah balon cukup besar dengan tekanan tertentu, bola  besar tersebut kemudian digiring oleh Pak Kadarsah dari BMKG yang bertugas untuk membawa balon ke tempat dimana ia akan diluncurkan.

Sang balon sepertinya sudah tak sabar ingin diluncurkan, namun ternyata balon belum sempurna untuk dibiarkan berlari-lari ke angkasa. Balon ini harus disisipkan sebuah box dan sebuah parasut kecil di ekornya. Inilah yang membuat balon ini tak biasa yaitu terdapat alat yang berbentuk balok ringan dengan panjang sekitar 25 cm yang disisipkan pada tali yang mengikat balon. Alat tersebut dinamakan Radiosonde. Balon ini bisa meramal cuaca karena terdapat instrumen cuaca dan radio transmiter guna merekam apa yang terjadi di atas sana. Parameter-parameter tersebut terdiri dari tekanan, suhu, dan kelembaban. Juga ditambah parameter arah dan kecepatan angin (dinamakan rawinsonde). Kemudian data tersebut akan langsung diterima oleh pengamat yang meluncurkan tadi.

Sebelum diikatkan, radiosonde sebelumnya diatur terlebih dahulu dengan menggunakan seperangkat komputer dan alat khusus agar radiosonde dapat bekerja dengan baik. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah persiapan, sonde check, dan peluncuran. Karena kehebatannya, tak salah jika sekali peluncuran menghabiskan biaya hampir 5 juta rupiah dan biasanya dilakukan dua kali sehari. Wow.

Seberapa penting peluncuran radiosonde sehingga mengharuskan kita mengeluarkan uang hampir 10 juta dalam sehari?. Peluncuran radiosonde di Indonesia biasanya dilakukan di bandara-bandara untuk mengetahui profil vertikal dari distribusi temperatur, tekanan, kelembaban, dan kecepatan serta arah angin. Tentunya dalam penerbangan sangat penting menyangkut keselamatan dalam penerbangan. Waktu diluncurkannya pun disesuaikan dengan waktu internasional yaitu jam 00 UTC (jam 7.00 WIB) dan 12 UTC (jam 19.00 WIB). Untuk keperluan tertentu, jam terbang radiosonde bisa ditambah menjadi 4 kali dalam sehari yaitu jam 00, 06, 16, dan 18 UTC.

“Siap… luncurkan” seru mbak Wiwid yang bertugas dalam pengoperasian komputer untuk peluncuran radiosonde. Pak Samsudin dan Pak Kadarsah pun melepaskan tali balon dari penahannya dan membiarkannya mengudara. Gas hidrogen merupakan unsur teringan yang berada di semesta ini sehingga ia akan mudah untuk terbang ke langit. Lama kelamaan ukuran balon mulai mengecil dari pengelihatan, membayangkan bagaimana ia menjelajah lapisan troposfer, membaca satu persatu parameter per lapisan ketinggian. Dari komputer pemantau dapat dilihat kemana balon itu menari-nari, berjingkat-jingkat, dan berlari di cakrawala. Luasan permukaan balon kian melebar seiring bertambahnya ketinggian karena tekanan udara yang semakin berkurang. Hingga pada suatu titik, balon tersebut tak mampu menahan tekanan yang ia terima dan meletus pada ketinggian tertentu. Radiosonde pun mulai terjun bebas menggunakan parasut yang sudah disisipkan pada tali balon dan membiarkan angin membawanya ke tempat ia akan mendarat dan sampai di bumi. Jika sampai ada orang yang menemukannya, maka ia akan membaca tulisan pada badan radiosonde “Alat ini tidak berbahaya”.

Dalam perjalanannya di angkasa selama lebih dari satu jam, radiosonde sudah cukup untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Data yang diperoleh dari pengukuran radiosonde kemudian diplotkan menjadi profil vertikal menggunakan sebuah software bernama Rawinsonde Observation (RAOB) yang kemudian dapat digunakan sebagai analisis prediksi cuaca, peringatan dini cuaca ekstrem, atau untuk penelitian mengenai atmosfer.

 

Jokowi Masih Saja Berevolusi Mental

Pada jumat siang (11/12) saya sedang berada di perpustakaan BPPT Gedung 2 lantai 4, berniat ingin menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan. Tiba-tiba saja di tengah keheningan perpustakaan, handphone saya bergetar. Nomor yang terhubung sepertinya nomor kantor karena diawali dengan +62 21… Langsung saja saya angkat telepon tersebut. Pikir saya, kalau bukan dari urusan kantor atau urusan penting, maka yang menelpon adalah dari pihak bank atau asuransi yang sedang menawarkan produk-produknya. Gampang saja, jika itu dari bank maka saya langsung jawab “Maaf saya sedang sibuk”.

Terdengar suara seorang pria berumuran 20 tahunan menyapa saya di ujung sambungan telepon disana. Halo… Sambil memastikan keterangan nama saya, pria muda yang mengaku bernama Ardhi dari Kompasiana tersebut mengundang saya untuk makan siang di Istana Negara bersama Presiden Indonesia Joko Widodo. Senyum pun tersungging di pipiku. Mimpi apa aku semalam. Rasanya saya tidak pernah bermimpi bertemu pak presiden tetapi ini merupakan hal yang luar biasa. Ardhi menjelaskan tentang acara tersebut yang merupakan bagian dari rangkaian acara Kompasianival yang diadakan esok hari.

Pakai baju apa? Batik. Boleh pakai jeans? Tidak boleh. Oiya, boleh bawa suami? Kalau suaminya tidak diundang maka tidak boleh. Apa alasannya? Jam 9 harus sudah ada di gandaria city yaa.

Tak sempat saya memikirkan baju apa yang mau dipakai. Apa harus beli malam ini? Namanya juga perempuan. Tapi saya memutuskan untuk mengenakan baju yang sudah ada saja. Asalkan rapi.

Saya dan suami memang merencanakan untuk menghadiri acara kopdar terbesar Kompasianer. Saya sudah mendaftarkan diri via online dan email balasanpun saya terima yang berupa QR Code untuk registrasi saat di TKP. Rasanya tanggal 12 Desember itu lama sekali sejak saya mendaftar di bulan Oktober. Acara ini saya tunggu-tunggu karena tahun kemarin yang tidak sempat hadir karena sedang sakit. Rencana ini sempat dibatalkan karena ada acara mendadak yang memang tidak bisa gantikan. Tetapi Allah memang berkata lain, saya tetap diijinkan untuk mengikuti Kompasianival dan bonusnya adalah makan siang bersama dengan bapak no 1 di Indonesia.

Sesekali saya melirik jam tangan dan melihat jarum panjang berada di angka 4 dan jarum pendeknya di angka 9 lewat. Saya sudah terlambat. Bagaimana kalau tertinggal? Ngga jadi dong ke istananya makan bareng presiden? Ah.. mungkin mereka ngaret. Kesempatan ini kan belum tentu datang dua kali. Tapi saya harus berpikir positif. Kalau memang jodoh bertemu presiden, semesta akan mendukung.

Benar saja, pas saya dan suami sampai di Gandaria City tepat di lokasi Kompasianival di langsungkan, MC sedang membagi-bagikan undangan resmi yang diberikan oleh Sekretaris Negara dalam rangka undangan makan siang. Mereka belum berangkat. Di depan pintu masuk, saya sempat berbincang dengan mas is (atau orang-orang lebih mengenalnya isjet), seputar pekerjaan yang kini saya sedang saya jalani. Bincang-bincang kami harus terpotong karena nama saya dipanggil oleh MC untuk menerima undangan tersebut.

Memang tidak bisa disalahkan atas penentuan 100 orang yang terpilih untuk mengikuti makan siang bersama pak Presiden karena penentuan ini benar-benar mendadak. Orang-orang yang dipilih pun bisa jadi cenderung subjektif. Tetapi saya sangat menghargai kepada pihak Kompasiana yang memilih karena saya tahu hal ini sangatlah tidak mudah. Di rencana awal, pak presiden akan membuka langsung acara Kompasianival 2015 di Gandaria city. Apa daya jika Pak presiden berhalangan untuk menghadiri acara tersebut secara mendadak. Dan saya pun yakin, pihak Kompasiana tidak bermaksud pilih kasih kepada Kompasianer-kompasianer setianya.

Para undangan hadir di acara makan siang bersama Pak Presiden dengan menganakan Batik. Saya pikir tak sedikit orang yang memilih batik-batik terbaiknya untuk dikenakan saat makan bersama pak Presiden. Semua berusaha tampil serapih mungkin dihadapan Pak Presiden. Ketika masuk ke ruang pertemuan sudah ada beberapa meja bundar yang di tata rapi yang akan digunakan untuk makan siang. Saya memilih tempat duduk yang berada di tengah ruangan bersama wanita-wanita Kompasianer. Di meja bundar tersebut sudah tersaji 3 sendok sup, satu sendok makan, dan satu garpu ditemani dengan serveit yang dihias cantik serupa dengan kipas.

20 menit kemudian pak presiden masuk ke ruangan. Kami hampir serentak berdiri dan langsung menghampiri pak Presiden. Saya yang berada di tengah ruangan tidak perlu lagi mengambil posisi yang tepat agar pak presiden menerima salam saya. Dari pandangan pertama saya, tak menyangka, pak presiden justru masih setia mengenakan baju putih hitamnya. Yang saya ingat betul adalah ujung bajunya tidak dimasukan ke dalam celana hitamya. Sambil menebar senyum, pak presiden menikmati saja bersalaman dengan 100 orang Kompasianer ini. Mungkin sudah terbiasa blusukan.

Sesampainya di ujung jalan, pak Presiden meraih mic yang berdiri di sebelah kanan panggung yang berlatarkan peta Indonesia. Kami yang sudah haus mendengarkan wejangannya bersiap untuk mendengarkan. “Serius amat, makan dulu yuk!” kata beliau yang langsung disambut tawa para hadirin.

Saya tidak begitu hafal dengan makanannya karena saya tidak menikmati semua jenis makanan tersebut. Bukan karena makanannya tidak enak, tetapi saya sedang tidak enak badan. Saya ambil sedikit nasi kemudian saya isi mangkuk dengan sop buntut yang segar. Ada pula sate sapi, udang apa…, martabak apa… Beginilah kalau sedang tidak menikmati makanan. Lupa dengan apa yang dimakan. Tapi, ada satu yang diingat yaitu es buahnya yang segar, terdiri dari pepaya dan beberapa buah lainnya, ada cingcau, dan selasih. Yang jelas, makanan yang tersedia hampir sebagian besar berasal dari Asia terutama Indonesia karena di meja makan tidak disediakan pisau.

Beberapa Kompasianer dipersilahkan oleh Mas Isjet untuk memberikan uneg-unegnya di hadapan pak Presiden. Ada yang berkisah tentang pekerjaannya di Hongkong, kondisi kehidupannya di Bali, semangat para Ambonia, kisah ibu yang memperjuangkan hak-hak anaknya, dan masih banyak lagi. Beberapa hal penting yang diungkapkan oleh Kompasianer di catat oleh Pak Presiden dalam catatan kecilnya. Semua ini tetantang mengubah sistem dan hal tersebut tidak semudah membalikan telapak tangan. Tidak banyak orang yang mau turut dalam perubahan sistem tersebut. Pasti ada halangan dan tantangan. Seperti yang ia ceritakan ketika menjadi walikota, tahun pertama dan kedua, masyarakat masih enggan bergerak. Baru di tahun ketiga masyarakat mulai bergerak, itupun masih sebagiannya. Diperlukan kekonsistenan dalam menjalankan suatu sistem baru ini.

Satu hal yang menyangkut dipikiran saya ketika pak Jokowi berpidato yaitu “Revolusi Mental”. Poin ini memang tidak dikatakan langsung tetapi memang revolusi mental ini diperlukan oleh bangsa kita yang mentalnya sudah hampir hancur, budaya ketimuran sudah luntur, tidak semangat, tidak percaya diri, dan lain sebagainya. Jangan takut menghadapi pasar bebas, lihat lah anak-anak muda kita ini sudah mulai membuka lapaknya di media online, produk Indonesia yang memiliki kualitas mendunia, dan SDM yang mumpuni.  Justru negara-negara tetangga lah yang takut terhadap negara kita. Kita harus percaya diri dengan apa yang kita miliki. Janganlah memisahkan-misahkan diri. Lovers or haters. Kita satu Indonesia. Ayo, mulai dari sekarang kita bangkit dan bersatu (udah kaya kampanye aja, hehehe). Ini bukan ungkapan rasa bangga saya terhadap pak Presiden tetapi rasa kecintaan saya terhadap negeri tercinta.

“Kalau kamu ingin menjelek-jelekan saya, silahkan. Tapi jangan coba-coba menjelek-jelekan Indonesia” Jokowi

Asap Pontianak Paling Berbahaya

Pada jam 14:30 melalui citra radar BMKG kami melihat satu sel awan potensial yang berada di atas kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Ukurannya memang tak seberapa, tapi kami ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Maklumlah kemarin kami tidak melihat satu sel pun awan untuk disemai di atas daratan Kalimantan Barat. Sang pilot Kapten Deharday langsung berkoordinasi dengan crew casa untuk mempersiapkan penerbangan. Saya pun langsung mempersiapkan diri, GPS, antena, form penerbangan, dan jangan lupa oksigen kaleng di masukan ke dalam tas.

Saya percepat langkah menuju apron sambil membawa tas terbang, di sana sudah berkumpul para crew pesawat yang mengenakan wearpack hijau. Saya sempat melihat kondisi jarak pandang di sekitar taxiway Supadio. Lumayan jika dibandingkan dengan tadi pagi yang mencapai 200 meter. Hal tersebut terbukti karena pesawat sipil Lion baru saja melintas di depan mata saya. Rupanya baru landing.

Kapten Deharday, Lettu Awan, Letda Fatur, dan crew-crew lainnya sudah berkumpul. “Heading ke 30 derajat, Capt” kata Mas Alfan sebagai rekan flight scientist saya. “Siap” jawab sang kapten. Bang Harday, begitu saya memanggilnya, memimpin doa agar segala sesuatunya lancar. Tepat jam 14:45 kami naik pesawat Casa A2105.

Engine on pada jam 14:50, langsung saya catat di form penerbangan. Mas Alfan mempersiapkan GPS, memasang antenanya, dan memastikan sinyal sudah ditangkap. Saya mengintip dari tempat duduk saya yang arahnya tegak lurus dengan posisi kepala pesawat, sepertinya Bang Harday dan Fatur agak ragu-ragu. Tak dapat saya tangkap pembicaraan mereka karena suara mesin yang bising. Tiba-tiba saja sang pilot mematikan mesin tepat di jam 15:00. “Ko mesinnya dimatikan?” kata saya bingung. Sang pilot pun bangun dari tempat duduknya dan berkata “Bandaranya close”.

Bang Harday sempat terheran-heran dengan kejadian ini. Sebelum naik ke pesawat, informasi visibility mencapai 1.600 meter di Bandara Supadio. Tentunya ini sudah cukup untuk take off dari bandara. Saat mesin sudah dinyalakan, Bang Harday sempat melihat visibility mulai berkurang “Kok pekat ya?” katanya. Ia pun langsung menanyakan kepada pihak bandara berapa tingkat visibility sekarang. Jawaban yang didapat adalah 800 meter. Mesin masih menyala. Tapi, lama kelamaan sang pilot merasa visibility semakin rendah. Benar saja. Dari pihak bandara menyatakan close karena visibility sekarang mencapai 300 meter. Mesin dimatikan.

Betapa cepatnya angin membawa asap-asap tersebut ke wilayah lain. Dalam 10 menit visibility bisa turun drastis dari 1500 meter menjadi 300 meter. Dari pantauan satelit, titik-titik api di Kalimantan barat terkonsentrasi di wilayah selatan. Namun angin yang dominan di Kalimantan Barat berasal dari arah selatan membawa massa udara ke utara. Hal tersebut membuat asap-asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berada di selatan terbawa hingga ke utara. Data yang ada pun mendukung, bahwa sebagian besar wilayah yang berada di utara memiliki visibility lebih rendah dibandingkan dengan wilayah di bagian selatan yang banyak hotspotnya.

Asap kebakaran tak hanya mengganggu penerbangan, tetapi juga proses belajar mengajar. Menurut Pak Suwarno satgas TMC dari BPBD Kalbar, sebagian besar sekolah di Kalimantan Barat yang terkena asap kebakaran diliburkan paling tidak untuk pekan ini. Hal tersebut karena asap kebakaran yang tak tanggung-tanggung menunjukkan angka yang sangat berbahaya. Pada jam 8-10 pagi  di Pontianak merupakan waktu konsentrasi tertinggi partikulat yang berukuran kurang dari 10 mikron (PM10) dari asap kebakaran. Tercatat hingga 1.000 u gram per meter kubik lebih, masuk ke dalam kategori “Berbahaya”. Jauh dari ambang batas aman yaitu 150 ugram per meter kubik. Nilai yang kualitas udara Pontianak ini merupakan yang paling parah jika dibandingkandengan kota Palembang dan Pekanbaru yang juga sedang mengalami bencana asap.(http://bmkg.go.id/bmkg_pusat/Kualitas_Udara/Informasi_Partikulat.bmkg)

Dampak yang sudah jelas terasa jika terpapar asap kebakaran dalam waktu lama adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Penyakit ini memerlukan penangan yang cepat agar tidak berlanjut ke kondisi yang lebih parah. (http://www.alodokter.com/ispa)

Asap kebakaran hutan dan lahan tidak mengenal batas administrasi. Walaupun luas hutan dan lahan yang dibakar sudah dibatasi sedemikian rupa agar api tidak menyebar kemana-mana, tetap saja asap tidak acuh. Ia akan menyebar meluas mengikuti dewa Anemoi untuk bermigrasi ke tempat lain. Dampak yang disebabkan pun tak hanya daerah sekitarnya. Tetapi wilayah yang jauhnya hingga beratus-ratus kilometer. Banyak orang yang dirugikan. Oleh karena itu, lebih baik jika kita bantu mengingatkan dampak kebakaran kepada orang-orang yang ingin membakar hutan dan lahan dan segera laporkan jika ada yang membakar hutan dan lahan.

 

Kebenaran Berita Se-ember Air Garam

Ketika perwakilan DPD RI menyinggahi kami di Posko TMC (teknologi modifikasi cuaca) Supadio, Kalbar, langsung saja Bapak yang berbadan tambun ini menanyakan tentang kebenaran sebuah isu yang kini tengah menyebar di kalangan masyarakat terutama yang sedang dilanda bencana asap, kebakaran hutan dan lahan. Awalnya saya hanya senyam-senyum saja, ternyata isu tersebut tidak main-main. Rekan-rekan TMC kami yang berada di Jambi melaporkan isu tersebut, nyatanya banyak telepon dari berbagai media menanyakan kejelasan isu ini. Berikut kira-kira broadcast di medsos.

Tolong bantu saudara kita di Jambi. Di sana hanya tersisa 5%udara yang layak. Haya dengan langkah kecil. Darurat asap! Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakan diluar, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11 hingga 13, dengan semakin banyak uap air di udara akan semakin mempercepat kondensasi menjadi butir air pada suhu yang semakin dingin di udara. Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan semakin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini dimasing-masing rumah ratusan ribu rumah akan menciptakan jutaan kubik uap air di udara. Lakukan ini satu rumah cukup satu ember air garam. Besok Sabtu tanggal 12 jam 10 pagi serempak. Mari kita sama-sama berusaha menghadapi kabut asap yang semakin parah ini. Mohon diteruskan. Terima Kasih. Salam Greenpeace Youth Indonesia.

Rekan-rekan saya dalam grup whatsapp pun bereaksi. Ternyata isu ini menyebar begitu cepat. Mari kita bermain logika untuk menemukan apakah berita tersebut masuk akal atau tidak. Berikut isi pernyataan Dr. Tri Handoko Seto seorang peneliti Meteorologi Tropis di Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) dan beberapa rekan-rekan lain di TMC.

  1. Jika kita berasumsi satu ember air yang sediakan oleh setiap rumah dengan volume kira-kira 10 liter air, maka jika seratus rumah melakukan hal tersebut, ada satu meter kubik air yang akan menguap. Itu pun jika semua air menguap. Apakah pernah kita mengisi satu ember penuh di jemur seharian lalu air dalam ember habis total. Hampir tidak mungkin. Butuh ratusan juta ember air untuk mendapatkan jutaan meter kubik di udara.
  2. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya hujan, selain penguapan, pola aingin, kelembaban udara, tekanan udara, dan masih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi dalam skala yang lebih luas. Proses pembentukan awan pun beragam ada yang terbentuk karena orografis (dipaksa naik karena topografi seperti gunung), konveksi (pengangkatan massa udara), front, dan lain-lain. Tidak hanya sesimpel menguapkan air dalam ember.
  3. Jutaan ember tidak bisa dibandingkan dengan ember besar lautan yang mengisi sekitar 70% isi bumi. Meskipun musim kemarau, air laut tetap mengalami penguapan dan menjadi penyuplai massa udara yang besar.
  4. Garam sebagai inti kondensasi, tidak bisa disamakan dengan garam yang dilarutkan dalam air sebaskom. Garam-garam yang berada di atas laut berasal dari percikan ombak yang bertabrakan. Karena ukurannya yang sangat kecil sehingga mampu terbawa secara vertikal dan kemudian menjadi inti kondensasi (tempat menempelnya butir-butir air). Jika garam yang terlarut dalam sebaskom air mampu terbawa ke udara melalui proses penguapan, maka dari mana petani garam mendapatkan garamnya?

Tim TMC kami telah berusaha dan bekerja sebaik mungkin dengan memanfaatkan potensi awan dan cuaca yang ada untuk menghasilkan hujan di wilayah sekitar bencana asap, kebakaran hutan dan lahan. Dengan kegiatan ini, NaCl yang kami semai akan membantu awan-awan yang sedang tumbuh (awan cumulus) agar dapat menghasilkan hujan dan mengurangi dampak bencana tersebut.

Kepala Bidang kami ini sangat mengapresiasi atas partisipasi masyarakat dan kepeduliannya yang begitu besar. Namun, lebih baik jika masyarakat (1) tidak membakar hutan dan lahan pada saat musim kemarau karena dampaknya bisa sangat besar. Tidak hanya api yang dapat membesar dan merambah kemana-mana, tetapi asap yang dihasilkan tidak dapat dikendalikan. (2) Jadilah pengawas kebakaran hutan dan lahan. Laporkan jika ada yang membakar hutan dan lahan. (3) Ikut aktif dalam gerakan pemadaman hutan dan lahan di wilayah sekitar. (4) dan yang terakhir adalah berdoa kepada Tuhan YME agar bencana ini cepat berakhir.

Ilustrasi (http://www.hdifoundation.org/)

Ini Peran Hujan Buatan pada Bencana Asap, Kebakaran Hutan dan Lahan

*cuaca berasap di Pontianak

Musim kemarau tahun ini memang sudah berdampak pada kekeringan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Bukan hanya pasokan air tanah yang berkurang tetapi juga berdampak pada kebakaran hutan, asap kebakaran yang menyebar ke seluruh daerah, asap yang terhirup menyebabkan gangguan pernapasan, visibility yang rendah mengakibatkan beberapa penerbangan terganggu, curah hujan rendah, bahkan menyebabkan menaiknya kurs rupiah. Keparahan ini didukung dengan adanya fenomena alam seperti El nino yang membuat wilayah sekitar Indonesia kering dan wilayah Amerika Selatan basah. BNPB sebagai badan yang berurusan dengan penanggulangan bencana memberikan upaya seperti water bombing dan teknologi modifikasi cuaca.

Water bombing atau bom air merupakan salah satu cara menanggulangi hotspot atau titik api dengan memberikan sejumlah air langsung ke titik api tersebut dengan menggunakan helikopter seperti Kamov (dari Rusia) dan Bolkow (dari Jerman). Cara ini cukup efektif untuk bertindak langsung pada titik api. Heli Kamov dengan membawa tampungan air seperti ember besar berkapasitas 5000 liter diarahkan ke sumber air seperti sungai lalu digiring ke target titik api. Sedangkan heli Bolkow hanya mampu membawa sekitar 450 liter. Hanya saja teknologi ini akan memakan waktu yang lama dan tidak bisa dipungkiri jika air yang dibawa tidak seluruhnya bisa dijatuhkan pada sasaran karena selama perjalanan bisa jadi air tampungan tercecer. Untuk biaya heli kamov sekali operasi mencapai 150 juta rupiah sedangkan Bolkow mencapai 30 juta rupiah. Wow

*pesawat casa A2105 yang digunakan untuk TMC (depan)

Berbeda dengan water bombing, teknologi modifikasi cuaca atau yang lebih dulu dikenal sebagai hujan buatan tidak berurusan dengan “menyiram dengan air”. Teknologi ini memberikan intervensi pada awan agar dapat mempercepat dan memperbanyak jumlah potensi hujan. Banyak orang salah kaprah tentang teknologi modifikasi cuaca. Mereka beranggapan bahwa hujan dapat dibuat. Jika penyemaian NaCl (garam) dilakukan di tempat target maka hujan akan turun. Tidak semudah itu. Banyak faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan seperti analisa kondisi cuaca di wilayah target, analisa keberadaan awan dengan menggunakan radar, dan analisa arah dan kecepatan angin, analisa lainnya yang berhubungan dengan meteorologi.

Jika semua sudah dianalisis, para flight scientist bersama crew pesawat membuat strategi untuk menyemai target, dalam hal ini target berarti awan. Jumlah garam yang ditabur pun harus sesuai dengan kondisi awan. Jika awan terlalu kecil lalu diberi banyak garam, maka akan terjadi kompetisi antar inti kondensasi (garam). Awan bukannya tumbuh malah tak terbentuk. Setelah target telah disemai, apakah langsung terjadi hujan?. Bisa iya bisa tidak. Karena kita berurusan dengan alam, maka banyak ketidakpastian di sana. Yang kita lakukan hanya mempelajari alam lalu dieksekusi.

Efektifkah TMC pada musim kemarau

Teknologi modifikasi cuaca memang memerlukan kondisi cuaca yang mendukung seperti pasokan uap air, kelembaban udara, radiasi yang cukup, suhu udara, dan unsur-unsur meteorologi lainnya. Kondisi-kondisi yang mendukung tersebut biasanya terdapat pada musim hujan, karena unsur-unsur cuaca mampu membuat awan-awan potensial seperti awan cumulus. Satu inti kondensasi yang disemai akan mengikat jutaan droplets sehingga ketika cukup besar dan massanya bertambah akan turun sebagai presipitasi. Namun, bagaimana dengan kegiatan TMC yang dilakukan untuk menanggulangi bencana asap, kebakaran hutan, dan lahan yang umumnya terjadi pada musim kemarau seperti saat-saat ini? Efektifkah?

*briefing pagi yang dihadiri oleh BNPB, BPBD, BPPT, BMKG, Crew Casa, Lanud Supadio, dll.

Memang sulit untuk memanfaatkan TMC pada saat musim kemarau karena kondisi cuaca kering. Inti kondensasi harus memperebutkan air-air yang ada di udara agar dapat membentuk awan. Namun sayang, karena pasokan uap air yang kurang, maka awan yang terbentuk hanya kecil saja atau bahkan clear, tidak terbentuk apa-apa. Begitu juga jika penyemaian dipaksakan di sekitar hotspot, bukannya terbentuk awan, garam-garam yang ditabur malah jatuh kembali. Hal tersebut karena asap yang banyak juga berkompetisi untuk mengikat air di udara, sedangkan udara di sekitar kebakaran kering (tidak ada uap air). Maka garam yang disemai pun tak dapat apa-apa.

Maka, untuk kegiatan TMC mungkin bisa dikatakan kurang tepat untuk mematikan titik-titik api yang ada di suatu wilayah. Tapi cukup efektif untuk membersihkan langit dari pengaruh asap sehingga visibility bertambah, lalu lintas penerbangan tidak terganggu, penyakit gangguan pernapasan seperti ISPA berkurang,  dan lain sebagainya. Namun, tidak menutup kemungkinan jika TMC dilakukan di wilayah yang terdapat hotspot. Jika unsur-unsur cuaca mendukukung, sel-sel awan bisa memungkinkan terbentuk di  wilayah yang terdapat hotspot.

Salah jika pemerintah tidak bekerja

Kemarin pagi ketika akan berangkat menuju posko satgas TMC di Lanud Supadio, Kalbar dalam upaya penanggulangan bencana asap, kebakaran hutan dan lahan, saya mendengar opini dari pemirsa di salah satu televisi swasta bahwa pemerintah tidak bekerja dalam menanggulangi kekeringan, asap, kebakaran hutan dan lahan. Sontak hati saya merasa sakit karena yang sedang saya lakukan sejak sebulan lalu disini seolah-olah tidak ada apa-apanya. Nihil. Kami (BPPT) disini memang diutus oleh BNPB dan BPBD untuk menanggulangi bencana yang sedang terjadi.  Bukan hanya di televisi, tetapi masyarakat sekitar pun mencemooh karena tidak terlihat hasil kerja dari TMC malah bertambah parah. Ya sudah lah, biarlah orang berkata apa karena mereka tidak mengetahui. Yang penting tetap semangat demi kemaslahatan warga sekitar Kalimantan Barat.

Sekitar jam 1 siang saya bersiap untuk naik pesawat Casa A2105, rencana penerbangan heading to six zero until one two zero. Engine on. Sudah 20 menit berlalu namun pesawat belum memasuki runway. Ternyata traffic di Bandara Supadio masih sibuk. Maklum saja sedari pagi visibility mencapai 400 m sedangkan ambang batas yang diperbolehkan 1.2 km. Setelah pesawat dari Lion Air masuk ke taxiway, akhirnya pesawat TNI AU yang saya tumpangi masuk ke runway dan bersiap untuk take off. Pesawat ini memang tidak cepat, tapi masih mampu untuk mengudara di langit Borneo. Tak lupa saya berdoa agar penyemaian ini berhasil dan semua kru pesawat dapat selamat hingga mendarat nanti. Alhasil penyemaian dilakukan di  Kab. Kubu Raya, Kab. Sanggau, dan Kab. Sekadau, Kalbar.

*Para penabur NaCl di ketinggian sekitar 10 ribu feet

Alhamdulillah tadi pagi melihat beberapa bercak berwarna biru dan hijau di profil spasial akumulasi presipitasi dari data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) kemarin hingga tadi pagi di wilayah yang kemarin kami semai. Itu berarti terdapat hujan di sekitar Kab. Kubu Raya, Kab. Sanggau, dan Kab. Sekadau sebesar 0.1-10 mm, atau hujan ringan hingga sedang. Kemarin ada 11 hotspot di Kalbar, hari ini tinggal 7 titik api. Alhamdulillah, semoga usaha kami yang sedikit ini mampu membantu masyarakat Kalbar dari bencana asap, kebakaran hutan dan lahan.

 

Klik video kegiatan TMC di https://www.youtube.com/watch?v=qhD5x7gA3qk

Terima Kasih, Pak Kadisops

Beliau adalah seorang yang memiliki pangkat di Lanud Supadio yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Melihat mukanya saja baru tiga hari yang lalu, mengenal namanya saja saya lihat di name tag yang tersisip di sebelah kanan dadanya yang cetak “Sidik”. Perawakannya tinggi gagah tipikal tubuh tentara, kulit menghitam tanda seberapa lama ia mengabdi pada negara, selalu mengenakan baju dinas biru karena bertugas di lanud. Dari ujung rambut hingga ujung sepatunya sangat rapi menunjukan beliau adalah pejabat. Jabatannya sebagai Kadisops (Kepala dinas operasional), dan ditambah tugasnya untuk memfasilitasi kami yang sedang melaksanakan kegiatan TMC. Saya tak pernah mengobrol dua mata bersama beliau namun sudah dua kali saya mendengarkannya memberikan sambutan khusus kepada kami. Pernah juga beberapa kali mengobrol ringan dengan kami dan senyumannya itu… (hehehe). Kata-kata sederhananya yang ia berikan membuat saya berurai air mata.

Saya bekerja ke luar kota, untuk melaksanakan TMC sebagai flight scientist yang bahkan hanya sebagian kecil orang saja yang mengetahui tugas para flight scientist. Sebenarnya pekerjaan ini gampang-gampang sulit namun tak bisa saya pungkiri kalau pekerjaan ini cukup menguras tenaga dan pikiran walaupun hanya duduk-duduk di Posko, lalu terbang mencari awan selama kurang lebih 1.5 – 2 jam lalu pergi ke hotel tinggal makan dan tidur. Kami berangkat ke posko jam 8:30 lalu pulang dan sampai hotel sekitar jam 17:00. Hal ini tentu terlihat lebih enak jika dibandingkan dengan pekerjaan saya di kantor. Pagi-pagi setelah sembahyang subuh sekitar jam 5 kurang, saya langsung berangkat ke stasiun dengan menggunakan kendaraan umum. Sampai kantor jam 7:30 lalu dikantor hanya duduk-duduk depan leptop mengerjakan hal yang perlu dikerjakan. Pulang jam 4 sore sampai rumah adzan magrib berkumandang. Dari segi biaya pun jika dinas pengeluaran lebih sedikit, tapi membuat kangen berat sama keluarga. Sungguh jika saya ingin mengeluh, rasa capek ini sangat terasa.

Tadi pagi, Pak Kadisops berpamitan karena dipindahtugaskan ke Jakarta. Raut mukanya terlihat sabar dan ramah namun tegas. Apa yang beliau ucapkan di pertemuan terakhir di ruangan rapat berukuran 5×10 meter sama seperti yang ia ucapkan ketika menyambut kami. Di awal sambutannya, ia sempat menyinggung kalau beliau berasal dari Kebumen sama seperti pak Korlap kami. “Saya sama asalnya sama pak Korlap, dari Kebumen. Tapi saya di Kampungnya”. Kampung bukan sembarang kampung. Pak Kadisops pernah berkata kalau Google pun belum mengenal kampung nya tersebut. Bahkan Pak Korlap kami yang menghabiskan masa sekolahnya hingga SMA di sana pun tak mengenal nama kampung Pak Kadisops. “Walaupun saya dari Kampung, saya bangga bisa menggunakan pesawat canggih, keliling Indonesia, berkenalan dengan orang-orang dari seluruh Indonesia”. Dari perkataanya saya seharusnya bersyukur dengan melakukan pekerjaan ini, saya bisa berkenalan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda dengan saya dan belum tentu orang yang berlatar belakang sama dengan saya bisa naik pesawat bersama TNI AU, dan melihat langsung pesawat-pesawat keren.

“Bergesekan itu wajar, memang sakit tapi akan selalu diingat”

Beliau mengingatkan kita walaupun ada perbedaan pendapat dalam pekerjaan itu wajar bahkan sampai sakit hati. Tapi hal tersebut dapat memberikan pelajaran bagi kita dan akan selalu diingat. Yang perlu kita lakukan adalah memaafkan dan tetap menjalin silaturahmi.

“Kita ini pengabdi kepada negara untuk kepentingan masyarakat umum, orang banyak, untuk bangsa dan negara, itu berarti ibadah. Semakin kita ikhlas dengan pekerjaan yang banyak maka semakin banyak pahala yang kita dapat dari Tuhan. Dibanding dengan pekerjaan sedikit tetapi tidak ikhlas”

Kata-kata inilah yang membuat saya tertegun dan terpukul. Apa yang telah saya lakukan selama lebih dari 10 hari ini. Sia-sia. Hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Kalau saja saya ikhlas sejak awal, karena ini untuk kepentingan orang banyak agar mereka tidak menghirup asap lagi, agar lahan-lahan tidak terbakar lagi, agar air-air hujan masuk ke badan air dan dimanfaatkan oleh khalayak umum. Muka saya memerah terasa hingga ke kelenjar air mata, hingga akhirnya tak dapat saya bendung lagi. Air mata pun menetes di sudut mata saya. Buru-buru saya hapus agar tak malu dilihat orang. Tapi tak bisa, air mata berontak ingin keluar karena emosi. Hidung pun ikut-ikutan bereaksi dengan mengeluarkan air.

Pak Kadisops di Supadio ini orang baik, jarang saya temukan di tempat lain. Meskipun ia atasan, tapi ia tidak gila hormat, bahkan ia mengakui kalau ia berasal dari kampung antah berantah. Ia mau menyapa kami yang hanya menumpang di sini dan tidak berpangkat. Beliau tuan rumah yang sangat baik. Ia juga mengetahui jam pulang kami yang tak tentu karena ia menunggu kami hingga pulang yang tak jarang pulang jam 6 dari posko.

Kata terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan ketika berjabat tengan dengan beliau dan dibalas dengan senyuman berwibawa. Mungkin bapak tidak tahu kalau sepatah kata dari bapak berpengaruh terhadap saya dan Allah pasti yang membalasnya. Saya berharap bertemu bapak di lain waktu dan tempat.

Rembulan Merah di Khatulistiwa

Rembulan merah Khatulistiwa

Kau ajak aku menari-nari di atas Cakrawala

Bersama bintang-bintang bimasakti

Walau hanya sekali, berharap terulang kembali

 

Rembulan Merah Khatulistiwa

Kau rangkul awan bersama angin

Agar sang awan membiaskan cahaya

Membentuk halo menyejukan hati

 

Namun alam tak bisa diperangi

Kau di langit dan aku di bumi

Kau punya tawang mu sendiri

Ku punya tanah ku sendiri

 

Rembulan Merah Khatulistiwa

Ku harap bisa bertemu bulan depan

Menemani perjalanan malam

Melintasi relung langit Khatulistiwa

 

sumber ilustrasi: http://www.wnd.com/

Hujan, Tak Berarti Karena Hujan Buatan

“Hujan pak, tadi seeding disini ya?” kata pak asep yang sedang menyetir membawa kami menuju hotel di Jalan Jend. Basuki Rahmat, Palembang. Lalu saya, teman flight scientist, beserta koordinator lapangan dalam mobil hanya diam membisu…

Pertanyaan ini sebenarnya bukan pertanyaan pertama yang kami dengar. Paling tidak saya yang masih personel baru saja sudah beberapa kali mendengar pertanyaan itu dari orang-orang yang mengetahui kegiatan kami seperti supir, tukang bersih-bersih, tukang es, tukang angkut, dan tukang-tukang lainnya. Pertanyaan ini juga bukan pertanyaan yang sulit, hanya saja kami merasa sulit untuk menjelaskannya.

Saya langsung teringat dengan kejadian tadi siang di atas pesawat casa PK-PCT di ketinggian 9000 feet. Ketika itu, saya dan rekan flight scientist saya melihat awan yang lumayan besar walaupun ditemani oleh awan-awan stratus. Kami katakan lumayan karena hari ini air dalam awan masih bermalas-malasan untuk bertumbukan satu sama lain sehingga awan lama tumbuh besar. Jadi, kami putuskanlah awan “lumayan” tersebut untuk disemai. Jaraknya sekitar 10 nautical mile, namun setelah jarak kami dengan awan berkurang, kumpulan awan itu seperti disapu angin, menyebar dan menipis. Capten Adjie dan Co-pilot Wisnu dibuat bingung oleh awan tersebut. Kemana awan itu pergi?. Garam pun tak jadi dijatuhkan karena awan tak bisa disemai.

Beruntuntunglah, awan hilang satu, tumbuh beberapa gundukan awan. Casa Blanca pun meliuk-liuk diantara tumpukan awan untuk menebar butiran-butiran NaCl yang akan membantu proses penumbukan air di udara. Dibantu dengan angin dari tenggara yang akan meneruskan garam ke dalam awan. Segala potensi telah kita usahakan setelah itu, biarlah alam yang bekerja.

para penabur garam sedang menaburkan garam

Kembali lagi pada pertanyaan Pak Asep, setelah diam beberapa detik akhirnya koordinator lapangan kami angkat bicara. “Susah untuk menjelaskan apakah lokasi awan yang kami seeding akan sama dengan lokasi dimana hujan turun. Karena kita bekerja pada alam, dimana banyak ketidakpastian di sana” Banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan kami, apakah angin membawa awan tersebut ke tempat lain, atau memang awannya kurang potensial, atau Tuhan memang belum berkehendak.

Alhamdulillah akhir-akhir ini beberapa daerah di Sumatera Selatan diguyur hujan. Tadi pagi Pak Beny dari BMKG Palembang mengatakan adanya perbedaan arah angin dari lapisan 5000 feet dari arah tenggara dan 10 ribu feet dari arah barat sehingga terjadi “koyakan” massa udara di atas Provinsi Sumsel. Dengan kondisi tersebut, terdapat kemungkinan terbentuk awan-awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan. Kita tinggal lihat bagaimana awan-awan terbentuk nanti. Semakin siang, kumpulan awan pun mulai terbentuk, berharap di ketinggian 8000 feet nanti kami dapat melihat awan-awan potensial. Jika berhasil, dampak kemarau dapat berkurang, air mulai memasuki sungai-sungai, danau, embung-embung, tanah yang kering sehingga dapat diserap oleh tanaman-tanaman, titik api dapat dipadamkan, dan asap kebakaran hutan dapat dihindari. Ayo kita terbang!