Mencuci Otak dari Pengalaman “Buka-bukaan Dunia Tambang”

20160428002503

Cover buku Buka-bukaan Dunia Tambang

Judul: Buka-bukaan Dunia Tambang
Penulis: Peserta Sustainable Mining Bootcamp Newmont
Penerbit: Pastel Books (Dist. Mizan Media Utama)
Tebal: 190 halaman
Tahun: 2016

Pagi itu saya sangat bersemangat untuk berangkat ke Batu Hijau, Sumbawa Barat dimana saya akan diperkenalkan dengan dunia tambang. Saya pastikan bahwa segala kebutuhan saat saya di Sumbawa telah masuk ke dalam dua ransel berukuran sedang. Ini akan menjadi perjalanan tak terlupakan, pikir saya. Karena saya sendiri belum tahu sama sekali mengenai tambang secara langsung paling tidak seluruh indera saya belum pernah merasakannya. Yang saya tahu hanya opini-opini yang ada di publik. Tanpa tahu kebenarannya saya pun ikut-ikutan menghakimi tambang.

Sebelum ini, saya hanya berpendapat bahwa tambang itu merusak alam. Bagaimana bisa orang-orang dengan seenaknya menggali perut bumi yang terbentuk dalam proses yang sangat panjang. Pada awalnya berupa gunung-gunung nan indah, kini menjadi lembah. Sebelumnya kaya akan keanekaragaman hayati, kini hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan pun terusir dari habitat aslinya. Selain berdampak kepada lingkungan, aktivitas tambang nantinya juga akan merusak sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Hal pertama yang kedua mata saya lihat ketika memasuki kawasan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) adalah kepedulian terhadap lingkungan yang sangat besar. Segala macam markah yang menandakan pentingnya menjaga lingkungan terpampang di setiap sudut jalan. Ternyata, PTNNT juga memperlakukan kawasan bekas tambang dengan sebaik-baiknya dan mengembalikan segala sesuatunya seperti sebelum ditambang terutama dari segi keanekaragaman hayati.

Tak hanya di kawasan inti pertambangan saja, tetapi di sebagian besar kawasan Sumbawa Barat mendapat perhatian dari PTNNT ini. Seperti yang telah ditulis oleh partisipan-partisipan Newmont Bootcamp dalam buku Buka-bukaan Dunia Tambang. Beberapa dari mereka sangat terkesan akan keindahan alam yang tetap terjaga di kawasan tambang. Primadonanya adalah Pantai Maluk. Di sinilah kali pertama kami diajak ke pantai di kawasan Sumbawa Barat. Seperti yang diulas oleh Barry Kusuma, selain pantainya yang indah dan bersih, ada yang memanjakan lidah kita ketika datang ke Pantai Maluk yaitu dendeng pedas bernama Rarit. Rasanya yang pedas-pedas asam tidak dapat dilupakan oleh pengunjung Pantai Maluk. Selain Pantai Maluk ada pula pantai Rantung, Tropical, Lawar, dan Teluk Benete yang keindahan pantainya yang jarang saya temukan di garis pantai Pulau Jawa.

DSC_9565.JPG

Keindahan alam harus tetap terjaga (difoto oleh Lalu Budi K)

 

Rasa penasaran saya tentang tambang tidak hanya sampai di situ. Saya masih ingin melihat langsung bagaimana isi perut bumi dikeruk, lalu diangkut, diolah, dan yang paling penting adalah bagaimana sampah dari tambang dibuang. Soal sampah ini dibahas oleh Fajri Satria Hidayat yang berkesempatan langsung untuk melihat bagaimana buangan tambang dibuang. Buangan itu bernama tailing yang berasal dari proses ekstraksi mineral berharga dari batuannya. Saya sempat lihat pipa tailing yang besar dengan diameter mencapai 1,12 meter sehingga tubuh saya pun masuk ke dalam pipa yang mengalirkan buangan hingga 120.000 ton/hari. Semua sampah itu dibuang ke laut dengan metode Deep Sea Tailing Placement. Tentunya metode ini diterapkan dengan proses perhitungan yang akurat sehingga air laut di Teluk Senunu tidak tercemar. Pemantauan pun terus dilakukan secara berkala agar tidak terjadi kebocoran yang dapat merusak alam bawah laut.

Menjelajah pertambangan dalam beberapa hari saja sebenarnya tidak cukup, apalagi saya baru pertama kali ke sini. Perlu informasi lebih mendalam mengenai kehidupan di sekitar tambang yang sudah merasakan perubahan yang terjadi dengan kehadiran PTNNT. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi kami terjun langsung ke masyarakat yang disekitar tambang. Seperti yang ditulis Denny Reza Kamarullah dalam Buka-bukaan Dunia Tambang, bahwa masyarakat sekitar tambang terutama Sekongkang, Jereweh, dan Maluk telah mengidap penyakit Dutch Disease. Penyakit ini umumnya terjadi di negara-negara yang memiliki sumberdaya alam dan mineral yang melimpah seperti Indonesia. Karena sangat ketergantungan, maka jika sumber ekonomi mereka hancur, tak ada lagi yang bisa mereka andalkan.

Pada saat di desa Sekongkang, saya sempat bertanya-tanya dengan salah satu penduduk asli Sekongkang yang sedang mengantre membeli minyak tanah. Bapak paruh baya tersebut dengan menggebu-gebu menyalahkan PTNNT kurang “memanjakan”masyarakat sekitar. “Lihatlah anak-anak kami tidak diterima untuk bekerja di sana (Newmont)”. Tetapi, ketika saya bertanya bahwa suatu saat nanti Newmont akan benar-benar tutup, apa yang akan mereka lakukan? Bapak itu hanya diam seribu bahasa menerawang hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Dalam hal ini, kolaborasi antar pemerintah dan PTNNT sangat diperlukan untuk keberlanjutan hidup masyarakat sekitar. Lalu peran pemerintah atau Newmontkah yang belum dijalankan dengan optimal?

20150123_075804

Keberlanjutan kehidupan masyarakat sekitar menjadi taruhannya (dok. Pribadi)

Selepas kami mengelilingi dunia tambang selama seminggu, ternyata banyak orang-orang yang menganggap kita telah dicuci otaknya. Yang baik-baiknya kita bawa pulang, yang jelek-jeleknya kita berikan ke PTNNT untuk perbaikan seperti yang ditulis oleh Dhanang Puspita. Adella Adiningtyas pun harus berdebat sengit tentang tambang dengan kawan-kawan kampusnya. Itu hal yang wajar, karena kita mendapatkan pelajaran yang baru tentang dunia tambang. Mungkin saya juga akan berdebat dengan pandangan negatif jika saya belum pernah melihat, mendengar, dan merasakan dunia tambang itu sendiri. “Biarlah orang-orang berkata kami dicuci otaknya, tapi di sana memang kami mencuci otak kami sendiri-sendiri dari bayang-bayang keburukan dan akhirnya kami menemukan sisi baiknya” kata Dhanang.

Buku yang diterbitkan oleh Pastel Books ini memang dibuat untuk mengumpulkan cerita-cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi peserta kegiatan Newmont Bootcamp. Lebih dari 20 orang penulis dari berbagai latar belakang menuliskan berdasar pemikirannya masing-masing. Ada yang berlatar belakang mahasiswa, blogger, dosen, guru, fotografer, dan lain-lain. Hal ini membuat buku Buka-bukaan Dunia Tambang memiliki warna yang berbeda di setiap tulisannya. Gaya tulisan yang naratif membuat buku ini menjadi ringan untuk dibaca semua kalangan.

_MG_1461.JPG

Merasakan langsung apa yang ada di pertambangan (dok. pribadi)

Sayangnya, buku dengan konten yang bagus ini tidak diimbangi tampilan memanjakan visual yang cukup di setiap tulisan sehingga pembaca dapat merasakan langsung keadaan yang sesungguhnya di kawasan Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat. Padahal, beberapa artikel membeberkan keindahan-keindahan alam yang ada di Batu Hijau. Tulisan ini akan lebih dinikmati pembaca jika terdapat foto dokumentasi yang menyertainya.

Terdapat juga istilah-istilah asing baik itu dalam dunia pertambangan maupun di luar itu yang tidak dijelaskan secara detail misalnya kata floatation dan smelter. Seharusnya diberikan catatan kaki atau glosarium untuk memberikan penjelasan singkat untuk istilah tersebut. Selain itu, untuk melengkapi artikel diberikan deskripsi singkat mengenai penulis sehingga pembaca mengetahui latar belakang penulis yang beragam.

Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca yang belum pernah melihat dan merasakan langsung kawasan pertambangan khususnya di PT Newmont Nusa Tenggara. Pembahasanya lengkap mulai dari aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial serta pengalaman menarik mulai dari naik haul truck yang tingginya mencapai 7 meter hingga merasakan segarnya air terjun Perpas. Buku ini akan memberikan pandangan baru terhadap dunia tambang berdasarkan pengalaman para peserta Newmont Bootcamp. Yuk, cari tahu selengkapnya dalam buku ini dan rasakan pengalaman menariknya!

DSC_8020

Wawasan baru tentang dunia tambang (difoto oleh Lalu Budi K)

 

Resensi Sebuah Novel “Ayah”

 

Ayah, seseorang yang setiap orang memilikinya namun tak semuanya memiliki sifat yang sama. Setiap orang juga memiliki pandangan yang berbeda tentang Ayah atau bahkan tak punya pandangan sama sekali karena tak sempat mengenal pribadinya. Ayah, Bapak, Apa, Babeh, Abi, Baba, dan apapun panggilannya memang sudah menjadi goresan takdir yang tidak dapat kita tolak keberadaannya. Bahkan Ayah menjadi garis kuat dalam meneruskan identitas keluarga kepada anak-anaknya. Oleh karena itu nama ayah sering disisipkan dalam nama anaknya baik itu hanya nama belakang, nama keluarga, atau disambung dengan bin atau binti. Itulah pentingnya ayah.

“Ayah” itulah judul sebuah novel dari Andrea Hirata. Entah novelnya yang keberapa tapi inilah novel ke 5 karya putra Belitong ini yang telah saya baca setelah sebelumnya tetralogi Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Jujur, saya memang tak memburu karya Andrea Hirata, tapi nama Andrea Hirata-lah yang pertama kali saya sebut jika ditanya penulis novel Indonesia favorit saya. Saya senang dengan tutur kata melayu yang ia rangkai dalam setiap baris kalimat dalam novelnya. Karya seni seperti puisi, pantun, sajak, dan karya seni tulis lainnya melantun indah setiap bab dalam lebaran-lembaran kertas yang ia tulis. Pokoknya enak dibaca.

Mungkin saya tidak membahas diksi yang digunakan, susunan kalimat, induksi, deduksi, atau yang lainnya yang saya tidak mengerti dan tidak memiliki pengetahuan di dalamnya. Tapi saya akan cerita sekilas tentang isi cerita, kekurangan dan kelebihan dari novel ini. Tentu saja dengan sudut pandang saya, tidak mesti semua orang menganggapnya sama.

Dari sampul bergambar siluet seorang ayah yang sedang menunjuk arah dengan seoran anak memegang gulali berlatar keramaian dominan berwarna jingga seolah-olah sedang berada di tengah keramaian pasar malam. Di sampingnya terdapat sepeda dan sepasang balon. Tak tahu apa makna yang ingin disampaikan oleh sang ilustrator sampul, namun memberikan kesan hubungan ayah dan anak yang penuh misteri namun membahagiakan. Hehehe

Tidak seperti novel Andrea yang saya baca sebelumnya, pada awalnya Andrea memaparkan dua cerita di bab-bab pertama secara bergantian yang satu tentang kisah cinta seorang pemuda dan yang satunya tentang hubungan ayah dan anak. Di bab-bab selanjutnya, Andrea mulai memusatkan pada satu alur cerita kemudian memunculkan cerita baru lagi yang nantinya akan saling menyambung. Cerita cinta seorang pemuda kemudian berkembang dan menjadi alur utama cerita dan ternyata masih berhubungan dengan cerita hubungan ayah dan anak. Pokoknya seperti itu…

Dalam novel ini diceritakan tentang rasa kasih sayang seorang anak kepada ayahnya, dan rasa cinta ayah kepada anaknya. Meskipun Zorro (si anak) bukan anak kandung Sabari (ayah), tapi Sabari sangat mencintainya. Hingga suatu ketika Ayah dan anak tersebut harus dipisahkan ketika Zorro masih sangat kecil, paling tidak ketika ia belum bisa menyimpan memorinya lebih lama tentang Ayahnya. Sabaripun sangat kacau dan bisa dibilang hampir gila. Bayangkan saja, ia telah menunggu selama 8 tahun lebih hanya untuk meninabobokan Zorro, mengajaknya bermain, mendongeng, dan kegiatan menyenangkan lainnya yang pernah mereka lalui. Sabari mau melakukan apa saja asalkan anaknya dapat kembali.

Beruntunglah Sabari memiliki sahabat yang care dengan dirinya. Ukun dan Tamat pun mencari Zorro beserta ibunya ke seantero Sumatera, mulai dari Aceh, Riau, Bengkulu, Lampung, pokonya keliling pulau Sumatera. Apakah Ukun dan Tamat berhasil? Apakah Sabari dan Zorro akan kembali bersama? Bagaimana usaha Sabari demi bertemu kembali dengan anaknya? Bagaimana dengan kisah cinta Sabari dan Marlena, apakah mereka akan disatukan? Yuk, tinggal beli novelnya di toko buku. Hehehe

Ada beberapa kalimat dalam novel yang membuat saya agak risih membacanya, yaitu banyak kalimat yang copy-paste meskipun kalimat tersebut dimaksudkan sebagai lelucon. Selain itu, ada pula penjelasan yang berliku-liku misalnya seperti si A tahu dari si B yang punya kakak si C, bersepupu dengan si D dan seterusnya…. meskipun dimaksudnkan untuk lelucon. Cukup lucu namun terlalu berlebihan menurut saya karena full satu lembar bolak balik bahkan lebih. Saya saja tidak sanggup membaca paragraf tersebut sampai habis. Biasanya saya lewatkan bagian berlika-liku tersebut.

Kelebihan dari novel ini adalah karakteristik Andrea Hirata sebagai penulis yang senang dengan karya seni puisi. Diceritakan pula bahwa tokoh dalam novel memang senang membuat puisi. Tentunya sangat menyenangkan membaca setiap bait puisi yang ditulisnya. Ah… saya pernah mendengar kutipan dalam sebuah film hollywood kalau puisi tidak pernah gagal dalam merayu wanita. Dan salah satu contoh kisahnya pun ada di dalam novel ini. Selamat membaca.

Saga no Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)

Kemiskinan tidak menjadikan ia malu ataupun sedih. Itulah yang menjadi prinsip nenek Osano. Menurutnya, ada dua jalan dalam menjalani kemiskinan, yaitu miskin dengan muram atau miskin dengan ceria. “Kita ini miskin yang ceria” begitulah katanya.

Akihiro Tokunaga yang merupakan anak dari ibu dan ayah yang sederhana. Mereka tinggal di Hiroshima. Keluarganya harus mengungsi ke Saga dimana nenek tinggal karena situasi perang yang sedang berlangsung hingga bom atom jatuh di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Bom ini pula yang menyebabkan ayah Akihiro meninggal karena radiasi yang kuat yang diakibatkan oleh bom tersebut.

Akihiro tinggal di Hiroshima bersama ibunya. Karena ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ibunya berinisiatif untuk menitipkan anaknya di Saga bersama neneknya. Kepindahan Akihiro ke Saga tidak diketahui oleh dirinya, secara diam-diam bibi dan ibunya mengatur rencana sedemikian hingga Akihiro sampai di Saga.

Pertama kali melihat rumah nenek saja sudah enggan untuk tinggal disana. Rumahnya sungguh sangat bobrok, bahkan ia belum pernah melihat neneknya sekalipun. Namun, saat melihat neneknya ia langsung kaget karena tidak seperti dugaannya, neneknya sangat cantik seperti ibunya. Tak ada basa basi, nenek pun langsung mengajarkan Akihiro bagaimana caranya menanak nasi dengan kayu bakar, karena nenek harus bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah dan harus berangkat pagi-pagi sekali.

Tak sampai disitu saja, Akihiro pun dikagetkan dengan kebiasaan-kebiasaan nenek yang tidak biasa. Pertama, rumah nenek yang terletak di pinggir sungai memberikan berkah tersendiri. Nenek menaruh galah di pinggir sungai sehingga berbagai sayuran dan buah buahan menyangkut disana. Kenapa? Karena di hulu sungai terdapat pasar, biasanya mereka mencuci sayur dan buah disana, sehingga pasti ada buah atau sayur yang terhanyut kemudian dimanfaatkan oleh nenek. Ia menyebut sungai itu sebagai supermarket pribadi yang langsung diantar. “Timun yang bengkok pun, kalau dipotong-potong lalu diberi garam, namanya tetap timun”

Kemudian, ada beberapa kisah lucu lainnya, seperti saat Akihiro masuk sekolah dasar, ia ingin megikuti latihan bela diri kendo (jenis beladiri dari Jepang yang menggunakan pedang kayu)

“Nek, hari ini aku melihat latihan kendo”

“Hmm”

“Keren sekali deh”

“oh, bagus itu”

“aku juga mau ikut latihan kendo”

“ya sudah lakukan saja”

“sungguh, kalau kau mau kenapa tidak?”

Lalu Akihiro menjelaskan bahwa ia harus membeli macam-macam alat dan biaya pendaftaran

“Butuh uang ya?”

“ya butuh dong”

“kalau begitu batalkan saja”

Keesokan harinya ia meminta ijin juga untuk mengikuti yudo, namun karena masih membutuhkan uang, nenek bilang “Lupakan saja”. Dan nenek menyarankan agar Akihiro lari saja

“yaa karena lari tidak membutuhkan peralatan dan tempatnya gratis” begitu katanya. Tetapi, dengan kesungguhannya dalam berlari, Akihiro sering menjuarai lomba lari di sekolahnya, ia yang tercepat.

Pernah suatu hari di musim dingin, Akihiro merasa sangat lapar. Lalu ia bilang kepada nenek tentang rasa laparnya itu, dan nenek menjawab “itu hanya perasaan mu saja”. Akihiro mengangguk. Kemudian jam 11 malam ia harus bangun dan membangunkan nenek. “kayak nya aku benar-benar lapar deh” lalu nenek menjawab “ahh, itu hanya mimpi, kau sedang bermimpi”. Akihiro mengangguk dan melanjutkan tidurnya.

Akihiro tidak mempunyai uang untuk jajan, kadang ia sangat iri terhadap temannya yang suka membeli permen di sana. Karena ingin mencicipi, lantas ia berkata pada temannya

“bagaimana rasanya?”

Lalu temannya memberikannya pada Akihiro, tak lama kemudian

“kembalikan”

Lalu Akihiro memberikannya, lalu berkata lagi

“bagaimana rasanya?”

“kan tadi sudah kau coba”

“aku lupa bagaimana rasanya”

Tanpa berkata lagi, temannya pun memberikanya. Hal tersebut berlangsung berulang-ulang sehingga kedua belah pihak setuju akan bergantian selama sepuluh detik sekali. Namun, Akihiro menghitungnya lebih cepat dari temannya.

“Tokunaga-san, kok menghitungnya cepat sekali”

“Ah, biasa saja ko”

Meskipun mereka miskin, namun nenek pernah membelikan sepatu spike seharga 10.000 yen. Karena pada saat itu Akihiro sebagai kapten baseball yang baru akan bertanding. Pada malam hari, akihiro memberitahukan bahwa ia akan bertanding esok hari,lalu nenek langsung saja mengambil uang simpanannya lalu berkata

“Akihiro, nenek beli sepatu atletik dulu ya”

“Nenek, walaupun pergi sekarang juga, tokonya sudah tutup bukan?”

“Tidak, kapten harus punya sepatu Spike”

Sesampainya di toko, benar saja tokonya sudah mau tutup. Penjual di toko sepatu tersebut sedang memasukkan sepatu-sepatunya ke dalam.

“Sepatu Spike paling mahal satu” kata nenek,

Lalu dengan kaget, penjual toko pun mengambilkan sepatu spike yang paling mahal

“Nah, sepatu ini harganya 2.250 yen” kata penjual,

“Saya mohon, harganya 10.000 yen saja ya” kata nenek

“Mana bisa begitu”

Kemiskinan yang dialami oleh nenek tidak menjadikannya jadi meminta-minta. Segala peluang ia manfaatkan agar dapat makan. Bahkan ia harus menyangkutkan magnet dengan tali di pinggangnya agar besi-besi kecil menyangkut di magnet tersebut kemudian dapat dijual. Dan hasilnya lumayan.

Berikut beberapa kutipan tips hidup ala nenek Osano

  • Saat kita dibenci, berarti kita menonjol diantara yang lain
  • Nilai rapor apapun, asal bukan nol tidak masalah, kalau dijumlahkan pun hasilnya akan sempurna
  • Kebaikan sejati dantulus adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui oleh orang yang menerima kebaikan
  • Pelit itu payah! Hemat itu jenius!
  • Berhentilah mengeluh “panas” atau “dingin”. Musim panas berhutang pada musim dingin, begitu pula sebaliknya
  • Saat jam dinding berputar ke kiri, orang akan menganggapnya rusak dan membuangnya. Manusia pun tidak boleh menengok ke belakang, teruslah maju dan maju, melangkah ke depan
  • Hiduplah miskin mulai dari sekarang! Bila sudah kaya kita jadi berplesir, jadi makan sushi, jadi buat kimono,. Hidup jadi kelewat sibuk.
  • Jangan terlalu rajin belajar. Bisa-bisa nanti jadi kebiasaan
  • Sampai mati, manusia harus punya mimpi! Kalaupun tidak terkabul, bagaimanapun itu kan cuma mimpi
  • Orang pintar maupun orang bodoh, orang kaya maupun orang miskin, lima puluh tahun ke depan akan sama-sama tua.

Image

Keterangan buku

Judul: Saga no Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)

Pengarang: Yoshichi Shimada

Tahun: 2001

Penerjemah: Indah S. Pratidina

Penerbit: Kansha books

Harga: Rp. 48.000,-

Matilda

Buku ini merupakan salah satu karya favorit bagi anak-anak seluruh dunia dari Roald Dahl, yang diilustrasikan oleh Quentin Blake, dan sudah pernah diangkat ke dalam film dengan judul yang sama.
Matilda Wormwood merupakan anak yang luar biasa cerdas yang selalu dianggap remeh oleh kedua orang tuannya Mr dan Mrs Wormwood. Ia juga memiliki seorang kakak laki-laki bernama Michael Warmwood. Kemampuan otak Matilda sungguh luar biasa bahkan ia dapat berbicara dengan lancar pada saat umurnya satu setengah tahun. Saat umurnya menginjak tiga tahun, ia mulai belajar membaca secara otodidak, dan lancar membaca saat umur empat tahun. Orang tuanya selalu melarang Matilda untuk belajar, bahkan saat Matilda menginginkan sebuah buku, ayahnya enggan untuk membelinya.
Mrs. Warmwood setiap hari selalu pergi untuk bermain bingo, semacam permainan lottre, sedangkan ayahnya bekerja di salah satu showroom mobil. Ayahnya ini merupakan pedagang mobil yang licik, ia memasukkan serbuk kayu ke mobil bekas yang ia beli agar suaranya tidak berisik dan ia mengecat ulang mobilnya agar terlihat seperti baru. Karena harganya tergolong murah jika dibanding mobil baru, maka banyak orang yang membeli mobil Mr. Warmwood. Tapi, mobil bobrok yang dioles ulang itu hanya bertahan beberapa saat saja. Sehingga para pelanggannya marah.
Matilda tidak ingin diam saja dalam kegalauannya karena tidak mengerjakan apa-apa. Lantas ia pergi keperpustakaan dekat rumahnya saat seluruh keluarganya pergi beraktivitas. Penjaga perpustakaan itu bernama Mrs. Phelps sangat baik sekali kepada Matilda. Sejak itu, Matilda sudah membaca semua buku anak-anak yang ada di perpustakaan. Ia pun mulai membaca buku-buku orang dewasa meskipun kadang bahasanya tidak dapat ia mengerti.
Saat Matilda berumur lima tahun, ia di sekolahkan oleh orang tuanya di dekat rumah. Ia di tempatkan di kelas terendah layaknya anak yang baru masuk sekolah. Guru di kelas itu adalah Miss Honey, ia sangat baik sekali terhadap anak anak. Miss Honey menyadari akan kemampuan belajar Matilda yang luar biasa dan ia berniat untuk memberi tahu kepala sekolah agar menaikkan Matilda ke kelas yang sesuai dengan kemampuannya.Tetapi, Miss Trunchbull tidak mau melakukannya.
Miss Trunchbull merupakan kepala sekolah yang sangat galak, bahkan ia berani menjungkir balikkan siswa-siswi nya. Meskipun anak-anak melapor kepada orang tuanya, namun tetap tidak percaya dengan apa yang telah Miss Trunchbull lakukan. Jadi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Jika sesorang berani berusan dengan Miss Trunchbull maka ia akan dihukum seberat-beratnya sampai monster itu puas. Bahkan dengan badannya yang besar, ia dapat melempar salah satu siswanya karena makan permen di kelas.
Matilda sangat dekat dengan Miss Honey, ia menceritakan semua yang ia ketahui dan menanyakan yang tidak ketahui. Sampai pada akhirnya, Matilda merasa seperti mempunyai kekuatan untuk menggerakkan suatu benda yang ada di hadapannya. Awalnya Miss Honey tidak percaya namun saat Matilda menunjukkannya ia tidak bisa menyangkalnya.
Kekuatannya tersebut digunakan untuk menolong Miss Honey dalam melawan Miss Trunchbull yang ternyata merupakan bibi nya yang mengambil harta warisan dai mendiang ayahnya. Matilda menggunakan kekuatannya di depan Miss Trunchbull untuk menggerakan kapur agar dapat menulis di papan tulis dengan sendirinya, seolah-olah ayah Miss Honey menghantui Miss Trunchbull.
Akhirnya, Miss Honey mendapatkan apa yang seharusnya ia peroleh dan Matilda pun tinggal bersama Miss Honey karena orang tuannya memutuskan untuk pergi ke luar negeri agar dapat lari dari kejaran pelanggannya yang kecewa terhadap Mr. Warmwood.

Totto-Chan : The Little Girl at The Window

Cerita ini berasal dari kehidupan nyata si pengarang buku Tetsuko Kuroyanagi. Totto-chan (nama panggilan waktu kecil) merupakan anak yang selalu ingin tahu. Keingintahuannya yang sangat besar membuat dirinya harus dikeluarkan dari sekolah pertamanya. Hanya beberapa minggu saja bertahan di sekolah dasar pertamanya itu, guru kelasnya sudah tidak tahan menghadapi Totto-chan. Mama Totto-chan sengaja tidak memberi tahu Totto-chan bahwa ia telah dikeluarkan dari sekolahnya, ia hanya bilang “kita akan pergi ke sekolah baru”.

Cover Novel Totto-chan

Setibanya disekolah yang baru, Totto –chan langsung jatuh cinta pada sekolah tersebut. gerbangnya terbuat dari tanaman yang tumbuh dan ada plang nama sekolanya yaitu TOMOE GAKUEN. Setelah masuk ke gerbang sekolah barunya, ia lebih terkesima lagi karena kelasnya berupa kerbong kereta. Totto-chan semakin tidak sabar untuk bersekolah disana. Saat bertemu kepala sekolahnya pun ia langsung percaya padanya. Setidakknya kepala sekolah mau mendengarkan cerita anak tersebut hingga 4 jam non-stop.
Kebiasaan-kebiasaan yang ada di Tomoe lah yang membuat Totto-chan merasa betah. Anak-anak diperbolehkan memilih pelajaran yang mereka sukai terlebih dahulu, makan siang bersama di aula dengan menu “sesuatu dati laut dan sesuatu dari pegunungan”, bebas memilih tempat duduk, dan lain-lain yang tidak sama seperti sekolah formal biasanya. Ada beberapa teman Totto-chan menyandang cacat, seperti Yasuaki-chan yang menderita polio dan Takahashi-chan yang pertumbuhannya terhenti, tetapi sekolah Tomoe tidak melihat perbedaan itu justru mengistimewakannya. Disekolah Tomoe, anak-anak diharuskan memakai baju usang karena kemungkinan baju itu akan kotor bahkan robek-robek.
Kepala sekolah- Sosaku Kobayashi- adalah orang yang berperan penting dalam keberlangsungan sekolah ini. Mr. Kobayashi adalah orang yang menghargai anak-anak bahkan ia mau melakukan apa saja untuk anak-anak. Metode yang dipakai dalam mengajarpun berbeda dengan yang lain, seperti metode Euritmik yang ia pelajari dari Eropa yang diciptakan oleh Emile Jaques-Dalcroze. ia membiarkan anak-anak belajar dengan alam, dan ia selalu mendengar semua keluhan anak-anak. Kepala sekolah ingin melatih anak-anak agar berani menatap masa depat seperti yang diinginkan.
Totto-chan adalah anak yang memiliki rasa ingi tahu yang tinggi. Setiap ia melihat figur baru yang menarik baginya, ia akan ;langsung bilang pada mamanya bahwa ia ingin menjadi seperti itu. Misalnya saja suatu hari ia melihat penyanyi jalanan, lalu ia langsung mengatakan pada mamanya kalau sudah besar ia ingin jadi penyanyi jalanan, atau saat ia ke stasiun ia melihat penjaga karcis yang memiliki banyak karcis. Baju Totto-chan pun sering robek-robek hingga ke celana dalamnya karena ia sering menyusup kedalam dengan cara menggali lubang dibawah pagar berduri dan pastilah bajunya tersengkut oleh kawat pagar. Totto-chan juga tertarik dengan hal baru atau sesuatu yang ia temukan di jalan, seperti pada saat ia melihat koran tergeletak di halaman sekolahnya kemudian ia ingin lompat ke atas koran, ternyata koran itu untuk menutupi lubang septictank yang sedang diperbaiki agar tidak bau, alhasil Totto-can masuk ke dalam lubang yang bau dan kotor, dan ia tidak mengangis. Totto-chan juga memiliki jiwa sosial yang tinggi, menyayangi binatang, dan peduli terhadap temannya.
Suatu hari, totto-chan berkata pada kepala sekolah jika sudah dewasa nanti ia kan menjadi guru di Tomoe Gakuen, “aku berjanji”.

The Boy in The Striped Pyjamas

Pertama kali malihat buku ini, saya langsung pengen beli. Tapi, karena lagi ngga punya duit jadi, saya suruh temen ku aja yang beli, nanti saya pinjem. Hehehe. Yang penting kan kita tau isi ceritanya. Buku ini dikarang oleh John Boyne pada tahun 2006 dan merupakan novel dewasa. Kalo kita beli buku pasti lihat sampul belakangnya dulu supaya tau ringkasan ceritanya. Tapi, ngga di buku ini. So, mari kita lihat ringkasan cerita yang saya buat.
Dalam buku ini menceritakan tentang kehidupan pada masa penguasaan Adolf Hitler. Seorang anak kecil bernama Bruno ialah anak seorang komandan pada masa itu. Ia tinggal di Berlin, Jerman bersama ayah, ibu, dan kakak perempuannya Gretel. Bruno sangat senang tinggal di rumahnya di Berlin yang memiliki llima lantai dan dapat melihat pemandangan yang indah di loteng atas. Ia pun memiliki sahabat bernama Martin, Daniel, dan Karl. Hingga suatu saat ayahnya mengajak makan malam The Fury (sebutan untuk Hitler dari kata Der Führer yaitu pemimpin yang memegang kekuasaan penuh, sedangkan The Fury adalah kemurkaan) di rumahnya. Dan ia ditugaskan di suatu tempat yang jauh.
Bruno tidak menyukai tempat barunya. Rumahnya kini hanya memiliki tiga lantai dan ukurannya lebih kecil. Yang lebih parah lagi, ia tidak memiliki teman main yang dulu ia punya di rumahnya yang lama. Bruno tidak mungkin mengajak bermain Gretel, karena menurutnya, kakaknya tersebut sangat payah, selalu mengganggu Bruno, serta mengejeknya. Tak ada yang menarik dari rumah tersebut, sama sekali. Di kamarnya ia bisa melihat pagar kawat yang sangat tinggi dan di seberangnya banyak anak laki-laki, bapak-bapak, dan kakek-kakek yang berkeliaran disana memakai piyama bergaris. Ada beberapa pondok kecil yang mereka tinggali.
Ia memiliki pengasuh bernama Maria yang dibawa dari rumahnya dulu di Berlin. Maria sangat baik terhadap Bruno meskipun sangat pendiam. Di rumahnya yang baru ini, Bruno memiliki juru masak bernamam Pavel. Ia menolong Bruno saat jatuh dari ayunan yang ia buat sendiri dari ban bekas. Ternyata, Pavel itu seorang dokter, atau bisa dibilang bekas dokter. Ia terjebak dalam dunia di balik pagar dengan orang berpiyama.
Sampai pada titik kebosanannya yang paling tinggi, Bruno memutuskan untuk berpetualang. Ia menyusuri jalan depan rumahnya, taman, dan akhirnya sampai di depan pagar kawat. Disana ia menemukan seorang anak kecil yang kurus dan kotor yang memakai baju piyama bernama Shmuel. Shmuel dan Bruno memiliki tanggal lahir yang sama, yaitu 15 April 1934. Sejak saat itu, Brumo selalu mengunjungi Shmuel pada sore hari dan memutuskan untuk membawa sedikit makanan untuk Shmuel, dan sejak saat itu pula Bruno mulai melupakan kehidupannya di Berlin.
Ia sudah berinteraksi bersama Shmuel selama kurang lebih setahun, mereka saling bertukar cerita. Karena Shmuel, sekarang ia tahu bahwa sekarang ia tinggal di Polandia, bukan di Jerman.
Hingga pada suatu saat, ibu Bruno memutuskan untuk mengajak kembali anaknya ke Berlin. Sebetulnya Bruno sangat sedih karena harus meninggalkan Shmuel. Tetapi ia tidak bisa menolak ajakan ibunya itu. Ada sedikit hasrat untuk kembali ke kehidupan lamanya. Pada pertemuan sore yang sudah beratus-ratus kali sejak bertemu Shmuel, Bruno memiliki ide untuk memasuki wilayah bagian seberang pagar. Sepertinya itu bukan ide yang bagus, tapi apa salahnya ia bermain bersama sahabat yang sudah ia kenal setahun terakhir ini.
Tiba saatnya pada sore terakhir ia bertemu Shmuel, ia dipinjami baju piyama bergaris oleh Shmuel. Bruno merangkak lewat bawah pagar kawat, dan ia tidak menyangka akan seperti ini. Sersan-sersan berkata-kata kasar dan semua orang berpiyama menunduk dengan dalam dan tampak sedih. Awalnya Bruno ingin berbalik tetapi Shmuel menagih janjinya untuk membantunya mencari Papa nya yang hilang beberapa hari lalu. Jadi, Bruno pun harus menepatinya. Setelah setengah jam mencari, para serdadu meniupkan peluit dan menyuruh agar para tahanan berbaris. Hujan turun begitu lebat. Bruno terjebak dalam barisan dan saat ia akan kembali, ia terdorong oleh orang-orang berpiyama itu, kedalam sebuah ruangan yang lebih hangat dari suhu di luar. Keadaan menjadi gelap saat terdengar suara pintu tertutup. Bruno saling berpegangan tangan dengan Shmuel.

Cover Buku

Setelah kejadian tersebut, ayah<ibu, termasuk Gretel mencari Bruno. Hingga akhirnya mereka menemukan pakaian Bruno tergeletak di dekat pagar. Ayahnya membayangkan apa yang terjadi pada adaknya setahun yang lalu, tepat saat Bruno menghilang. Dan ia jatuh berlutut di tanah dengan membayangkan apa yang terjadi.
Yang terjadi adalah NAZI melakukan pembantaian massal dengan memasukkan mereka ke dalam sebuah ruangan yang diisi dengan gas beracun agar mereka tidak merasa iba saat melakukan pembantaian tersebut. klik link ini http://www.ushmm.org/wlc/id/article.php?ModuleId=10005144
Jadi, yang terjadi pada Bruno, Shmuel, dan orang-orang berpiyama lainnya adalah, mereka telah terbunuh pada saat pembantaian massal di Auschwitz.

Sang Pemimpi

I just already read this book titled “Sang Pemimpi” or means “The Dreamer”. This book adapted to the theater with same title. I think the book is better than the movie. Unfortunately i watched the movie first and read the book then. But, both are interesting.
In the first page of the book, there’s a sentence that showed the book was dedicated for, typed “ for my father Seman Said Harun, the only number one father in the world”.
Ikal has best friends named Arai and Jimbron. I think, the dreamer here is Arai. He has inspired me so much. Arai is “Simpai Keramat”, means he has no family member left. His parent was died, until Ikal’s father (Seman Said Harun) and Ikal came to pick up Arai to stay in their home. Arai is a sturdy boy, he’s never feels so sad. A thing that he always do is dreaming. He never doubt about the miracle of dream. Arai ever said that “without a dream and spirit, people like us will die”. He will make dreams and pin them as high as he want. Although a lot of lack on him, but he never gives up. This boy will do anything for makes people around him happy and smile at him. Especially, Jimbron and Ikal always shocked by his surprises. We can’t guess his mind, what he think, this is how the dreamer see the world. There’s always something new that he shared to his friends.
A wise man said “there’s a will, there’s a way”, if we have a faith, we will achieve it. we have to remind that God will always love us what ever we are. He always helps us whenever we need if we always remember him and put his name in your heart.

Cover

Makna Kasih dari Sudut Pandang Anak-anak

Tulisan-tulisan ini berasal dari buku karya Charles C. Manz dengan judul EMOTIONAL DISCIPLINE: The Power to Choose How You Feel yang diterjemahkan oleh Aloysius Rudi Purwanta.

Charlie, 5 tahun
Kasih adalah perasaan nyaman pertama yang kamu rasakan sebelum hal-hal buruk terjadi.

Rebecca, 8 tahun,
Ketika nenekku menderita radang sendi,ia tidak dapat membungkuk dan mengecat kaki kukunya lagi. Jadi, kakek ku yang selalu melakukan hal-hal itu untuk nenekku bahkan saat tangan-tangannya mederita radang sendi.

Samantha, 6 tahun
Kasih adalah ketika seseorang menyakitimu. Kamu sangat marah, tapi kamu tidak membentaknya karena kamu tahu itu akan melukai perasaan mereka.

Chrissy, 6 tahun
Kasih adalah ketika kamu keluar rumah untuk makan dan memberikan sebagian kentang gorengmu kepada seseorang tanpa berharap mereka membalasnya.

Teri, 4 tahun
Kasih adalah apa yang membuatmu tersenyum saat kamu lelah.

Nikka, 6 tahun
Jika kamu ingin mengasihi lebih baik, mulailah dengan mengasihi orang yang kamu benci.

Bobby, 5 tahun
Kasih adalah segala yang ada di ruangan itu bersama kamu pada hari natal jika kamu berhenti membuka kado dan mendengarkan.

Matthew, 7 tahun
Kamu berpikir saat kamu memberitahukan sesuatu yang buruk tentang dirimu dan kamu takut mereka tidak menyayangimu lagi. Tapi kamu terkejut karena mereka masih menyayangimu, bahkan lebih sayang.

Mary Ann, 4 tahun
Kasih adalah saat anjingmu menjilati wajahmu walau kamu telah meninggalkannya sendirian dirumah sepanjang hari.

Lalu, apa arti kasih bagi mu?